Adsense Indonesia

Rabu, 20 Oktober 2010

PERANAN FREE SEX DALAM PENULARAN HIV AIDS(disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah epidemiologi kesehatan)


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Penyakit HIV/AIDS tumbuh dan berkembang lewat jalur ini ( free sex), karena memang penyebaran virus ini paling efektif melalui kontak fisik (hubungan kelamin).Meskipun ada penyebab lainnya tetapai lewat free sex lah yang paling efektif dalam penyebaran virus penyakit tersebut.
Sampai akhir tahun 1996 saja, WHO memperkirakan orang yang terinfeksi HIV/AIDS mencapai 30 juta orang dan mereka yang meninggal sebanyak 6,4 juta orang. WHO mencatat penderita terbanyak ditemukan di Amerika Serikat, yaitu 581.429 orang, disusul Brazil sebanyak 103.262 orang, Tanzania 82.174 orang, Thailand 59.782 orang, dan Prancis 45.395 orang.
Di Afrika yang diperkirakan 1000 anak anak terinfeksi HIV/AIDS setiap hari nya, setelah dilakukan penelitian ternyata kebanyakan orangtua mereka adalah penganut free sex.
Di Asia tidak ada Negara selain Thailand yang tercatat sebagai kasus yang banyaknya melebihi sepuluh ribu kasus. Setelah itu disusul india sebanyak 3000, Myanmar sebanyak 1.882 kasus, dan jepang sebanyak 1.557 penderita.
Di Eropa terutama di Perancis, tercatat jumlah penderita paling banyak yaitu 45.395 orang, melewati Spanyol yaitu 45.132 orang, kemudian disusul Italia yaitu 38.148 orang, Jerman sebanyak 16.138 orang, dan Inggris tercatat sebanyak 14.082. Di Negara yang membebaskan free sex memang tercatat banyak angka yang menunjukan penderita HIV/AIDS.
Brasil juga menyimpan penderita AIDS paling banyak, 103.262 penderita, dibandingkan Negara Amerika latin lainnya, seperti meksiko 29,962 penderita dan Argentina 10.461 penderita. Kanada secara resmi melaporkan ada 14.436 penderita AIDS clan Australia melaporkan 7.033 kasus.
Sedangkan di Negara kita, dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya, bahkan hingga September 2009 saja telah menembus angka 18.442 kasus di 300 kabupaten atau kota dan 32 provinsi di Indonesia [data dari P2PL].
Rate kasus Aids secara nasional sampai dengan 30 September adalah per 8,15 per 100 ribu penduduk (dengan berdasarkan data BPS penduduk Indonesia sebesar 227.132.350 jiwa) dengan ODHA yang meninggal tercatat 20,1 persen.
Kasus Aids tertinggi terdapat di provinsi Papua (17,9 kali angka nasional), Bali (5,3 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,8 kali angka nasional), Kep. Riau (3,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,2 kali angka nasional), Maluku (1,8 kali angka nasional), Papua Barat (1,3 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,4 kali angka nasional), Riau (1,0 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) DI Yogyarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) [data dari BPS dan P2PL].


B. RUMUSAN ISI MAKALAH
Rumusan isi makalah ini mengungkapkan tentang peranan free sex dalam penyebaran penyakit HIV/AIDS, teori dasar tentang hubungan antara keduanya, fakta, hasil penelitian, dan metode penelitian yang dilakukan,dari desain penelitiannya sampai defenisi operasional nya.



C. MANFAAT DARI PEMBUATAN MAKALAH
Manfaat dari pembuatan makalah ini sebagai bahan referensi mengenai hubungan, pengaruh dan peranan yang di timbulkan dari adanya free sex terhadap penyakit HIV/AIDS. Yang dimana kita bisa mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini hingga cara arau upaya pencegahan sehingga bisa melakukan tindakan sedini mungkin untuk menghambat atau memutus rantai penularan dan pencegahan penyakit tersebut..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Free Sex
Sex bebas atau yang sering dikenal dengan istilah Free sex, adalah hubungan sexual yang dilakukan pra nikah atau bergonta ganti pasangan. Sex bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku.
Faktor factor yang menyebabkan Sex bebas karena adanya pertentangan dari lawan jenis, adanya tekanan dari keluarga dan teman bagi anak remaja. Dari tahun ke tahun pelaku Sex bebas terus meningkat, telah dilakukan penelitian di kecamatan hamparan perak pada remaja, dan hasilnya dari hanya 5% pada tahun 1980 an pada tahun 2000 an meningkat menjadi 20%, ini perkembangan yang cukup besar yang terjadi di hanya tingkat kecamatan, belum tingkat nasional. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang gambaran Seks bebas itu sendiri, telah dilakukan pula penelitian yang menggunakan kuesioner yang diajukan responden dengan jumlah sampel 98 reesponden di daerah tersebut, dan hasilnya yang terlibat pergaulan bebas 80,9% sedangkan sisanya mengetahui tentang informasi Seks bebas.


B. Pengertian HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia virus ini terus bertambah banyak hingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak sanggup lagi melawan virus yang masuk.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut. Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan kekebalannya oleh karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Akibatnya penyakit-penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi bahaya bagi tubuh. “slowly but deadly“, pelan tapi mematikan itulah julukan yang saya berikan untuk virus penyakit yang satu ini. HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan bagi manusia, bahkan hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasi penyakit yang menyerang sistem kekebalan manusia itu. Pengobatan hanya akan membantu Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) untuk hidup lebih lama tetapi penyakit AIDS sendiri belum dapat disembuhkan tetapi dapat ditekan jumlah HIV dengan obat antiretroviral (ARV).
Para peneliti dari Northwestern University bahwa wabah AIDS berawal dari Afrika bagian barat tengah sekitar tahun 1930, beberapa dasawarsa lebih awal ketimbang dugaan sebelumnya. Teori baru ini telah mencetuskan pengamatan sejarah pada peristiwa yang belum dikaitkan dengan penyebaran HIV, seperti pembangunan rel kereta api di Afrika di awal abad ke-20. Lantas apa hubungannya dengan HIV?..
Sebuah simulasi komputer yang rumit mengenai evoiusi HIV telah memperkirakan bahwa 1930 adalah tahun awal. Ketika itu pemerintahan kolonial Prancis di Afrika bagian barat melakukan kerja paksa untuk mem¬bangun rel kereta api. Karena para pekerja itu kekurangan makanan, diduga mereka berburu binatang liar di hutan dan tertular HIV dari primata yang mereka makan.
Rel kereta api Kongo-Samudera juga ditempatkan dekat kasus HIV pertama, di kota Kinshasa. Peristiwa sejarah lainnya, pengembangan kebun binatang dan penangkapan simpanse yang menggigit, mungkin juga menjadi faktor dalam penyebaran HIV (Chicago Tribune, 31 Januari 2000). Sementara itu, menurut sumber lain, penyakit maut tersebut didiagnosa pertama kali pads tahun 1980.
AIDS sendiri adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yakni penyakit rontoknya kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), yaitu virus HTLV-III (Human T-Cell Lymphotropic Virus-111, ditemukan tahun 1980), yang menyerang sel darah putih lymphocyte T-4. Setelah sel T-4 ini digempur HTLV-III, organisms racun (toxoplasma) berkembang, menyusup ke dalam tubuh lewat peredaran darah, lantas memproduksi bisul bernanah di otak, paru-paru, jantung, hati, dan limpa. Selanjutnya, proses ini mengakibatkan matinya jaringan sel, kista, dan berbagai kerusakan sel-sel otak.
Dengan rontoknya sistem kekebalan tubuh, maka berbagai penyakit yang menyerbu tubuh penderita, pasti bakal susah untuk disembuhkan. Flu ringan sekalipun bisa menjadi penyakit mematikan buat para penderita AIDS. penyakit “ecek-ecek” itu makin lama makin menggerogoti tubuh penderita clan ujung¬-ujungnya bisa berakhir dengan kematian. Jadi, bila ada yang menderita flu terus-terusan (nggak sembuh-sembuh) disertai munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh, badan makin kurus kering, lidah berjamur, gemetaran, diare terus-terusan, demam, ber¬keringat di waktu malam, kelelahan di sekujur tubuh, sulit menelan dan bicara, napas tersengal-sengal, hati¬-hati, itu gejala AIDS. Tapi itu akan dialami setelah 5 sampai 10 tahun setelah positif terserang HIV. Jadi yang sekarang kelihatan sehat-sehat saja, belum tentu tidak terserang AIDS.
Perbedaan HIV dan AIDS
Orang yang baru terpapar HIV belum tentu menderita AIDS. Hanya saja lama kelamaan sistem kekebalan tubuhnya makin lama semakin lemah, sehingga semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Pada tahapan itulah penderita disebut sudah terkena AIDS.
Cara Penularan HIV
• Melalui cairan vagina atau sperma
• Seks yang sering bergonta ganti pasangan
• Penyimpangan seksual seperti: seks pra nikah, pelacuran dan homoseksual
• Penggunaan jarum suntik bersama dari orang yang sudah terinfeksi HIV
• Transfusi darah yang terkontaminasi dengan virus HIV
• Dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya

Orang yang terinfeksi HIV biasanya dapat hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit. Mereka mungkin tampak sehat dan merasa sehat tetapi dapat menularkan virus pada orang lain.

Perjalanan Infeksi HIV/AIDS
Pada saat seseorang terkena infeksi virus AIDS maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus masuk kedalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela. Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat HIV. Pada tahap HIV+ ini maka keadaan fisik ybs tidak mempunyai kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja seperti biasa. Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini ybs sudah aktif menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah.
Sejak masuknya virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan menggerogoti sel darah putih (yang berperan dalam sistim kekebalan tubuh) dan setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi seperti misalnya infeksi jamur, virus-virus lain, kanker dsb. Penderita akan meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut.
Di negara industri, seorang dewasa yang terinfeksi HIV akan menjadi AIDS dalam kurun waktu 12 tahun, sedangkan di negara berkembang kurun waktunya lebih pendek yaitu 7 tahun.
Setelah menjadi AIDS, survival rate di negara industri telah bisa diperpanjang menjadi 3 tahun, sedangkan di negara berkembang masih kurang dari 1 tahun. Survival rate ini berhubungan erat dengan penggunaan obat antiretroviral, pengobatan terhadap infeksi oportunistik dan kwalitas pelayanan yang lebih baik.
Pola infeksi secara global, sekitar 90% kasus HIV/AIDS ada Di Negara berkembang.


