Adsense Indonesia

Senin, 25 Oktober 2010

AKUNTANSI DASAR RUMAH SAKIT II(HANDOUT)


PERTEMUAN I

GAMBARAN UMUM AKUNTANSI


1. DEFINISI

Akuntansi adalah Proses pengenalan, pengukuran, dan pelaporan informasi ekonomi guna memungkinkan melakukan penilaian dan pengambilan keutusan oleh para pengambil keputusan.

Proses:
Pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran, peringkasan dan penyajian transaksi keuangan dengan cara tertentu dari sebuah entitas.
Fungsi: Menghasilkan Laporan Keuangan

2. Manfaat Informasi Akuntansi;
1. Manajemen : Mengetahui tingkat perkembangan perusahaan
2. Kreditur: Mengetahui kemampuan mengembalikan pinjaman
3. Fiskus : Sebagai dasar informasi pemungutan pajak
4. Karyawan: berkepentingan dengan Kesejahteraan karyawan

3.Lapangan khusus Akuntansi
• Akuntansi Keuangan
• Pemeriksaan Keuangan
• Akuntansi Biaya
• Akuntansi Manajemen
• Akuntansi perpajakan
• Sistem Akuntansi
• Akuntansi Anggaran
• Akuntansi pemerintahan
• Akuntansi kemasyarakatan

4. Perbedaan Akuntansi dan Tata Buku
Tata Buku : Menekankan sistem pencatatan terutama pembukuan kameral (single entry)
Akuntansi : Perencanaan Pencatatan double entry (menghasilkan laporan keuangan) dan Analisa hasil Pencatatan (analisa laporan keuangan)

5. Arti, Jenis dan Kegiatan Perusahan
a. Perusahaan jasa (Menjual pelayanan /tidak berwujud fisik):
• Jasa Konsultan dan Profesi, misal: konsultan bangunan, akuntan, dokter, pengacara, klinik bersalin, dll
• Jasa hiburan: Bioskop, taman hiburan, bilyar.
• Jasa keahlian pribadi: Salon kecantikan, tukang cukur, penjahit , studio foto.
• Jasa Angkutan:Perusahaan penerbangan, kereta api, taksi dan biro perjalanan.
• Jasa penginapan: hotel, losmen, asrama, motel
• Jasa komunikasi: Perusahaan telepon, radio dan televisi swasta.
• Jasa Pertanggungan dan keuangan:bank,asuransi, pegadaian, simpan pinjam.


b. Perusahaan dagang (membeli dan menjual tanpa merubah bentuk):
• Supermarket, Toko, distributor, pedagang hasil bumi, toko buku, dll.

c. Perusahaan Industri (Mengolah bahan baku menjadi barang lain yang mempunyai manfaat lebih tinggi):
• Pabrik tekstil, kertas, kerajinan sepatu dan tas, dll.


5. Bentuk Perusahaan
• Perusahaan Perseorangan: Dimiliki dan dikelola oleh satu orang.
• Persekutuan: paling sedikit Dua orang bergabung menjalankan usaha dengan kedudukan sama
• Persekutuan komanditer: sama dengan persekutuan/firma tetapi kedudukan diantara persero berbeda.
• Perseroan: perusahaan yang modalnya terbentuk atas saham.
• Koperasi: Bentuk kerja sama dalam usaha yang dimiliki anggota dan untuk kesejahteraan anggota.

































PERTEMUAN II

PERSAMAAN DAN LAPORAN AKUNTANSI


PERSAMAAN AKUNTANSI

Jika semua harta perusahaan dibiayai dari modal sendiri tanpa hutang, maka:

Assets = equities

Jika semua harta perusahaan dibiayai dari hutang dan modal, maka:

Assets = Liabilities + capital

TRANSAKSI-TRANSAKSI:
1. Dr. Abidin mendirikan Klinik Pratama Husada pada tanggal 1 April 2007 dengan modal Rp. 200.000.000,- yang disimpan dalam bentuk deposito di bank Danamon.
2. Klinik Pratama Husada membeli peralatan medis dan non medis dengan tunai seharga Rp. 120.000.000,-.
3. Klinik Pratama Husada membeli perlengkapan kantor senilai Rp 2.000.000,- dengan perjanjian pembayaran dilaksanakan pada bulan berikutnya.
4. Sebagian hutang tersebut dibayar dengan jumlah Rp. 1.200.000,-
5. Selama bualan April tersebut Klinik Pratama Husada menerima pendapatan jasa pemeriksaan kesehatan sejumlah Rp. 16.500.000,- secara tunai
6. Berbagai macam beban yang dikeluarkan perusahaan selama bulan tersebut antara lain:
Gaji dan Upah Rp. 5.400.000,-
Listrik dan air 1.600.000 ,-
Telepon 500.000,-

7. Diketahui nilai perlengkapan pada akhir bulan tinggal Rp 900.000,-.
8. Ditaksir penyusutan peralatan Medis dan Non medis pada bulan tersebut Rp. 2.000.000,-
9. Pada Akhir bulan Dr. Abidin mengambil uang dari kas Klinik Pratama Husada sebesar Rp. 1.500.000,- untuk kepentingan Pribadinya.

Keterangan:
Asset = harta perusahaan/investasi milik perusahaan
Libilities = Kewajiban/Hutang
Equities = capital/modal sendiri
Beban = pengorbanan atas barang/jasa yang diarahkan untuk menjalankan perusahaan
Depresiasi = penyusutan
Akumulasi Depresiasi = jumlah penyusutan
Peralatan = harta yang berumur lebih dari satu tahun
Perlengkapan = harta yang berumur kurang dari satu tahun
Prive = Withdrawals/pengambilan sebagian laba untuk kepentingan pribadi pemilik perusahaan perseorangan/non badan hukum


JENIS-JENIS LAPORAN AKUNTANSI:
1. Neraca/Balance Sheet : Suatu daftar yang berisi ringkasan harta, kewajiban dan modal suatu perusahaan yang biasanya ditutup pada hari terakhir setiap bulan
2. Laporan Laba Rugi /Income Statement : Laporan yang bersisi ringkasan pendapatan dan biaya dari suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu
3. Laporan Perubahan Modal/Capital Statement : Laporan yang berisi ringkasan perubahan modal suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu.


PERSAMAAN AKUNTANSI UNTUK TRANSAKSI-TRANSAKSI DI KLINIK PRATAMA HUSADA

No. Transaksi Assets = Liabilities Capital
Kas Perlengkapan Peralatan Akumulasi Depresiasi Hutang Jangka Pendek Dr. Abidin, Modal
1 200.000 200.000
2 120.000 120.000
Bal. 80.000 200.000
3 2.000 2.000
Bal. 80.000 2.000 120.000 2.000 200.000
4 1.200 1.200
Bal. 78.800 2.000 120.000 800 200.000
5 16.500 16.500
Bal. 95.300 2.000 120.000 800 216.500
6 7.500 5.400
1.600
500
Bal. 87.800 2.000 120.000 800 209.000
7 1.100 1.100
Bal. 87.800 900 120.000 800 207.900
8 (2.000) (2.000)
Bal. 87.800 900 120.000 (2.000) 800 205.900
9 1.500 1.500
Bal. 86.300 900 120.000 (2.000) 800 204.400

CARA PENYAJIAN LAPORAN NERACA:
1. Laporan bentuk report form/stafel: kewajiban dan modal diletakan di bawah harta (bentuk ini lebih umum dipakai oleh peruahaan).
2. Laporan bentuk Rekening/Account form/Skontro: harta di sebelah kiri sedangkan kewajiban dan modal disebelah kanan.