C. Hubungan dan Peranan Free sex dalam Penularan HIV/AIDS

Berdasarkan beberapa penelitian, AIDS paling efektif menyebar lewat hubungan seks. Baik antara laki-laki dan wanita, maupun yang abnormal, homoseksual dan lesbian. Celakanya, saat ini seks bebas sedang menjadi primadona. Kebebasan bergaul telah menjadi pintu gerbang penyebaran AIDS. Dan korban AIDS dari kalangan pelaku seks bebas ini memang paling banyak, Mereka sangat rentan alias berisiko tinggi terkena penyakit ganas ini. termasuk pelaku seks menyimpang, yakni para homoseks dan lesbian (studia edisi 022/Tahun I tentang gay dan lesbian).
Di “jalur” ini, penyebaran AIDS juga cukup efektif, Di beberapa penjara di Amerika, Sering dibuat repot dengan ulah para napi yang melakukan hubungan seks abnormal ini. Bahkan, fakta menunjukkan AIDS mudah menyebar di kalangan para napi yang homoseks.
Bicara seks bebas, memang bukan monopoli anak sekarang aja. Sejak dulu, yang namanya seks bebas, baik yang dilegalisasi melalui “bisnis” pelacuran maupun liar sudah marak. Bersamaan dengan itu, muncul pula penyakit menular seksual (PMS), yang ngqak kalah garang dari AIDS–seperti sifilis, gonorhoe, vietnam rose–dan bahkan para pelakunya orang-orang ngetop di zamannya. seperti gerombolan Columbus, Julius Caesar dan Cleopatra VII, Raja Charles V, Charles V, Raja Henry VIII, lalu Edward VI, Peter Agung, Katarina Agung, hingga Benito Mussolini, Napoleon Bonaparte, dan Adolf Hitler adalah tokoh-tokoh dunia yang terkenal sebagai penderita penyakit kotor sifilis dan gonorhoe. Itu dulu, sekarang, bisa ditunjuk hidung rombongan “selebritis” Hollywood macam Brad Davis, Rock Hudson, Fredy Mercury, Tony Richardson, dan Ian Charleson, Brur, mereka menemui ajal dihantam AIDS...
Pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan free sex dengan HIV/AIDS. Dia mengemukakan pada tahun 1999, dalam beberapa bulan terakhir, sampai dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanya–selaku spesialis penyakit dalam–biasanya 1¬2 orang dalam satu bulan. Dia juga menambahkan bahwa dalam tiga minggu pertama bulan November 1999, menemukan 13 kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan sembilan di antaranya orang orang yang “menyembah” free sex.
Dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya, bahkan hingga September 2009 saja telah menembus angka 18.442 kasus di 300 kabupaten atau kota dan 32 provinsi di Indonesia [data dari P2PL].
Rate kasus Aids secara nasional sampai dengan 30 September adalah per 8,15 per 100 ribu penduduk (dengan berdasarkan data BPS penduduk Indonesia sebesar 227.132.350 jiwa) dengan ODHA yang meninggal tercatat 20,1 persen.
Kasus Aids tertinggi terdapat di provinsi Papua (17,9 kali angka nasional), Bali (5,3 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,8 kali angka nasional), Kep. Riau (3,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,2 kali angka nasional), Maluku (1,8 kali angka nasional), Papua Barat (1,3 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,4 kali angka nasional), Riau (1,0 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) DI Yogyarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) [data dari BPS dan P2PL].
Maka, dari data data tersebut kita dapat menarik beberapa alasan mengapa penyebaran HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi, yaitu :
• Meluasnya pelacuran
• Peningkatan hubungan seks pra nikah (sebelum menikah) dan ekstra marital (di luar nikah seperti melalui pelacuran)
• Prevalensi penyakit menular seksual yang tinggi
• Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
Dan dapat disimpulkan bahwa fre sex mempunyai peran sangat berpengaruh dalam penyebaran HIV/AIDS, meskipun ada sebab lain seperti penggunaan jarum suntik yang tidak steril, tranfusi darah dari orang yang telah terkena HIV/AIDS, dari ibu hamil yang mengenai janinnya, dll, tetapi jika kita lihat angka angka kasus, data data dan penelitian yang telah ada dan dijelaskan diatas, Free sex sangat berberan dalam kaitannya dengan persebaran HIV/AIDS.










BAB III
METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan diperlukan suatu strategi yang akan berperan sebagai pedoman atau penuntun penelitian pada seluruh proses penelitian, dan karena penelitian ini bersifat pengujian hubungan antara Free sex dan HIV/AIDS, maka kami menggunakan Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian ini membandingkan kelompok kasus dan kelompok control berdasarkan status paparannya. Pemilihan subjek berdasarkan status penyakitnya, apakah mereka menderita (group kasus) atau tidak (group control) untuk kemudian dilakukan amatan apakah subjek mempunyai riwayat terpapar atau tidak
B. Populasi dan Sampel
I. Populasi
Kasus
Kelompok dengan kondisi,Semua pengidap HIV/AIDS yang telah tercatat di kota Jakarta, terpajan dan tidak terpajan 100 orang
Kontrol
Kelompok tanpa kondisi, terpajan dan tidak trpajan 100 orang
II. Sampel
Dasar pendidikan orang orang yang akan menjadi sampel ada yang tidak sekolah, tidak lulus SD, SMP, SMU, akademi, Perguruan Tinggi. Jenis kelamin Laki laki dan Perempuan.Bekerja, pengangguran, siswa, dan mahasiswa. Status menikah dan belum menikah.
III. Teknik Sampling
Teknik Sampling yang dipilih yaitu Simple Random Sampling, karena cara ini bersifat random (Probability Sampling), sehingga setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel. Setiap bagian populasi yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya tetapi menyediakan populasi parameter, mempunyai kesempatan menjadi sampel yang representative.
Untuk mencapai sampling ini, setiap elemen diseleksi secara random (acak). Membuat frame kecil, nama ditulis di secarik kertas, di letakkan dikotak, diaduk dan diambil secara acak acak, karena ingin mengambil 60 sampel dari 200 populasi yang tersedia, maka secara acak akan diambil 60 sampel melalui pengambila nomor yang telah ditulis.

C. Variabel Penelitian
Yaitu karasteristik yang dimiliki oleh subjek yang berbeda dengan yang dimiliki kelompok tersebut, disini variabl termasuk (dependent variable) atau variable yang nilainya ditentukan oleh variable lain, yaitu HIV/AIDS yang nilainya nanti ditentukan oleh Free sex
D. Defenisi Operasional
Karena perlunya mendapatkan data yang akurat diperlukan desain dan pengumpulan data yang tepat. Pengumpulan data disini dilakukan dengan cara wawancara langsung person dengan person, pengumpulan data berhadapan langsung dengan sumber informasi, data diperoleh langsung dari sumber utamanya, dengan wawancara yang terstruktur, dengan pertanyaan pertanyaan yang telah disiapkan sebelum dilangsungkannya wawancara.




E. Tempat dan Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada:
Tempat :Balai Pengobatan kota,jalan moh hatta no 192
Condet Jakarta
Hari/tanggal :21 Januari 2010
Waktu :09.00 sd selesai

Selasa, 19 Oktober 2010

MATERI RUMAH SAKIT


RUMAH SAKIT


KONSEP RS  - Jaman Arab Kuno dan sejarah Islam
- Budha di India
- Israel
(dr. yg ada bertindak sebagai pendeta dan
Pemahaman kekuatan magis ).

Evolusi Konsep
RS Modern  berdasarkanKeimanan, Kemanusian, sosial Tahun 325

Kejayaan Kerajaan  Kaidah RS Modern
Asoka di India - prinsip Sanitasi
273 – 233 SM - Pembedahan Seksio Sesaria
- Penempatan 1 orang dokter untuk
10 desa

ROMA  - Berkembang khusus dikalangan
militer
- Rumah sakit Kristen

ARAB  - Masa Nabi Muhamad Sistem
( Bagdad, Kairo perumahsakitan yg modern dibentuk
Damaskus) dgn baik.
Abad ke 6 - telah dibangun RS Jiwa
- Data klinik dicatat dan dikumpulkan
utk pendidikan kedokteran

Tahun 1929  Kongres RS Internasional yg pertama




Hospital  kata Latin HOSTEL ( tempat bagi para
Pengungsi yg sakit , menderita dan miskin
 Kata latin HOSPITIUM ( tempat /ruangan
utk menerima tamu ) / Willan 1990
 kata Perancis kuno dan medieval English yg
didefinisikan sbb :
- Tempat utk istirahat dan hiburan
- Institusi sosial utk mereka gmembutuhkan akomodasi, lemah dan sakit
- Institusi sosial utk pendidikan dan kaum muda
- Institusi utk merawat yg sakit dan cedera

Definisi Rumah Sakit

1. RS adalah suatu organisasi yg melalui tenaga medis profesional terorganisir serta sarana kedokteran yg permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran ,asuhan keperawatan, yg berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yg diderita oleh pasien ( American Hospital Association ; 1974 ).

2. RS adalah salah satu sistem kesehatan yg paling kompleks dan
Paling efektif di dunia ( Rowland & Rowland 1984 )

3. RS adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima
Pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik utk mahasiswa kedokeran , perawat, dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya ( Wolper dan Pena 1987 ).

4. RS adalah intitusi pelayanan kesehatan yg menyelenggarakan
Pelaynan kesehatan perorangan secara paripurna yg menyediakan pelayanan rawat ianp, rawat jalan dan gawat darurat ( UU No. ...tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. )

Milton Roemer dan Friedman menyatakan bahwa RS
setidaknya punya 5 ( lima ) fungsi sbb :

1. Harus ada pelayanan rawat Inap , dgn fasilitas dignostik dan
Terapeutiknya , termasuk pelayanan keperawatan, gizi, farmasi, laboratorium, Radiologi dsb.
2. Harus memeliki peleyanan rawat jalan
3. RS juga mempunyai tugas utk melakukan pendidikan &
Latihan
4. Harus melakukan penelitian
5. RS punya tanggung jawab utk program pencegahan penyakit
dan penyuluhan kesehatan bagi populasi disekitarnya.

KARAKTERISTIK ( SIFAT ) RUMAH SAKIT

1. Sebagian besar tenaga kerja  tenaga profesional
2. Tugas kelompok profesional lebih besar dibandingkan tugas kelompok manajerial
3. Beban kerja tidak bisa diatur
4. Jumlah pekerjaan dan sifat pekerjaan diunit kerja beragam
5. Hampir semua kegiatan bersifat urgent/penting
6. Pelayanan RS sifatnya sangat individualistis, setiap pasen harus dipandang sebagai individu yg utuh, aspek fisisk, mental, sosialkultural dan aspek spiritual harus mendapat perhatian penuh. Pelayanan tidak bisa diberikan secara kodian
7. Tugas memberikan pelayanan bersifat pribadi, pelayanan harus cepat dan tepat, kesalahan tidak bisa ditolerir
8. Pelayanan berjalan terus menerus 24jam / erhari akibatnya :
- Keharusan penyediaan tenaga yg selalu siap setiap waktu
- Keharusan adanya peralatan yg selalu siap ( listrik tdk boleh
padam
- Pengawasan yg terus menerus
- Harus selalu tersedia dana operasional setiap saat
- Pelayanan bersifat emergency harus segera dilakukan
PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT


KETENTUAN UMUM

1.Rumah Sakit Umum
RS yg memberikan pelayanan kesehatan yg bersifat dasar,
spesialistik dan suspesialistik.

2. Rumah Sakit Umum Pemerintah
RS umum milik Pemerintah baik Pusat, Daerah, Departemen
Pertahanan dan keamanan maupun Badan Usaha Milik
Negara.

3. Rumah Sakit Pendidikan
RS Umum Pemerintah kelas A dan Kelas B yg di
pergunakan sebagai tempat pendidikan tenaga medis oleh
Fakultas kedokteran

4. Klasifikasi RS Umum
Pengelompokan RS umum berdasarkan perbedaan tingka
tan menurut kemampuan pelayanan kesehatan yg dapat
disediakan.

5. Pelayanan Medis Spesialistis Dasar
Pelayanan Medis Spesialistis penyakit dalam, kebidanan &
Kandungan, Bedah dan kesehatan Anak.

6. Pelayanan Medis Spesialistis Luas
Pelayanan spesialistik dasar ditambah dgn pelayanan
Spesialistik Telinga hidung dan tenggorokan, Mata , Saraf,
Jiwa , Kulit & Kelamin Jantung, Paru , Radiologi, Anestesi,
Patologi Klinis, Patologi Anatomi, Rehabilitasi Medis dan
pelayanan speseialistik lain sesuai dgn kebutuhan.

7. Pelayayan Medis Subspesialistis Luas
Pelayanan subspesialistis disetiap spesialistis yang ada


M I S I , KEDUDUKAN , TUGAS , FUNGSI , KLASIFIKASI


1. RS Umum mempunyai misi memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2. Misi khusus RS Umum adalah aspirasi yg ditetapkan dan
ingin dicapai oleh pemilik rumah sakit.

3. Kedudukan RS umum ditentukan pada waktu penetapan
Organisasi dan tatakerja dari masing masing rumah sakit yg bersangkutan sesuai dgn peraturan perundang undangan yg berlaku.

4. RS Umum mempunyai tugas melaksanakan upaya
kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dgn
mengetumakan upaya penyembuhan dan pemulihan yg
dilaksanakan secara serasi dan terpadu dgn upaya
peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya
rujukan.

5. Untuk menyelenggarakan tugasnya Rumah Sakit Umum
Mempunyai fungsi :
a. menyelenggarakan pelayanan medis
b. menyelenggarakan pel. penunjang medis dan non medis
c. menyelenggarakan pel. Dan asuhan keperawatan
d. menyelenggarakan pelayanan rujukan
e. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
f. menyelenggrakan penelitian dan pengembangan
g. menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan

6. RS Umum Pemerintah Pusat dan Daerah diklasifikasikan
menjadi Rumah sakit umum kelas A ,B, C dan D

7. RS Umum sebagaimana pd butir 6 didasarkan pd unsur pelayanan, ketenagaan, fisik dan peralatan

8. RS Umum kelas A adalah RSU yg mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat ) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang medik, 12 (dua belas ) spesialis lain dan 13 (tiga belas ) subspesialis.

9. RS Umum kelas B adalah RSU yg mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4(empat)
spesialis dasar, 4 (empat ) spesialis penunjang medik, 8
(delapan ) spesialis lain dan 2 (dua ) sub spesialistis dasar

10. RS Umum kelas C adalah RSU yg mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik paling seikit 4( empat )
spesialis dasar dan 4 ( empat ) spesialis penunjang medik.

11. RS Umum kelas D adalah RSU yg mempunyai fasilitas dan
Kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 ( dua ) spsesialis dasar.









SUSUNAN ORGANISASI

I. Susunan Organisasi RS Umum kelas A terdiri dari :

1. Direktur yg dibantu oleh sebanyak banyaknya 4 wakil
direktur
2. Wadir Pelayanan Medis
3. Wadir Penunjang Medis
4. Wadir Pendidikan dan Penelitian
5. Wadir Umum & Keuangan
6. Komite Medis dan Staf Medis Fungsional (SMF )
7. Dewan Penyantun
8. Satuan Pengawasan Intern

II. Susunan Organisasi RS Umum kelas B terdiri dari :

1. Direktur yg dibantu oleh sebanyak banyaknya 3 wakil
direktur
2. Wadir Pelayanan Medis & Perawatan
3. Wadir Penunjang Medis dan Pendidikan
4. Wadir Wadir Umum & Keuangan
5. Komite Medis dan Staf Medis Fungsional (SMF )
6. Dewan Penyantun
7. Satuan Pengawasan Intern

III. Susunan Organisasi RSU Kelas C terdiri dari :

1. Direktur
2. Seksi Keperawatan
3. Seksi pelayanan
4. Sub Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis
5. Sub Bagian Keuangan dan Penyusunan Program
6. Instalasi
7. Komite Mesis dan Staf Medis Fungsional
8. Dewan Penyantun
9. Satuan Pengawas Intern

IV. Susunan Organisasi RSU Kelas D terdiri dari :

1. Direktur
2. Seksi pelayanan
3. Sub Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis
4. Sub Bagian Keuangan dan Penyusunan Program
5. Instalasi
6. Komite Mesis dan Staf Medis Fungsional


D I R E K T UR

Mempunyai tugas memimpin, menyusun kebijaksanaan
Pelaksanaan membina pelaksanaan, mengkoordinasikan dan
mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dgn
peraturan perundang undangan yg berlaku.



I N S T A L A S I

1. Instalasi merupakan penyelenggaraan pelayanan medis ,
penunjang medis , kegiatan penelitian, pengembangan,
pendidikan pelatihan dan pemeliharaan sarana rumah sakit
2. Instalasi dipimpin oleh seorang kepala dalam jabatan
nonstruktural
3 Jenis Instalasi disesuaikan dgn kelas dan kemampuan rumah
Sakit serta kebutuhan masyarakat.
4.Perubahan jumlah dan jenis Instalasi ditetapkan oleh
direktur sesuai dgn peraturan perundang undangan yg
berlaku.


KOMITE MEDIS

1.Komite Medis adalah kelompok tenaga medis yg Ke anggotaan
nya dipilih dari angota Staf Medis Fungsional
2.Komite Medis berada dibawah dan bertanggungjawab kepada
direktur.
3, Komite Medis mempunyai tugas membantu direktur menyusun
standar pelayanan dan memantau pelaksanaanya serta
melaksanakan pembinaan etika profesi, mengatur kewenangan
profesi anggota SMF serta mengembangkan program pelayanan
pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
4, Pembentukan Komite Medis RS milik Departemen Kesehatan
dite tapkan dgn keputusan Direktur Jendral Pelayayan Medis
atas usul direktur utk masa kerja 3 tahun.







STAF MEDIS FUNGSIONAL ( SMF )

1,SMF adalah kelompok dokter yg bekerja di Instalasi dalam
Jabatan fungsional.
2,SMF mempunyai tugas melaksanakan diagnosisi pengobatan,
pencegagahan akibat penyakit, peningkatan dan pemulihan
kesehatan, penyuluhan kesehatan, pendidikan dan pelatihan serta
penelitian dan pengembangan.
3,Dlam melaksanakan tugas SMF dikelompokan sesuai dgn
keahliannya
4, Kelompok dipimpin oleh seorang ketua yg dipilih oleh anggota
kelom pok utk masa bakti tertentu.
5,Utk RS kelas A dan B Pendidikan Ketua kelompok diangkat
Oleh Direktur Jendral Pelayanan Medik Dep.Kes.
6, Utk RS kelas B non pendidikan, C dan D diangkat oleh
Direktur



DEWAN PENYANTUN

1. Dewan Penyantun adalah kelompok pengarah/penasehat yg keanggotaan terdiri dari unsur Pemilik RS, unsur Pemerintah dan Tokoh masyarakat
2. Dewan Penyantun mengarahkan Direktur dalam melaksanakan Misi RS dengan memperhatikan kebijaksanaan yg ditetapkan oleh Pemerintah
3. Dewan Penyantun ditetapkan oleh Pemilik RS utk masa kerja 3 tahun

SATUAN PENGAWAS INTERN ( SPI )

1. SPI adalah kelompok fungsional yg bertugas melaksanakan pengawasan terhadap pengelolaan sumberdaya Rumah Sakit.
2. SPI dapat dibentuk pada Rumah Sakit kelas A, B dan RS Swadana
3. Spi ditetapkan oleh Direktur

KONSEP PERILAKU(ILMU KESEHATAN MASYARAKAT)


Konsep Perilaku

Sebelum kita membicarakan tentang perilaku kesehatan, terlebih dahulu akan dibuat batasan tentang perilaku itu sendiri. Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.

Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung.

Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia.

Hereditas atau faktor keturunan adalah adalah konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan adalah suatu kondisi atau merupakan lahan untuk perkembangan perilaku tersebut. Suatu mekanisme pertemuan antara kedua faktor tersebut dalam rangka terbentuknya perilaku disebut proses belajar (learning process).

Skinner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon) dan respons. Ia membedakan adanya 2 respons, yakni :

a. Respondent Respons atau Reflexive Respons

Adalah respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan-perangsangan semacam ini disebut eliciting stimuli karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap, misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat akan menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Pada umumnya perangsangan-perangsangan yang demikian itu mendahului respons yang ditimbulkan.

Respondent respons (respondent behaviour) ini mencakup juga emosi respons atau emotional behaviour. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakkan organisme yang bersangkutan, misalnya menangis karena sedih atau sakit, muka merah (tekanan darah meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang mengenakkan pun dapat menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa, berjingkat-jingkat karena senang dan sebagainya.

b. Operant Respons atau Instrumental Respons

Adalah respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme.

Oleh sebab itu, perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku yang telah dilakukan. Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan suatu perbuatan kemudian memperoleh hadiah maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain responnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.

Didalam kehidupan sehari-hari, respons jenis pertama (responden respons atau respondent behaviour) sangat terbatas keberadaannya pada manusia. Hal ini disebabkan karena hubungan yang pasti antara stimulus dan respons, kemungkinan untuk memodifikasinya adalah sangat kecil.

Sebaliknya operant respons atau instrumental behaviour merupakan bagian terbesar dari perilaku manusia dan kemungkinan untuk memodifikasi sangat besar bahkan dapat dikatakan tidak terbatas. Fokus teori Skinner ini adalah pada respons atau jenis perilaku yang kedua ini.

1.1 Prosedur Pembentukan Perilaku

Seperti telah disebutkan diatas, sebagian besar perilaku manusia adalah operant respons. Untuk itu untuk membentuk jenis respons atau perilaku ini perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut operant conditioning.