CONTOH:

”Klinik Pratama Husada”
Neraca
Per 30 April 2007

Harta
Kas Rp. 86.300.000
Perlengkapan 900.000
Peralatan 120.000.000
Dikurangi: Akumulasi Depresiasi (2.000.000)

Total Harta 205.200.000

Kewajiban
Hutang Jangka Pendek Rp. 800.000
Modal
Dr. Abidin, Modal 204.400.000
Total Kewajiban dan Modal 205.200.000



”Klinik Pratama Husada”
Laporan Laba Rugi
Per 30 April 2007

Pendapatan Jasa Rp. 16.500.000
Biay Operasional:
Beban Gaji dan Upah 5.400.000
Beban Listrik dan Air 1.600.000
Beban Telepon 500.000
Beban Depresiasi 2.000.000
Beban Perlengkapan 1.100.000
Total Biaya Operasional 10.600.000

Laba Bersih 5.900.000






”Klinik Pratama Husada”
Laporan Perubahan Modal
Per 30 April 2007


Modal, 1 April 2007 Rp.200.000.000
Laba Bersih Bulan April 2007 5.900.000
Dikurangi: Prive 1.500.000
Penambahan Modal 4.400.000
Modal, 30 April 2007 204.400.000

Soal Latihan :
Pada tanggal 1 Oktober 2007 Dr. Taufik mendirikan Klinik Mulia Husada. Transaksi yang terjadi selama bulan Oktober 2007 adalah sebagai berikut:
1. Memulai usaha dengan mendepositokan uang ke bank BRI sebesar Rp. 150.000.000,-
2. Membayar Beban Listrik dan Air Rp. 3.000.000,-
3. Membeli peralatan berupa meja tulis, kursi, lemari arsip dan perlatan medis seharga Rp. 15.000.000,- . Dari jumlah tersebut RP. 10.000.000,- dibayar tunai dan sisanya dengan kredit.
4. Membeli perlengkapan berupa pensil, kertas HVS, dan lain-lain senilai Rp. 700.000,- secara tunai
5. Diterima pendapatan jasa senilai Rp. 10.500.000,-
6. Membayar hutang kepada kreditur Rp. 3.000.000,-
7. Membayar beban Telepon Rp. 1.000.000,-
8. Dr. Taufik mengambil prive senilai Rp. 2.400.000,-
9. Penyusutan Peralatan ditaksir Rp 500.000,-
10. Setelah dilakukan Inventarisir perlengkapan diketahui beban perlengkapan yang terpakai Rp 300.000,-

Pertanyaan:
1. Catat Transaksi di atas dan tentukan saldonya dengan judul kolom sebagai berikut:

Assets = Liabilities + Capital
Kas+Perlengkapan + Peralatan- Akum.Depr. = Hutang Jk. Pendek + Dr. Taufik, Modal

2. Buatlah Neraca, Laporan Laba rugi, dan Perubahan Modal per 31 Oktober 2007.















PERTEMUAN III

FINANCIAL STATEMENT DAN PENCATATAN TRANSAKSI

Financial statement terdiri dari:
1. Balance Sheet (Neraca)
2. Income Statement (Laporan Laba Rugi)
3. Retained Earning Position/Capital Statement (Laporan Perubahan Modal)modal awal dan perubahannya
4. Informative Disclosure (Catatan Atas Laporan Keuangan)
5. Cash Flow (Laporan Arus Kas)


Klasifikasi Aktiva:
1. Aktiva Lancar (Current Assets), terdiri dari:
Kas (cash), Surat berharga (marketable securities), Wesel Tagih (Notes Receivable), Piutang Dagang (Accounts Receivable), Persediaan Barang (Merchandise Inventory), Beban dibayar dimuka (Prepaid Expense), dan Perlengkapan (Supplies).
2. Investasi/Penyertaan (Investment)
Investasi Saham, Obligasi, tanah dan lain-lain
3. Aktiva Tetap (Fixed Assets)
Tanah (Land), Gedung (Building/factory/plant), Mesin-mesin Produksi (Machinery), Kendaraan (Vehicles), dan Peralatan (Equipment), Akumulasi Penyusutan (Accumulation Depreciation).
4. Aktiva tidak Berwujud (Intangible Assets)
Goodwill, Hak Paten, Hak Cipta, Merek dagang
5. Aktiva Lain-lain (Other Assets)
Aktiva yang diperoleh di luar operasi normal perusahaan, misalnya gedung yang diperoleh akibat penyitaan karena perusahaan menang dalam perkara guguatan atas pihak ketiga.