Prosedur pembentukan perilaku dalam operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut :
a. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer
berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi perilaku yang akan dibentuk.
b. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang
membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen
tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya
perilaku yang dimaksud.
c. Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-
tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing
komponen tersebut.
d. Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang
telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahnya
diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau perilaku (tindakan)
tersebut cenderung akan sering dilakukan. Kalau perilaku ini sudah terbentuk
kemudian dilakukan komponen (perilaku) yang kedua, diberi hadiah (komponen
pertama tidak memerlukan hadiah lagi), demikian berulang-ulang sampai
komponen kedua terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga,
keempat, dan selanjutnya sampai seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.

Sebagai ilustrasi, misalnya dikehendaki agar anak mempunyai kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur. Untuk berperilaku seperti ini maka anak tersebut harus :
a. Pergi ke kamar mandi sebelum tidur.
b. Mengambil sikat dan odol.
c. Mengambil air dan berkumur.
d. Melaksanakan gosok gigi.
e. Menyimpan sikat gigi dan odol.
f. Pergi ke kamar tidur.

Kalau dapat diidentifikasi hadiah-hadiah (tidak berupa uang) bagi masing-masing komponen perilaku tersebut (komponen a-e) maka akan dapat dilakukan pembentukan kebiasaan tersebut. Contoh tersebut di atas adalah suatu penyederhanaan prosedur pembentukan perilaku melalui operant conditioning.

Didalam kenyataannya prosedur ini banyak dan bervariasi sekali dan lebih kompleks dari contoh tersebut diatas. Teori Skinner ini sangat besar pengaruhnya terutama di Amerika Serikat. Konsep-konsep behaviour control, behaviour theraphy dan behaviour modification yang dewasa ini berkembang adalah bersumber pada teori ini.

1.2 Bentuk Perilaku

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons ini berbentuk 2 macam, yakni :

a. Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana.

Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behaviour).

b. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut overt behaviour.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung dan disebut covert behaviour. Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respons seseorang terhadap stimulus (practice) adalah merupakan overt behaviour.

2. Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan.

Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok, yakni respons dan stimulus atau perangsangan.

Respons atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan disini terdiri 4 unsur pokok, yakni sakit & penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan.

Dengan demikian secara lebih terinci perilaku kesehatan itu mencakup :

a. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap dan mempersepsi penyakit atau rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit atau sakit tersebut.

Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit, yakni :

- Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behaviour). Misalnya makan makanan yang bergizi, olah raga, dan sebagainya.

- Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behaviour) adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya tidur memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi, dan sebagainya. Termasuk perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

- Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behaviour), yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan, misalnya usaha-usaha mengobati sendiri penyakitnya atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern (puskesmas, mantri, dokter praktek, dan sebagainya), maupun ke fasilitas kesehatan tradisional (dukun, sinshe, dan sebagainya).

- Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behaviour) yaitu perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya melakukan diet, mematuhi anjuran-anjuran dokter dalam rangka pemulihan kesehatannya).

b. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatannya, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas, petugas dan obat-obatan.

c. Perilaku terhadap makanan (nutrition behaviour) yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi), pengelolaan makanan, dan sebagainya sehubungan kebutuhan tubuh kita.

d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behaviour) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri.

Perilaku ini antara lain mencakup :
- Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk didalamnya komponen,
manfaat, dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan.
- Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut segi-segi
higiene, pemeliharaan teknik, dan penggunaannya.
- Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair.
Termasuk didalamnya sistem pembuangan sampah dan air limbah yang sehat
serta dampak pembuangan limbah yang tidak baik.
- Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi,
pencahayaan, lantai, dan sebagainya.
- Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor) dan
sebagainya.

Menurut Ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu aksi atau reaksi organisme terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu.

Robert Kwick (1974) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap adalah hanya suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu objek, dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi objek tersebut. Sikap hanyalah sebagian dari perilaku manusia.

Didalam suatu pembentukan dan atau perubahan, perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, proses belajar, lingkungan, dan sebagainya.

Susunan saraf pusat memegang peranan penting dalam perilaku manusia karena merupakan sebuah bentuk perpindahan dari rangsangan yang masuk menjadi perbuatan atau tindakan. Perpindahan ini dilakukan oleh susunan saraf pusat dengan unit-unit dasarnya yang disebut neuron.

Neuron memindahkan energi-energi didalam impuls-impuls saraf. Impuls-impuls saraf indera pendengaran, penglihatan, pembauan, pengecapan dan perabaan disalurkan dari tempat terjadinya rangsangan melalui impuls-impuls saraf ke susunan saraf pusat.

Perubahan-perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda meskipun mengamati objek yang sama. Motivasi yang diartikan sebagai suatu dorongan untuk bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan, juga dapat terwujud dalam bentuk perilaku.

Perilaku juga dapat timbul karena emosi. Aspek psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani, yang pada hakekatnya merupakan faktor keturunan (bawaan). Manusia dalam mencapai kedewasaan semua aspek tersebut diatas akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan.

Belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan. Belajar adalah suatu perubahan perilaku yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku itu dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi 2, yakni faktor intern dan ekstern.

Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa perilaku merupakan konsepsi yang tidak sederhana, sesuatu yang kompleks, yakni suatu pengorganisasian proses-proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untuk melakukan responsi menurut cara tertentu terhadap suatu objek.

Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health related behavior) sebagai berikut :

a. Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya.

b. Perilaku sakit (illness behavior) yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seorang individu yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Termasuk disini kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut.

c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan / kesakitannya sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain terutama kepada anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya.

Saparinah Sadli (1982) menggambarkan individu dengan lingkungan sosial yang saling mempengaruhi didalam suatu diagram.

Keterangan :
a. Perilaku kesehatan individu; sikap dan kebiasaan individu yang erat kaitannya
dengan lingkungan.
b. Lingkungan keluarga; kebiasaan-kebiasaan tiap anggota keluarga mengenai
kesehatan.
c. Lingkungan terbatas; tradisi, adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat
sehubungan dengan kesehatan.
d. Lingkungan umum; kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang kesehatan,
undang-undang kesehatan, program-program kesehatan, dan sebagainya.

Setiap individu sejak lahir terkait didalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Dalam keterkaitannya dengan kelompok ini membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Oleh karena pada setiap kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan atau norma-norma sosial tertentu maka perilaku tiap individu anggota kelompok berlangsung didalam suatu jaringan normatif. Demikian pula perilaku individu tersebut terhadap masalah-masalah kesehatan.

Kosa dan Robertson mengatakan bahwa perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi oleh kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan dan kurang berdasarkan pada pengetahuan biologi. Memang kenyataannya demikian, tiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mengambil tindakan penyembuhan atau pencegahan yang berbeda meskipun gangguan kesehatannya sama.

Pada umumnya tindakan yang diambil berdasarkan penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain terhadap gangguan tersebut. Penilaian semacam ini menunjukkan bahwa gangguan yang dirasakan individu menstimulasikan dimulainya suatu proses sosial psikologis. Proses semacam ini menggambarkan berbagai tindakan yang dilakukan si penderita mengenai gangguan yang dialami dan merupakan bagian integral interaksi sosial pada umumnya.

Proses ini mengikuti suatu keteraturan tertentu yang dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian, yakni :

a. Adanya suatu penilaian dari orang yang bersangkutan terhadap suatu gangguan atau ancaman kesehatan. Dalam hal ini persepsi individu yang bersangkutan atau orang lain (anggota keluarga) terhadap gangguan tersebut akan berperan. Selanjutnya gangguan dikomunikasikan kepada orang lain (anggota keluarga) dan mereka yang diberi informasi tersebut menilai dengan kriteria subjektif.

b. Timbulnya kecemasan karena adanya persepsi terhadap gangguan tersebut. Disadari bahwa setiap gangguan kesehatan akan menimbulkan kecemasan baik bagi yang bersangkutan maupun bagi anggota keluarga lainnya. Bahkan gangguan tersebut dikaitkan dengan ancaman adanya kematian. Dari ancaman-ancaman ini akan menimbulkan bermacam-macam bentuk perilaku.

c. Penerapan pengatahuan orang yang bersangkutan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masalah kesehatan, khususnya mengenai gangguan yang dialaminya. Oleh karena gangguan kesehatan terjadi secara teratur didalam suatu kelompok tertentu maka setiap orang didalam kelompok tersebut dapat menghimpun pengetahuan tentang berbagai macam gangguan kesehatan yang mungkin terjadi.

Dari sini sekaligus orang menghimpun berbagai cara mengatasi gangguan kesehatan itu, baik secara tradisional maupun modern. Berbagai cara penerapan pengetahuan baik dalam menghimpun berbagai macam gangguan maupun cara-cara mengatasinya tersebut merupakan pencerminan dari berbagai bentuk perilaku.

d. Dilakukannya tindakan manipulatif untuk meniadakan atau menghilangkan kecemasan atau gangguan tersebut. Didalam hal ini baik orang awam maupun tenaga kesehatan melakukan manipulasi tertentu dalam arti melakukan sesuatu untuk mengaatasi gangguan kesehatan. Dari sini lahirlah pranata-pranata kesehatan baik tradisional maupun modern.

4 PRINSIP PELAYANAN DOKTER KELUARGA


1. Pengertian Pelayanan Dokter Keluarga :

* Pelayanan rawat jalan tingkat pertama (RJTP) bagi peserta Askes yang dilaksanakan pada dokter keluarga (dokter umum dan dokter gigi) yang menjadi provider PT Askes (Persero)

2. Jenis Pelayanan Dokter Keluarga :

* Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan
* Pemeriksaan dan Pengobatan oleh dokter
* Tindakan medis kecil (ringan)
* Pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana
* Pemeriksaan ibu hamil, nifas dan ibu menyusui, bayi dan anak balita
* Upaya penyembuhan terhadap efek samping kontrasepsi
* Pemberian obat pelayanan dasar dan pelayanan obat penyakit kronis atas indikasi medis
* Pemberian surat rujukan ke Rumah Sakit/Dokter Spesialis untuk kasus yang tidak dapat ditangani Dokter Keluarga

3. Prosedur Pelayanan Dokter Keluarga :

* Peserta bisa mendapatkan pelayanan Dokter Keluarga dengan menunjukkan Kartu Askes atau identitas lain dalam keadaan darurat
* Peserta mendapatkan pelayanan rawat jalan tingkat pertama di Dokter Keluarga dan peserta menandatangani bukti pelayanan
* Peserta bisa mendapatkan surat rujukan ke RS/Dokter Spesialis jika diperlukan pemeriksaan atau tindakan lebih lanjut yang tidak dapat ditangani oleh Dokter Keluarga
* Peserta dengan penyakit kronis bisa mendapatkan pelayanan termasuk resep obat kronis di Dokter Keluarga dengan membawa surat rujukan balik dari RS/Dokter Keluarga

4. Pelayanan Obat Dokter Keluarga :

* Pelayanan obat biasa atau obat kronis dapat diperoleh berdasarkan resep Dokter Keluarga
* Pelayanan Obat Biasa : resep obat dapat diambil di Apotek provider atau dapat diberikan langsung oleh Dokter Keluarga apabila dalam wilayah tersebut tidak ada Apotek atau lokasi Apotek jauh dari Dokter Keluarga, Jumlah obat yang diberikan maksimal untuk 7 (tujuh) hari
* Pelayanan Obat Kronis : diambil dengan menunjukkan surat rujukan balik dari RS/Dokter Spesialis kepada Dokter Keluarga, Jumlah obat yang diberikan maksimal untuk 30 (tiga puluh) hari

Jumat, 06 Agustus 2010

Konsep Dasar IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat)


KONSEP DASAR
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

A. BATASAN DAN RUANG LINGKUP
Sebagai cabang ilmu kedokteran, ilmu kesehatan masyarakat dalam pembahasannya hanya mencakup ilmu kedokteran pengobatan untuk masyarakat, tetapi juga mencakup aspek pencegahan, peningkatan ksehatan umumnya, pemulihan kesehatan fisik dan mental serta sosial di masyarakat.
Dengan demikian Ilmu Kesehatan Masyarakat membahas keadaan/kejadian (phenomena) dan berbagai segi kehidupan sosial individu maupun masyarakat yang ada kaitannya dengan kesehatan individu/masyarakat yang bersangkutan.
Pembahasan ilmu kesehatan lebih luas dari pada pembahasan ilmu Kedokteran, kesehatan mencakup kebutuhan pokok dari kehidupan individu/masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut, upaya kearah itu dipengaruhi oleh banyak faktor sosial (WHO). Sehingga untuk mencapai keadaan “sehat” tersebut, banyak unsur kesejahteraan lainnya ikut berpengaruh.
Menurut sejarah perkembangannya, ilmu kesehatan bermula Dari cara pemeliharaan kesehatan/pengobatan yang berdasarkan kepercayaan bahwa “penyakit adalah kutukan dari tuhan dan para dewa”. Pada tahap permulaan ini pengobatan juga berdasarkan pemikiran primitive tersebut, yaitu pengobatan secara kuno atau tradisional. Tahap ini disebut juga “Primitive Consept”.
Sejalan dengan pertumbuhan budaya manusia dan teknologi, maka muncul kemudian yang berdasarkan konsep-konsep pelopor/perintis ilmu kedokteran modern, diantaranya:
• Hippocrates (460-370 SM) dengan menggunakan pendekatan observatif menemukan cara-cara pengobatan secara ilmiah yang sampai hari ini masih dianut metodanya. Dengan penemuan tersebut beliau dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran.
• Anthony van Leeuwen hoek (1632-1723) merintis perkembangan mikroskop berlensa satu. Dengan alat tersebut ia menemukan protozoa dan spermatozoa.
• John snow (1813-1912 ) memperdalam ilmu yang kini disebut epidemiologi, dan dengan prinsip ilmu ini pula belia berhasil membuktikan penyakit kolera disebabkan dan dibawa oleh air.
• Louis Paster (1827-1912) merupakan sarjana pertama yang memperkenalkan dan menyakinkan penggunaan antisepitk dalam ilmu bedah.
• Carlos Juan Finlay (1833-1915) menemukan dan membuktikan sebagai penyebab dan pembawa demam kuning
• Robert Koch (1843-1910), pendiri dan ahli bakteriologi kedokteran dan modern, beliau juga penemu kuman penyebab antraks, tuberkulusis, dan kolera.
• Paul Ehrlich (1854-1915), sarjana yang pertama kali menemukan obat anti sifilis .
Ditunjang oleh penemuan-penemuan di atas, pada era berikutnya ditemukan pula berbagai jenis obat-obatan yang menandai masa tersebut dan dikenal sebagai “Basic Science Era” (era ilmu dasar) dalam ilmu kedokteran dan kesehatan.
Pada masa perkembangan berikutnya, sejalan dengan berkembangnya teknologi kedokteran/kesehatan, cara penemuan obat-obat baru, dan juga cara pengobatan serta pencegahan, berkembang pesat. Masa ini dikenal dengan “Era Clinical Science” (era ilmu klinik). Masa ini berlangsung dari tahun 1900-1950. Era Clinical Science bertujuan serta merupakan filosofi serta penyempurnaan sistem kuratif, namun sasarannya masih terbatas pada individu yang sakit saja.
Menyusul era kedokteran/kesehatan yang terakhir ini, maka cara-cara pengobatan mulai diperluas melalui lembaga pengobatan yang dikenal dengan poliklinik. Merupakan salah satu lembaga perawatan/pengobatan, kedokteran, baik dalam bentuk rawat jalan(ambulatory) maupun rawat inap di rumah sakit (in patient).
Dengan sistem pelayanan pengobatan diatas, masyarakat mulai diperkenalkan dengan cara pengobatan modern dan maju, dan masyarakat mulai menyadari manfaat serta perlunya lembaga pelayanan kesehatan/kedokteran. Sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan dari sistem pengembangan perawatan kedokteran, munculah lembaga pendidikan kedokteran bagi lembaga perawatan.
Pada tahap-tahap berikutnya modernisasi perawatan kedokteran berjalan seiring dengan kemajuan teknologinya, namun umumnya perawatan kedokteran tersebut masih terbatas pada perawatan/pengobatan ditujukan kepada individu yang bersiafat kuratif, dan belum ditujukan kearah pencegahan penyakit. Dengan laju pertumbuhan yang cepat, sasaran perawatan/pelayanan kedokteran akhirnya menjadi lebih luas, yaitu masyarakat banyak sebagai satu kesatuan sosial dari individu. Berbarengan dengan itu, dunia kedokteran mulai memandang jauh kedepan, yaitu pada lingkungan hidup, keadaan sosial, dan lain-lainnya yang senantiasa merupakan faktor-faktor yang perlu diperhitungkan dalam timbulnya penyakit.
Dengan beralihnya pandangan pelayanan kedokteran terhadap faktor penyebab penyakit, maka muncullah era pelayanan kedokteran berikutnya, yang disebut “Era Kesehatan Masyarakat” (Public Health). Dalam era yang terakhir ini, pengobatan dan perawatan kedokteran yang semua berorientasi klinis (clinical centered) mengalihkan orientasinya ke masyarakat (community centered). Era yang diliris oleh sarjana-sarjana Inggris ini (Edwin Chadwick dan Winslow) mengalami pasang dan surut pula, namun apa yang telah dirintis mereka, sampai sekarang masih belum usang dan tetap dianut dalam berbagai cara pemecahan masalah kesehatan.

B. Definisi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Ilmu Kesehatan Masyarakat adalah suatu “Ilmu dan Seni” mengenai cara pencegahan penyakit untuk mencapai perpanjangan masa hidup dan peningkatan kesehatan fisik dan mental secara berhasil guna melalui: pengorganisasian potensi yang ada dalam masyarakat untuk mencapai kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit infeksi di masyarakat, penyuluhan/pendidikan perorangan tentang prinsip-prinsip kesehatan pribadi, pengorganisasian pelayanan pengobatan dan perawatan untuk diagnosis dini penyakit, pencegahan dan pengobatan penyakit, serta pengembangan gerakan sosial yang akan mendorong setiap individu dimasyarakat memelihara kesehatan dalam setiap perilaku kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian pencegahan lebih banyak diterapkan pada pelayanan kesehatan secara massal dalam mayarakat, sedangkan ilmu kesehatan masyarakat, disamping penerapan massal, juga secara individual dalam pengobatan/perawatan kesehatan kuratif, yang secara operasional hanya menunggu masyarakat yang memerlukannya. Dengan demikian kesehatan masyarakat juga memiliki aspek pencegahan disamping aspek pengobatan dengan cara penyuluhan perorangan.,
Pengorganisasian potensi masyarakat pada Definisi ilmu kesehatan masyarakat, terutama bertujuan peningkatan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan penyuluhan. Semua petugas dan masyarakat untuk ikut bertanggung jawab menanggulangi masalah kesehatannya sendiri.
Untuk hal yang dikemukakan terakhir, pelayanan kedokteran hanya mencakup individu dan keluarganya. Khususnya dalam pelayanan kesehatan yang mencakup pengobatan penyakit infeksi menular, misalnya: tifus abdominalis, kolera, malaria, filariasis, tuberculosis paru dsb. Upaya tersebut merupakan tindakan pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang penting sekali dalam pencegahan khusus tersebut menjadi pembawa (karier) penyakit, yang dapat menimbulkan penularan berikutnya. Oleh karena itu sesuai dengan fungsinya, ilmu kesehatan masyarakat pada akhirnya juga bertujuan untuk mencegah penyakit.
Secara garis besar upaya kegiatan masyarakat dalam penerapan ilmu kesehatan masyarakat adalah:
a) Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular
b) Perbaikan sanitasi liongkungan
c) Perbaikan lingkungan pemukiman
d) Pemberantasan vector
e) Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat
f) Pelayanan pesehatan ibu dan anak
g) Pembinaan gizi masyarakat
h) Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum
i) Pengawasan obat dan minuman
j) Pembinaan peran serta masyarakat , dsb.

Peranan Freesex dalam Penularan AIds(tugas Epidemiologi)


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Penyakit HIV/AIDS tumbuh dan berkembang lewat jalur ini ( free sex), karena memang penyebaran virus ini paling efektif melalui kontak fisik (hubungan kelamin).Meskipun ada penyebab lainnya tetapai lewat free sex lah yang paling efektif dalam penyebaran virus penyakit tersebut.
Sampai akhir tahun 1996 saja, WHO memperkirakan orang yang terinfeksi HIV/AIDS mencapai 30 juta orang dan mereka yang meninggal sebanyak 6,4 juta orang. WHO mencatat penderita terbanyak ditemukan di Amerika Serikat, yaitu 581.429 orang, disusul Brazil sebanyak 103.262 orang, Tanzania 82.174 orang, Thailand 59.782 orang, dan Prancis 45.395 orang.
Di Afrika yang diperkirakan 1000 anak anak terinfeksi HIV/AIDS setiap hari nya, setelah dilakukan penelitian ternyata kebanyakan orangtua mereka adalah penganut free sex.
Di Asia tidak ada Negara selain Thailand yang tercatat sebagai kasus yang banyaknya melebihi sepuluh ribu kasus. Setelah itu disusul india sebanyak 3000, Myanmar sebanyak 1.882 kasus, dan jepang sebanyak 1.557 penderita.
Di Eropa terutama di Perancis, tercatat jumlah penderita paling banyak yaitu 45.395 orang, melewati Spanyol yaitu 45.132 orang, kemudian disusul Italia yaitu 38.148 orang, Jerman sebanyak 16.138 orang, dan Inggris tercatat sebanyak 14.082. Di Negara yang membebaskan free sex memang tercatat banyak angka yang menunjukan penderita HIV/AIDS.
Brasil juga menyimpan penderita AIDS paling banyak, 103.262 penderita, dibandingkan Negara Amerika latin lainnya, seperti meksiko 29,962 penderita dan Argentina 10.461 penderita. Kanada secara resmi melaporkan ada 14.436 penderita AIDS clan Australia melaporkan 7.033 kasus.
Sedangkan di Negara kita, dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya, bahkan hingga September 2009 saja telah menembus angka 18.442 kasus di 300 kabupaten atau kota dan 32 provinsi di Indonesia [data dari P2PL].
Rate kasus Aids secara nasional sampai dengan 30 September adalah per 8,15 per 100 ribu penduduk (dengan berdasarkan data BPS penduduk Indonesia sebesar 227.132.350 jiwa) dengan ODHA yang meninggal tercatat 20,1 persen.
Kasus Aids tertinggi terdapat di provinsi Papua (17,9 kali angka nasional), Bali (5,3 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,8 kali angka nasional), Kep. Riau (3,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,2 kali angka nasional), Maluku (1,8 kali angka nasional), Papua Barat (1,3 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,4 kali angka nasional), Riau (1,0 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) DI Yogyarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) [data dari BPS dan P2PL].