Klasifikasi Kewajiban:
1. Kewajiban Lancar (Notes Payable)
Hutang Dagang (Accounts Payable), Hutang Wesel (Notes Payable), Rekening yang masih harus dibayar (Account Liabilities), Bagian Hutang Jangka Panjang yang Jatuh tempo
2. Kewajiban Jangka Panjang (Long term Liabilities)
Obligasi (Obligation/Bond), Hipotik (Mortgage Payable), Diskonto Obligasi (Discounted Obligation).

Klasifikasi Modal:tanda kepemilikan seeorang thd perusahaan ttntu dgn memperoleh hak suara
1. Modal Saham (Capital Stock)
Saham Istimewa (Prefered Stock) dividennya didahulukan tp g punya hak suara Saham Biasa (Common Stock)
2. Agio Saham (Premium Stock)kelebihan nilai saham diatas harga beli
3. Laba ditahan (Retained Earnings)bagian dr laba bersih untuk investasi/ga dibagiin

Klasifikasi Laporan Laba Rugi:
1. Pendapaatan (Revenue)
Pendapatan Operasional dan Pendapatan Non Operasional yang akan menambah modal
2. Beban (Expense)
Beban Harga Pokok (Operasional)koorbisnis. dan Beban Non Operasional (Administrasi, Umum, dan Pemasaran) yang akan mengurangi modal.
3. Laba Atau Rugi
Laba (Profit) adalah selisih lebih pendapatan di atas beban-beban, Sedangkan Rugi (Loss) adalah sebaliknya.

PENGGUNAAN T ACCOUNT

T account (Rekening perkiraan bentuk T) adalah bentuk Ledger (buku besar) yang disederhanakan ke dalam bentuk huruf T dimana disebelah kiri adalah debit dan disebelah kanan adalah kredit. Mekanisme yang digunakan adalah sistem double entry (pencatatan berpasangan), artinya setiap transaksi akan dicatat ke dalam 2 (dua ) perkiraan atau lebih dengan jumlah yang selamanya sama/seimbang antara debit dan kredit sesuai dengan ketentuan didalam persaman dasar akuntansi. Untuk menyusun T account harus dikuasai terlebih dahulu pengetahuan tentang posisi saldo normal masing-masing rekening baik rekening- rekening di neraca maupun laporan laba rugi.

Jenis Perkiraan Penambahan Pengurangan Saldo Normal
Aktiva Debit Kredit Debit
Kewajiban Kredit Debit Kredit
Modal Kredit Debit Kredit
Penarikan Debit Kredit Debit
Deviden Debit Kredit Debit
Pendapatan Kredit Debit Kredit
Beban Debit Kredit Debit

Berikut ini adalah transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Juni 2007 di balai Pengobatan ”Bakti darma”:
1. Dr. Yahya menginvestasikan Rp 100.000.000 berupa kas ke dalam Balai Pengobatan Bakti Darma.
2. Dibayar untuk 1 tahun sewa kantor Rp. 6.000.000
3. Dibayar Rp.60.000.000 untuk investasi peralatan medis
4. Dibeli peralatan kantor/non medis Rp.2.000.000 per kas.
5. Membeli peralatan kantor senilai Rp. 7.000.000 dari PT. Bahtera
6. Dibeli Perlengkapan Kantor secara kredit dari Toko Trisakti Rp. 1.200.000
7. Dijual peralatan kantor yang tidak terpakai kepada Bahri &Co. Rp .2.000.000 perkas dan Rp 100.000 kredit.
8. Diterima dari Bahri&Co. Rp. 100.0000
9. Dibayar kepada PT. Bahtera Rp.3.500.000
10. Diterima pendapatan pemeriksaaan kesehatan 3 minggu pertama bulan Juni Rp. 17.000.000
11. Dibayar Gaji pegawai untuk 2 orang Rp. 1.200.000 untuk 2 minggu pertama bulan Juni
12. Diterima pendapatan pemeriksaan kesehatan 1 minggu terakhir bulan Juni Rp .1.500.000
13. Dr. Yahya mengambil Rp. 4.000.000 untuk kepentingan pribadi
14. Dibayar Gaji pegawai untuk 2 minggu terakhir Rp. 1.200.000
15. Membayar rekening Telepon bulan yang bersangkutan Rp. 400.000
16. Membayar biaya sevice rutin peralatan medis Rp1.500.000
17. Membayar biaya advertensi Rp 120.000