B. RUMUSAN ISI MAKALAH
Rumusan isi makalah ini mengungkapkan tentang peranan free sex dalam penyebaran penyakit HIV/AIDS, teori dasar tentang hubungan antara keduanya, fakta, hasil penelitian, dan metode penelitian yang dilakukan,dari desain penelitiannya sampai defenisi operasional nya.



C. MANFAAT DARI PEMBUATAN MAKALAH
Manfaat dari pembuatan makalah ini sebagai bahan referensi mengenai hubungan, pengaruh dan peranan yang di timbulkan dari adanya free sex terhadap penyakit HIV/AIDS. Yang dimana kita bisa mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini hingga cara arau upaya pencegahan sehingga bisa melakukan tindakan sedini mungkin untuk menghambat atau memutus rantai penularan dan pencegahan penyakit tersebut..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Free Sex
Sex bebas atau yang sering dikenal dengan istilah Free sex, adalah hubungan sexual yang dilakukan pra nikah atau bergonta ganti pasangan. Sex bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku.
Faktor factor yang menyebabkan Sex bebas karena adanya pertentangan dari lawan jenis, adanya tekanan dari keluarga dan teman bagi anak remaja. Dari tahun ke tahun pelaku Sex bebas terus meningkat, telah dilakukan penelitian di kecamatan hamparan perak pada remaja, dan hasilnya dari hanya 5% pada tahun 1980 an pada tahun 2000 an meningkat menjadi 20%, ini perkembangan yang cukup besar yang terjadi di hanya tingkat kecamatan, belum tingkat nasional. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang gambaran Seks bebas itu sendiri, telah dilakukan pula penelitian yang menggunakan kuesioner yang diajukan responden dengan jumlah sampel 98 reesponden di daerah tersebut, dan hasilnya yang terlibat pergaulan bebas 80,9% sedangkan sisanya mengetahui tentang informasi Seks bebas.


B. Pengertian HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia virus ini terus bertambah banyak hingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak sanggup lagi melawan virus yang masuk.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut. Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan kekebalannya oleh karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Akibatnya penyakit-penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi bahaya bagi tubuh. “slowly but deadly“, pelan tapi mematikan itulah julukan yang saya berikan untuk virus penyakit yang satu ini. HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan bagi manusia, bahkan hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasi penyakit yang menyerang sistem kekebalan manusia itu. Pengobatan hanya akan membantu Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) untuk hidup lebih lama tetapi penyakit AIDS sendiri belum dapat disembuhkan tetapi dapat ditekan jumlah HIV dengan obat antiretroviral (ARV).
Para peneliti dari Northwestern University bahwa wabah AIDS berawal dari Afrika bagian barat tengah sekitar tahun 1930, beberapa dasawarsa lebih awal ketimbang dugaan sebelumnya. Teori baru ini telah mencetuskan pengamatan sejarah pada peristiwa yang belum dikaitkan dengan penyebaran HIV, seperti pembangunan rel kereta api di Afrika di awal abad ke-20. Lantas apa hubungannya dengan HIV?..
Sebuah simulasi komputer yang rumit mengenai evoiusi HIV telah memperkirakan bahwa 1930 adalah tahun awal. Ketika itu pemerintahan kolonial Prancis di Afrika bagian barat melakukan kerja paksa untuk mem¬bangun rel kereta api. Karena para pekerja itu kekurangan makanan, diduga mereka berburu binatang liar di hutan dan tertular HIV dari primata yang mereka makan.
Rel kereta api Kongo-Samudera juga ditempatkan dekat kasus HIV pertama, di kota Kinshasa. Peristiwa sejarah lainnya, pengembangan kebun binatang dan penangkapan simpanse yang menggigit, mungkin juga menjadi faktor dalam penyebaran HIV (Chicago Tribune, 31 Januari 2000). Sementara itu, menurut sumber lain, penyakit maut tersebut didiagnosa pertama kali pads tahun 1980.
AIDS sendiri adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yakni penyakit rontoknya kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), yaitu virus HTLV-III (Human T-Cell Lymphotropic Virus-111, ditemukan tahun 1980), yang menyerang sel darah putih lymphocyte T-4. Setelah sel T-4 ini digempur HTLV-III, organisms racun (toxoplasma) berkembang, menyusup ke dalam tubuh lewat peredaran darah, lantas memproduksi bisul bernanah di otak, paru-paru, jantung, hati, dan limpa. Selanjutnya, proses ini mengakibatkan matinya jaringan sel, kista, dan berbagai kerusakan sel-sel otak.
Dengan rontoknya sistem kekebalan tubuh, maka berbagai penyakit yang menyerbu tubuh penderita, pasti bakal susah untuk disembuhkan. Flu ringan sekalipun bisa menjadi penyakit mematikan buat para penderita AIDS. penyakit “ecek-ecek” itu makin lama makin menggerogoti tubuh penderita clan ujung¬-ujungnya bisa berakhir dengan kematian. Jadi, bila ada yang menderita flu terus-terusan (nggak sembuh-sembuh) disertai munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh, badan makin kurus kering, lidah berjamur, gemetaran, diare terus-terusan, demam, ber¬keringat di waktu malam, kelelahan di sekujur tubuh, sulit menelan dan bicara, napas tersengal-sengal, hati¬-hati, itu gejala AIDS. Tapi itu akan dialami setelah 5 sampai 10 tahun setelah positif terserang HIV. Jadi yang sekarang kelihatan sehat-sehat saja, belum tentu tidak terserang AIDS.
Perbedaan HIV dan AIDS
Orang yang baru terpapar HIV belum tentu menderita AIDS. Hanya saja lama kelamaan sistem kekebalan tubuhnya makin lama semakin lemah, sehingga semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Pada tahapan itulah penderita disebut sudah terkena AIDS.
Cara Penularan HIV
• Melalui cairan vagina atau sperma
• Seks yang sering bergonta ganti pasangan
• Penyimpangan seksual seperti: seks pra nikah, pelacuran dan homoseksual
• Penggunaan jarum suntik bersama dari orang yang sudah terinfeksi HIV
• Transfusi darah yang terkontaminasi dengan virus HIV
• Dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya

Orang yang terinfeksi HIV biasanya dapat hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit. Mereka mungkin tampak sehat dan merasa sehat tetapi dapat menularkan virus pada orang lain.

Perjalanan Infeksi HIV/AIDS
Pada saat seseorang terkena infeksi virus AIDS maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus masuk kedalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela. Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat HIV. Pada tahap HIV+ ini maka keadaan fisik ybs tidak mempunyai kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja seperti biasa. Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini ybs sudah aktif menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah.
Sejak masuknya virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan menggerogoti sel darah putih (yang berperan dalam sistim kekebalan tubuh) dan setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi seperti misalnya infeksi jamur, virus-virus lain, kanker dsb. Penderita akan meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut.
Di negara industri, seorang dewasa yang terinfeksi HIV akan menjadi AIDS dalam kurun waktu 12 tahun, sedangkan di negara berkembang kurun waktunya lebih pendek yaitu 7 tahun.
Setelah menjadi AIDS, survival rate di negara industri telah bisa diperpanjang menjadi 3 tahun, sedangkan di negara berkembang masih kurang dari 1 tahun. Survival rate ini berhubungan erat dengan penggunaan obat antiretroviral, pengobatan terhadap infeksi oportunistik dan kwalitas pelayanan yang lebih baik.
Pola infeksi secara global, sekitar 90% kasus HIV/AIDS ada Di Negara berkembang.


C. Hubungan dan Peranan Free sex dalam Penularan HIV/AIDS

Berdasarkan beberapa penelitian, AIDS paling efektif menyebar lewat hubungan seks. Baik antara laki-laki dan wanita, maupun yang abnormal, homoseksual dan lesbian. Celakanya, saat ini seks bebas sedang menjadi primadona. Kebebasan bergaul telah menjadi pintu gerbang penyebaran AIDS. Dan korban AIDS dari kalangan pelaku seks bebas ini memang paling banyak, Mereka sangat rentan alias berisiko tinggi terkena penyakit ganas ini. termasuk pelaku seks menyimpang, yakni para homoseks dan lesbian (studia edisi 022/Tahun I tentang gay dan lesbian).
Di “jalur” ini, penyebaran AIDS juga cukup efektif, Di beberapa penjara di Amerika, Sering dibuat repot dengan ulah para napi yang melakukan hubungan seks abnormal ini. Bahkan, fakta menunjukkan AIDS mudah menyebar di kalangan para napi yang homoseks.
Bicara seks bebas, memang bukan monopoli anak sekarang aja. Sejak dulu, yang namanya seks bebas, baik yang dilegalisasi melalui “bisnis” pelacuran maupun liar sudah marak. Bersamaan dengan itu, muncul pula penyakit menular seksual (PMS), yang ngqak kalah garang dari AIDS–seperti sifilis, gonorhoe, vietnam rose–dan bahkan para pelakunya orang-orang ngetop di zamannya. seperti gerombolan Columbus, Julius Caesar dan Cleopatra VII, Raja Charles V, Charles V, Raja Henry VIII, lalu Edward VI, Peter Agung, Katarina Agung, hingga Benito Mussolini, Napoleon Bonaparte, dan Adolf Hitler adalah tokoh-tokoh dunia yang terkenal sebagai penderita penyakit kotor sifilis dan gonorhoe. Itu dulu, sekarang, bisa ditunjuk hidung rombongan “selebritis” Hollywood macam Brad Davis, Rock Hudson, Fredy Mercury, Tony Richardson, dan Ian Charleson, Brur, mereka menemui ajal dihantam AIDS...
Pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan free sex dengan HIV/AIDS. Dia mengemukakan pada tahun 1999, dalam beberapa bulan terakhir, sampai dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanya–selaku spesialis penyakit dalam–biasanya 1¬2 orang dalam satu bulan. Dia juga menambahkan bahwa dalam tiga minggu pertama bulan November 1999, menemukan 13 kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan sembilan di antaranya orang orang yang “menyembah” free sex.
Dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya, bahkan hingga September 2009 saja telah menembus angka 18.442 kasus di 300 kabupaten atau kota dan 32 provinsi di Indonesia [data dari P2PL].
Rate kasus Aids secara nasional sampai dengan 30 September adalah per 8,15 per 100 ribu penduduk (dengan berdasarkan data BPS penduduk Indonesia sebesar 227.132.350 jiwa) dengan ODHA yang meninggal tercatat 20,1 persen.
Kasus Aids tertinggi terdapat di provinsi Papua (17,9 kali angka nasional), Bali (5,3 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,8 kali angka nasional), Kep. Riau (3,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,2 kali angka nasional), Maluku (1,8 kali angka nasional), Papua Barat (1,3 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,4 kali angka nasional), Riau (1,0 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) DI Yogyarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) [data dari BPS dan P2PL].
Maka, dari data data tersebut kita dapat menarik beberapa alasan mengapa penyebaran HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi, yaitu :
• Meluasnya pelacuran
• Peningkatan hubungan seks pra nikah (sebelum menikah) dan ekstra marital (di luar nikah seperti melalui pelacuran)
• Prevalensi penyakit menular seksual yang tinggi
• Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
Dan dapat disimpulkan bahwa fre sex mempunyai peran sangat berpengaruh dalam penyebaran HIV/AIDS, meskipun ada sebab lain seperti penggunaan jarum suntik yang tidak steril, tranfusi darah dari orang yang telah terkena HIV/AIDS, dari ibu hamil yang mengenai janinnya, dll, tetapi jika kita lihat angka angka kasus, data data dan penelitian yang telah ada dan dijelaskan diatas, Free sex sangat berberan dalam kaitannya dengan persebaran HIV/AIDS.










BAB III
METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan diperlukan suatu strategi yang akan berperan sebagai pedoman atau penuntun penelitian pada seluruh proses penelitian, dan karena penelitian ini bersifat pengujian hubungan antara Free sex dan HIV/AIDS, maka kami menggunakan Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian ini membandingkan kelompok kasus dan kelompok control berdasarkan status paparannya. Pemilihan subjek berdasarkan status penyakitnya, apakah mereka menderita (group kasus) atau tidak (group control) untuk kemudian dilakukan amatan apakah subjek mempunyai riwayat terpapar atau tidak
B. Populasi dan Sampel
I. Populasi
Kasus
Kelompok dengan kondisi,Semua pengidap HIV/AIDS yang telah tercatat di kota Jakarta, terpajan dan tidak terpajan 100 orang
Kontrol
Kelompok tanpa kondisi, terpajan dan tidak trpajan 100 orang
II. Sampel
Dasar pendidikan orang orang yang akan menjadi sampel ada yang tidak sekolah, tidak lulus SD, SMP, SMU, akademi, Perguruan Tinggi. Jenis kelamin Laki laki dan Perempuan.Bekerja, pengangguran, siswa, dan mahasiswa. Status menikah dan belum menikah.
III. Teknik Sampling
Teknik Sampling yang dipilih yaitu Simple Random Sampling, karena cara ini bersifat random (Probability Sampling), sehingga setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel. Setiap bagian populasi yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya tetapi menyediakan populasi parameter, mempunyai kesempatan menjadi sampel yang representative.
Untuk mencapai sampling ini, setiap elemen diseleksi secara random (acak). Membuat frame kecil, nama ditulis di secarik kertas, di letakkan dikotak, diaduk dan diambil secara acak acak, karena ingin mengambil 60 sampel dari 200 populasi yang tersedia, maka secara acak akan diambil 60 sampel melalui pengambila nomor yang telah ditulis.

C. Variabel Penelitian
Yaitu karasteristik yang dimiliki oleh subjek yang berbeda dengan yang dimiliki kelompok tersebut, disini variabl termasuk (dependent variable) atau variable yang nilainya ditentukan oleh variable lain, yaitu HIV/AIDS yang nilainya nanti ditentukan oleh Free sex
D. Defenisi Operasional
Karena perlunya mendapatkan data yang akurat diperlukan desain dan pengumpulan data yang tepat. Pengumpulan data disini dilakukan dengan cara wawancara langsung person dengan person, pengumpulan data berhadapan langsung dengan sumber informasi, data diperoleh langsung dari sumber utamanya, dengan wawancara yang terstruktur, dengan pertanyaan pertanyaan yang telah disiapkan sebelum dilangsungkannya wawancara.




E. Tempat dan Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada:
Tempat :Balai Pengobatan kota,jalan moh hatta no 192
Condet Jakarta
Hari/tanggal :21 Januari 2010
Waktu :09.00 sd selesai

Epidemiologi Penyakit Framboesia


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Ada dua penyakit kulit yang perlu diwaspadai karena sering diabaikan yaitu Kusta dan Frambusia. Kusta dan frambusia merupakan penyakit kulit menular dan menahun yang mudah disembuhkan apabila ditemukan secara dini. Bila ditemukan sedini mungkin dan diobati dengan baik maka dapat mencegah penderita dari kecacatan tetap dan sembuh dalam waktu 6 bulan. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat penting dalam menemukan penderita dan melaporkan ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan.
Didunia, pada awal tahun 1950-an diperkirakan banyak kasus frambusia terjadi di Afrika, Asia, Amerika Selatan dan Tengah serta Kepulauan Pasifik, sebanyak 25 – 150 juta penderita. Setelah WHO memprakarsai kampanye pemberantasan frambusia dalam kurun waktu tahun 1954 – 1963, para peneliti menemukan terjadinya penurunan yang drastik dari jumlah penderita penyakit ini. Namun kemudian kasus frambusia kembali muncul akibat kurangnya fasilitas kesehatan public serta pengobatan yang tidak adekuat. Dewasa ini, diperkirakan sebanyak 100 juta anak-anak beresiko terkena frambusia.
Masih adakah frambusia di Indonesia? Jawabannya masih ada, tersebar di daerah kantong-kantong kemiskinan. Pada tahun 1990, 21 provinsi dari 31 provinsi di Indonesia melaporkan adanya penderita frambusia. Ini tidak berarti bahwa provinsi yang tidak melaporkan adanya frambusia di wilayah mereka tidak ada frambusia, hal ini sangat tergantung pada kualitas kegiatan surveilans frambusia di provinsi tersebut.
Pada tahun 1997 hanya enam provinsi yang melaporkan adanya frambusia dan pada saat krisis di tahun 1998 dan 1999 tidak ada laporan sama sekali dari semua provinsi. Tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, 8-11 provinsi setiap tahun melaporkan adanya frambusia. Pemerintah pada Pelita III (pertengahan pemerintahan Orde Baru) menetapkan bahwa frambusia sudah harus dapat dieliminasi dengan sistem TCPS (Treponematosis Control Project Simplified) dan “Crash Program Pemberantasan Penyakit Frambusia (CP3F)”. Namun, oleh karena metode, organisasi, manajemen pemberantasan yang kurang tepat dan pembiayaan yang kurang atau daerah tersebut selama ini tidak tersentuh oleh pemerataan pembangunan. Paling tepat kalau dikatakan bahwa masih adanya frambusia di suatu wilayah sebagai resultan dari upaya pemberantasan yang kurang memadai dan tidak tersentuhnya daerah tersebut dengan pembangunan sarana dan prasarana wilayah.

B. RUMUSAN ISI MAKALAH
Rumusan isi makalah ini mengungkapkan tentang penyakit Framboesia dari penyebab/Etiologi, factor resiko, klasifikasi penyakit sampai upaya pencegahan dan program pemberantasan tentang pandemi penyakit framboesia.

C. MANFAAT DARI PEMBUATAN MAKALAH
Manfaat dari pembuatan makalah ini sebagai bahan referensi mengenai penyakit Framboesia. Yang dimana kami bisa mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini hingga cara arau upaya pencegahan sehingga bisa melakukan tindakan sedini mungkin jika penyakit kembali mewabah.

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A. Pengertian Framboesia
Framboesia atau Patek ( kamus kedokteran ). Penyakit framboesia atau patek adalah suatu penyakit kronis, relaps (berulang). Dalam bahasa Inggris disebut Yaws, ada juga yang menyebut Frambesia tropica dan dalam bahasa Jawa disebut Pathek. Di zaman dulu penyakit ini amat populer karena penderitanya sangat mudah ditemukan di kalangan penduduk. Di Jawa saking populernya telah masuk dalam khasanah bahasa Jawa dengan istilah “ora Patheken”. Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema penyebab penyakit sifilis), penyebarannya tidak melalui hubungan seksual, yang dapat mudah tersebar melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit sehat. Penyakit ini tumbuh subur terutama didaerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas, banyak hujan, yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.
Framboesia termasuk penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena penyakit ini terkait dengan, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan diri, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai, apalagi di beberapa daerah, pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih kurang karena ada anggapan salah bahwa penyakit ini merupakan hal biasa dialami karena sifatnya yang tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita..




B. Penyebab Atau Etiologi Penyakit Framboesia
Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema penyebab penyakit sifilis), penyebarannya tidak melalui hubungan seksual, yang dapat mudah tersebar melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit sehat. Penyakit ini tumbuh subur terutama didaerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas, banyak hujan, yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.
Framboesia berdasarkan karakteristik Agen :
1. Infektivitas dibuktikan dengan kemampuan sang Agen untuk berkembang biak di dalam jaringan penjamu.
2. Patogenesitas dibuktikan dengan perubahan fisik tubuh yaitu terbentuknya benjolan-benjolan kecil di kulit yang tidak sakit dengan permukaan basah tanpa nanah.
3. Virulensi penyakit ini bisa bersifat kronik apabila tidak diobati, dan akan menyerang dan merusak kulit, otot serta persendian sehingga menjadi cacat seumur hidup. Pada 10% kasus frambusia, tanda-tanda stadium lanjut ditandai dengan lesi yang merusak susunan kulit yang juga mengenai otot dan persendian.
4. Toksisitas yaitu dibuktikan dengan kemampuan Agen untuk merusak jaringan kulit dalam tubuh penjamu.
5. Invasitas dibuktikan dengan dapat menularnya penyakit antara penjamu yang satu dengan yang lainnya.
6. Antigenisitas yaitu sebelum menimbulkan gejala awal Agen mampu merusak antibody yang ada di dalam sang penjamu.


C. Faktor Resiko

1. Distribusi
Terutama menyerang anak-anak yang tinggal didaerah tropis di pedesaan yang panas, lembab, lebih sering ditemukan pada laki-laki. Prevalensi frambusia secara global menurun drastis setelah dilakukan kampanye pengobatan dengan penisilin secara masal pada tahun 1950-an dan 1960-an, namun penyakit frambusia muncul lagi di sebagian besar daerah katulistiwa dan afrika barat dengan penyebaran fokus-fokus infeksi tetap di daerah Amerika latin, kepulauan Karibia, India, Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik Selatan.