ASSETS = LIABILITIES + CAPITAL

KAS HUTANG USAHA MODAL, DR. YAHYA
1) 100.000.000 2) 6.000.000 9) 3.500.000 5) 7.000.000 1) 100.000.000
7) 2.000.000 3) 60.000.000 1.200.000
8) 100.000 4) 2.000.000 Jlh. 3.500.000 - 8.200.000 PENARIKAN, DR YAHYA
10) 17.000.000 9) 3.500.000 So. 4.700.000 13 4.000.000
12) 1.500.000 11) 1.200.000
13) 4.000.000 PENDAPATAN JASA PEMERIKSAAN KES.
14) 1.200.000 10) 17.000.000
15) 400.000 12) 1.500.000
16) 1.500.000 Jlh. 18.500.000
17) 120.000 So. 18.500.000
Jlh 120.600.000 - 79.920.000
So. 40.680.000 BEBAN GAJI
11) 1.200.000
14) 1.200.000
PIUTANG USAHA Jlh. 2.400.000
7) 100.000 8) 100.000 So. 2.400.000
So. -
SEWA DIBAYAR DI MUKA BEBAN TELEPON
2) 6.000.000 15) 400.000

PERLENGKAPAN KANTOR BEBAN PEMELIHARAAN RUTIN
6) 1.200.000 16) 1.500.000

PERALATAN MEDIS BEBAN ADVERTENSI
3) 60.000.000
17) 120.000

PERALATAN KANTOR
4) 2.000.000 7) 2.100.000
5) 7.000.000
Jlh. 9.000.000 2.100.000
So. 6.900.000


Jlh. 114.780.000 Jlh. 4.700.000 Jlh. 110.080.000







PENYUSUNAN NERACA PERCOBAAN (TRIAL BALANCE)

Langkah-langkah Penyusunan Trial Balance:
a. Tetapkanlah saldo dari setiap perkiraan
b. Jumlahkanlah saldo debit
c. Jumlahkanlah saldo kredit
d. Bandingkanlah antara jumlah debit dan edit, harus sama.
Jika jumlah debit dan kredit tidak seimbang, berarti terjadi kesalahan , karena:
a. salah pencatatan/pemasukan perkiraan
b. salah dalam menentukan saldo dalam setiap perkiraan
c. salah memindahkan angka dari perkiraan ke dalam trial balance
d. kekeliruan di dalam menjumlahkan angka-angka di kolom-kolo trial balance

Yang harus diwaspadai:
Sekalipun jumlah debit dan kredit di trial balance sudah sama hal itu tidak menjamin pencatatan telah benar 100%. Kesalahan masih mungkin terjadi akibat kekurang telitian misalnya nilai Rp 4.000.000 yang seharusnya dicatat pada debit rekening penarikan pribadi malah dicatat sebagai debit beban gaji.


BALAI PENGOBATAN BAKTI DARMA
NERACA PERCOBAAN
PER 30 JUNI 2008


DEBIT KREDIT
KAS 40.680.000
SEWA DIBAYAR DIMUKA 6.000.000
PERLENGKAPAN KANTOR 1.200.000
PERALATAN MEDIS 60.000.000
PERALATAN KANTOR 6.900.000
HUTANG USAHA 4.700.000
MODAL, DR YAHYA 100.000.000
PENARIKAN, DR. YAHYA 4.000.000
PENDAPATAN JASA PEMERIKSAAAN 18.500.000
BEBAN GAJI 2.400.000
BEBAN TELEPON 400.000
BEBAN PEMELIHARAAN RUTIN 1.500.000
BEBAN ADVERTENSI 120.000

JUMLAH 123.200.000 123.200.000

Soal-Soal:
1. Dr. Rahmat memulai usaha kliniknya yang diberi nama Klinik Mitra Sehat pada bulan Maret 2007 dengan investasi berupa uang kas Rp. 80.000.000.
2. Membayar sewa gedung Rp. 12.000.000 untuk satu tahun
3. Membeli peralatan Medis senilai Rp160.000.000 yang diabayar tunai Rp 45.000.000 sisanya berupa surat perjanjian kesanggupan membayar.
4. Dibeli perlatan kantor secara kredit Rp 1.800.000
5. Membayar beban telepon Rp 500.000
6. Diambil Uang tunai untuk kepentingan pribadi Rp. 3.000.000
7. Diterima pendapatan pemeriksaan kesehatan untuk setengah bulan pertama Rp. 16.500.000
8. Membayar gaji pegawai untuk 2 orang Rp. 1.500.000 untuk dua minggu pertama ulan Maret
9. Dibayar per kas premi asuaransi peralatan medis untuk satu tahun Rp 1.500.000
10. Membayar hutang peralatan kantor Rp 1.200.000
11. Membeli perlengkapan Rp 600.000
12. Dierima pendapatan jasa pemeriksaan kesehatan untuk setangah bulan terakhir Rp 13.200.000
13. Membayar gaji pegawai untuk dua minggu terkahir bulan Maret RP. 1.500.000
14. Dibayar rekening tagihan listrik dan Air PDAM Rp. 1.200.000
15. Membayar biaya service rutin peralatan medis Rp. 2.100.000
16. Diambil tunai oleh pemilik Rp 2.800.000 untuk kepentingan pribadi.





































PERTEMUAN EMPAT
JURNAL UMUM DAN POSTING

MENGAPA PERLU JURNAL?
Apabila transaksi-transaksi langsung dicatat dalam ledger, mungkin akan terjadi kesalahan berupa mencatat dalam ledger yang salah atau mencatat kedalam ledger yang benar tetapi letak debit atau kreditnya salah. Oleh karenanya, maka harus dibuat Book of original Entry (buku pencatatan asli) atau jurnal.

Langkah Melakukan penjurnalan setiap transaksi:
1. Tentukan apakah transaksi itu mempengaruhi aktiva, kewajiban, modal, pendapatan atau beban.
2. Tentukan apakah transaksi itu merupakan penambahan atau pengurangan
3. Tentukan apakah dicatat sebelah debit atau kredit.

POSTING
Adalah kegiatan atau prosedur pemindahan ayat-ayat jurnal ke dalam ledger/rekening/akun/perkiraan/buku besar. Posting dilakukan berurutan sesuai dengan peristiwa terjadinya transaksi. Setiap rekening dalam buku besar disusun berdasarkan nomor akunnya.

Langkah-langkah Posting:
1. Catat tanggal yang ada dalam jurnal
2. Pindahkan jumlah debit dalam ayat jurnal ke sisi debit buku besar rekening yang bersangkutan
3. Pindahkan jumlah kredit dalam ayat jurnal ke sisi kredit buku besar rekening yang bersangkutan
4. Cantumkan nomor halaman jurnal ke dalam kolom referensi
5. Catat Nomor Referensi dalam jurnal ke buku besar sebagai Nomor Rekening.