2. Determinan
Faktor penyebab penyakit Framboesia adalah Treponema pallidum sub spesies pertenue. Namun bukan hanya Agen saja tetapi lingkungan si penjamu juga dapat mempengaruhi timbulnya penyakit Framboesia seperti sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya kesadaran masyrakat akan kebersihan diri, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk, kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai dan kontak langsung dengan kulit penderita penyakit Framboesia.









D. Jenis Klasifikasi

Jenis klasifikasi penyakit framboesia yaitu penyakit menular melalui :
1. Dapat menular melalui air yaitu terbukti dengan banyaknya para penderita penyakit Framboesia di daerah yang sanitasi air dan lingkungannya tidak terjaga atau kotor yang dapat memungkinkan Agen untuk berkembang biak dan menulari Penjamu.
2. Dapat menular melalui kulit yaitu dengan melakukan kontak langsung penderita yang dimana si Agen berkembang biak di si penderita.

E. Riwayat Alamiah Penyakit

Penyakit frambusia ditandai dengan munculnya lesi primer pada kulit berupa kutil (papiloma) pada muka dan anggota gerak, terutama kaki, lesi ini tidak sakit dan bertahan sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Lesi kemudian menyebar membentuk lesi yang khas berbentuk buah frambus (raspberry) dan terjadi ulkus (luka terbuka). Stadium lanjut dari penyakit ini berakhir dengan kerusakan kulit dan tulang di daerah yang terkena dan akan mengakibatkan disabilitas dimana sekitar 10-20 persen dari penderita yang tidak diobati akan cacat seumur hidup dan menimbulkan stigma social, yang tentunya akan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, hal inilah kemudian menjadi tantangan bagi seorang publich health dalam mencegah timbulnya penyakit tersebut dan memperpanjang masa hidup seseorang.

F. Tanda dan Gejala Klinis

Tahap Prepatogenesis
Pada tahap ini penederita belum menunujukan gejala penyakit. Namun, tidak menutup kemungkinan si penyakit telah ada dalam tubuh si penderita.

Tahap Prepatogenesis
1. Tahap Inkubasi
Tahap inkubasi Framboesia adalah dari 2 sampai 3 minggu
2. Tahap Dini
Terbentuknya benjolan-benjolan kecil di kulit yang tidak sakit dengan permukaan basah tanpa nanah.
3. Tahap Lanjut
Pada gejala lanjut dapat mengenai telapak tangan, telapak kaki, sendi dan tulang, sehingga mengalami kecacatan. Kelainan pada kulit ini biasanya kering, kecuali jika disertai infeksi (borok).
Tahap Pasca Patogenesis
Pada tahap ini perjalanan akhir penyakit hanya mempunyai tiga kemungkinan yaitu :
1. Sembuh dengan cacat penyakit ini berakhir dengan kerusakan kulit dan tulang di daerah yang terkena dan dapat menimbulkan kecacatan 10-20 persen dari penderita
2. Karier tubuh penderita pulih kembali, namun bibit penyakit masih tetap ada dalam tubuh.
3. Penyakit tetap berlangsung secara kronik yang jika diobati akan menimbulkan cacat kepada si penderita.


G. Reservoir dan Cara Penularan

1. Reservoir
Manusia dan mungkin Primata kelas tinggi. Sangat berpeluang tertular penyakit ini.
2. Cara Penularan
Prinsipnya berdasarkan kontak langsung dengan eksudat pada lesi awal dari kulit orang yang terkena infeksi. Penularan tidak langsung melalui kontaminasi akibat menggaruk, barang-barang yang kontak dengan kulit dan mungkin juga melalui lalat yang hinggap pada luka terbuka, namun hal ini belum pasti. Suhu juga mempengaruhi morfologi, distribusi dan tingkat infeksi dari lesi awal.

H. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dengan mikroskop lapangan gelap atau pemeriksaan mikroskopik langsung FA dari eksudat yang berasal dari lesi primer atau sekunder. Test serologis nontrepanomal untuk sifilis misalnya VDRL (Venereal Disease Research Laboratory), RPR (Rapid Plasma Reagin) reaktif pada stadium awal penyakit menjadi non reaktif setelah beberapa tahun kemudian, walaupun tanpa terapi yang spesifik, dalam beberapa kasus penyakit ini memberikan hasil yang terus reaktif pada titer rendah seumur hidup. Test serologis trepanomal, misalnya FTA-ABS (Fluorescent Trepanomal Antibody – Absorbed), MHA-TP (Microhemagglutination assay for antibody to T. pallidum) biasanya tetap reaktif seumur hidup.
Dan dapat dilakukan dengan 3 metode dalam Epidemiologi yaitu :
1. Anamnese
2. Tanda (Sign)
3. Tes (Uji/Pemeriksaan)

I. Upaya Pencegahan

a. Upaya Pencegahan (tahap Prepatogenesis)
Walaupun penyebab infeksi sulit dibedakan dengan teknik yang ada pada saat ini. Begitu pula perbedaan gejala-gejala klinis dari penyakit tersebut sulit ditemukan. Dengan demikian membedakan penyakit treponematosisi satu sama lainnya hanya didasarkan pada gambaran epidemiologis dan faktor linkungan saja. Hal-hal yang diuraikan pada butir-butir berikut ini dapat dipergunakan untuk manangani penyakit frambusia dan penyakit golongan treponematosis non venereal lainnya.
1. Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
Sasaran pencegahan tingkat pertama dapat ditujukan pada factor penyebab, lingkungan serta factor penjamu.
a. Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuan untuk mengurangi penyebab atau menurunkan pengaruh penyebab serendah mungkin dengan usaha antara lain : desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, yang bertujuan untuk menghilangkan mikro-organisme penyebab penyakit, penyemprotan/insektisida dalam rangka menurunkan dan menghilangkan sumebr penularan maupun memutuskan rantai penularan, disamping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka memutuskan rantai penularan. Selain itu usaha untuk mengurangi atau menghilangkan sumber penularan dapat dilakukan melalui pengobatan penderita serta pemusnahan sumber yang ada, serta mengurangi atau menghindari perilaku yang dapat meningkatkan resiko perorangan dan masyarakat.
b. Mengatasi atau modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perumahan serta bentuk pemukiman lainnya, perbaikan dan peningkatan lingkungan biologis seperti pemberantasan serangga dan binatang pengerat, serta peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar individu dan kehidupan sosial masayarakat.
c. Meningkatkan daya tahan pejamu yang meliputi perbaikan status gizi, status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya, peningkatan status psikologis, persiapan perkawinan serta usaha menghindari pengaruh factor keturunan, dan peningkatan ketahanan fisik melalui peningkatan kualitas gizi, serta olahraga kesehatan.


2. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
Sasaran pencegahan ini terutama ditujukan kepada mereka yang menderita atau dianggap menderita (suspect) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan usaha pencegahan tingkat kedua ini yang meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta untuk segera mencegah proses penyakit untuk lebih lanjut serta mencegah terjadinya akibat samping atau komplikasi.
a. Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha surveillance penyakit tertentu, pemeriksaan berjala serta pemeriksaan kelompok tertentu ( calon pegawai, ABRI, Mahasiswa, dan lain sebagainya), penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perawatan yang efektif.
b. Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai berada pada proses prepatogenesis Framboesia.
3. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Sasaran pencegahan tingkat ketiga adalah penderita penyakit Framboesia dengan tujuan mencegah jangan sampai cacat atau kelainan permanen, mencegah bertambah parahnya penyakit tersebut atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Berbagai usaha dalam mencegah proses penyakit lebih lanjut agar jangan terjadi komplikasi dan lain sebagainya.
Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyembuhan penyakit Framboesia. Rehabilitasi adalah usaha pengembalian funsi fisik, psikologis, sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik atau medis, rehabilitasi mental atau psikologis serta rehabilitasi sosial.
b. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan Masyarakat (tahap Patogenesis)
1. Laporan kepada instansi kesehatan yang berwenang: Di daerah endemis tertentu dibeberapa negara tidak sebagai penyakit yang harus dilaporkan, kelas 3B (lihat laporan tentang penularan penyakit) membedakan treponematosis venereal & non venereal dengan memberikan laporan yang tepat untuk setiap jenis, adalah hal yang penting untuk dilakukkan dalam upaya evaluasi terhadap kampanye pemberantasan di masyarakat dan penting untuk konsolidasi penanggulangan pada periode selanjutnya.
2. Isolasi: Tidak perlu; hindari kontak dengan luka dan hindari kontaminasi lingkungan sampai luka sembuh.
3. Disinfeksi serentak: bersihkan barang-barang yang terkontaminasi dengan discharge dan buanglah discharge sesuai dengan prosedur.
4. Karantina: Tidak perlu
5. Imunisasi terhadap kontak: Tidak perlu
6. Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Seluruh orang yang kontak dengan penderita harus diberikan pengobatan, bagi yang tidak memperlihatkan gejala aktif diperlakukan sebagai penderita laten. Pada daerah dengan prevalensi rendah, obati semua penderita dengan gejala aktif dan semua anak-anak serta setiap orang yang kontak dengan sumber infeksi.
7. Pengobatan spesifik: Penisilin, untuk penderita 10 tahun ke atas dengan gejala aktif dan terhadap kontak, diberikan injeksi dosis tunggal benzathine penicillin G (Bicillin) 1,2 juta unit IM; 0,6 juta unit untuk penderita usia dibawah 10 tahun.
c. Upaya Penanggulan Wabah (Tahap Pasca Patogenesis)
Dengan melakukan program pengobatan aktif untuk masyarakat di daerah dengan prevalensi tinggi. Tujuan utama dari program ini adalah:
1. Pemeriksaan terhadap sebagian besar penduduk dengan survei lapangan.
2. Pengobatan terhadap kasus aktif yang diperluas pada keluarga dan kelompok masyarakat sekitarnya berdasarkan bukti adanya prevalensi frambusia aktif.
3. Melakukan survei berkala dengan tenggang waktu antara 1 – 3 tahun sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan masyarakat pedesaan disuatu negara.

J. Program Pemberantasan

Strategi Pemberantasan framboesia terdiri dari 4 hal pokok yaitu:
1. Skrining terhadap anak sekolah dan masyarakat usia di bawah 15 tahun untuk menemukan penderita.
2. Memberikan pengobatan yang akurat kepada penderita di unit pelayanan kesehatan (UPK) dan dilakukan pencarian kontak.
3. Penyuluhan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
4. Perbaikan kebersihan perorangan melalui penyediaan sarana dan prasarana air bersih serta penyediaan sabun untuk mandi.

Pengobatan framboesia dilakukan dengan memberikan antibiotika. Antibiotika golongan penicillin merupakan obat pilihan pertama. Bila penderita alergi terhadap penicillin, dapat diberikan antibiotika tetrasiklin, eritromisin atau doksisiklin.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010