Contoh Transaksi:
Ibrahim, S.Si, Apt, seorang Apoteker membuka Apotik Mugi Sehat tarhitung tanggal 1 Juli 2006. Berikut ini urutan tanggal dan peristiwa transaksi selama bulan Juli 2006.
1. Menyerahkan uang tunai Rp 40.000.000 dan satu gedung senilai Rp 300.000.000 sebagai modal.
3. Dibeli peralatan kantor dengan tunai senilai Rp. 12.000.000
4. Dibeli Obatan-obatan berbagai jenis Rp. 80.000.000 secara kredit
7. Diterima pendapatan penjualan obat minggu pertama Rp. 2.500.000
8. Dibayar biaya advertensi sebesar Rp 80.000
9. Membayar sebagian hutang obat Rp 20.000.000
14. Diterima pendapatan penjualan obat minggu kedua Rp. 6.000.000
15. Dibayar tunai pembelian perlengkapan kantor senilai Rp 200.000
16. Dibayar beban listrik, telepon dan air Rp. 600.000
21. Diterima pendapatan penjualan obat minggu ketiga Rp. 11.500.000
25. Diambil uang senilai Rp. 800.000 untuk keperluan pribadi.
26. Dibayar biaya advertensi Rp. 1.000.000
28. Diterima pendapatan penjualan Obat minggu keempat Rp. 20.000.000
29. Dibayar hutang obat Rp. 20.000.000
31. Membayar gaji 3 orang pegawai Rp. 3.000.000,-
31. Diambil uang Rp 1.500.000 untuk keperluan pribadi

MEMPERBAIKI KESALAHAN DALAM MENJURNAL
1. Jika kesalahan terjadi dalam jurnal dan belum dilakukan posting, maka pembetulan tidak boleh dengan cara menghapus dan mengganti dengan yang baru melainkan dengan membuat satu garis melalui kesalahan itu dan selanjutnya menuliskan rekening atau jumlah yang betulnya.
2. Jika kesalahan dalam jurnal baru diketahui setelah posting, maka pembetulan harus dilakukan dengan cara membuat suatu entri baru dalam jurnal.

Misal:
1. Setelah posting diketahui terjadi kesalahan penjurnalan dimana penjualan tunai Rp 200.000 dicatat sebagai penerimaan piutang.
Tanggal 31 Juli 2006
Kas Rp. 200.000
Piutang Usaha Rp 200.000
Diperbaiki dengan cara:
Piutang usaha Rp 200.000
Penjualan Rp. 200.000
Hasilnya menjadi:
Kas Rp. 200.000
Penjualan Rp. 200.000

2. Setelah posting diketahui kesalahan penjurnalan pembelian perlengkapan Rp. 600.000 secara kredit dijurnal sebagai penjulan perlengkapan secara kredit.
Tanggal 31 Juli 2006

Piutang usaha Rp.600.000
Perlengkapan Rp.600.000
Diperbaiki dengan cara:
Perlengkapan Rp.1.200.000
Piutang Usaha Rp. 600.000
Hutang Usaha Rp. 600.000
Hasilnya menjadi:
Perlengkapan Rp.600.000
Hutang Usaha Rp 600.000

PERTEMUAN LIMA
ADMINISTRASI PEMBELIAN DAN PENGELUARAN UANG KAS

PROSEDUR PEMBELIAN
Bagian pembelian di sebuah perusahaan harus menyimpan data atau katalog mengenai kualitas, perkembangan harga, distributor atau penyedia barang yang bonafid, dan informasi lain yang penting. Untuk mencegah terjadinya kesalahan pembelian, maka pembelian diadministrasikan secara tertulis dalam formulir khusus dan dibuat beberapa rangkap sesuai keperluan perusahaan. Secara singkat prosedur pembelian digambarkan sebagai berikut:

Formulir pesanan Faktur Pembelian Pemeriksaan&Laporan Penerimaan Barang
Pembayaran

Syarat Jual Beli:
1. Loko Gudang: ditanggung pembeli
2. Franko Gudang: ditanggung penjual
3. Cost, Freight and Insurance (CIF): penjual menanggung biaya kirim dan asuransi
4. Potongan Harga: a. Potongan Tunai : Sales Discount, Purchase Discount
Contoh: 2/10, n/30 atau 3/10, n/45
b. Potongan Harga: Potongan sebagai kebijakan pelayanan

BUKU PEMBELIAN (PURCHASE JOURNAL)
Biasanya Pembelian kredit oleh perusahaan dagang terdiri dari: Barang dagangan, perlengkapan, dan peralatan serta aktiva tetap yang lain. Untuk kolom yang jarang pembeliannya cukup dibuat Sundry Account (kolom rekening serba-serbi).
Contoh Transaksi:
Berikut ini transaksi pembelian apotik Daya Farma secara kredit bulan Mei 2006:
2. Dibeli obat dari PT.Indofarma global medika Rp.2.100.000,-
4. Dibeli obat dari PT. Rajawali Nusindo Rp. 1.200.000,-
8. Dibeli perlengkapan toko Rp. 190.000 dan perlengkapan kantor Rp.110.000 dari CV. Rapi
11. Dibeli obat dari PT. Dos ni Roha Rp. 650.000
15. Dibeli peralatan kantor Rp.1.850.000 dari CV Mebel Indah
18. Dibeli obat dari PT. Anugrah Argon Medika Rp. 3.000.000
24. Dibeli dari CV. Pembina Peralatan Toko Rp. 240.000
27. Dibeli obat dari PT. Parit Padang Rp.1.560.000
28. Dibeli Perelngkapan toko Rp. 260.000 dan perlengkapan kantor Rp.140.000 dari PT.Arjun
29. Dibeli obat dari PT. Kimia Farma Rp. 700.000




PURCHASE RETURN AND ALLOWANCE
(RETUR PEMBELIAN DAN PENGURANGAN HARGA)
Retur pembelian dan pengurangan harga terjadi akibat pengiriman barang oleh penjual ternyata tidak sesuai dengan formulir pesanan, maka pembeli membuat nota debit yang berisi tentang pengembalian barang dagangan dan akan di balas penjual dengan nota kredit.
Contoh Nota Debit:



Nota Debit
Apotik Daya Farma
Jl. Seger Sehat No.11 Bandung
Kepada PT. Parit Padang
Jl. Jakarta No. 30 Bandung
Kami telah mendebit perkiraan Suadara sebagai berikut:
Lima Dus obat Rifampicin isi 100 kapsul No. Faktur 67/a
Dikembalikan lewat petugas kami.
Pesanan No. 60C @ 100.000
Rp. 500.000

Akibat adanya Retur Pembelian di atas maka pada saat diterima nota kredit, dicatat jurnal:
Hutang Usaha Rp. 500.000
Retur Pembelian dan Pengurangan Harga –PT Parit padang Rp. 500.000

Atau dicatat dalam jurnal khusus sebagai berikut:

Jurnal Retur Pembelian dan Pengurangan harga Hal. 1
Tanggal Akun di debit Debit Memo Post Ref. Jumlah
Mei
2006 28 PT. Parit Padang A.02 √ 500.000

Akibat jurnal di atas, maka pengaruhnya pada buku besar adalah:
1. Hutang Usaha berkurang di debit Rp. 500.000
2. Retur Pembelian dan Pengurangan harga bertambah di kredit Rp. 500.000.
3. Buku besar tambahan untuk Hutang Usaha pada PT. Parit Padang berkurang di debit Rp 500.000

Jurnal Umum; berpengaruh langsung pada buku besar saat terjadinya tanggal transaksi
Jurnal Khusu: pengaruhnya pada buku besar dicatat sebesar jumlah total pada akhir periode

CASH PAYMENT JOURNAL
(BUKU PENGELUARAN KAS)
Buku pengeluaran kas adalah jurnal khusus pengeluaran kas akibat adanya transaksi pembayaran utang usaha, pembayaran upah, pembayaran sewa dan lain-lain.

Contoh Transaksi:
Berikut ini adalah transaksi Apotik Mustika Farma selama bulan Mei Tahun 2006.
1. Dibeli obat dari PT. Anugrah Argon Medika secara kredit Rp. 1.200.000 syarat 2/10, n/40
2. Dibeli secara kredit dari CV. Dwi Derma Perlengkapan kantor senilai Rp. 400.000, perlengkapan toko senilai Rp. 300.000 dan peralatan toko senilai Rp 150.000
3. Mengeluarkan cek No. FE 24026 Rp 900.000 untuk sewa bulan Mei 2006
4. Dikembalikan peralatan toko sebesar Rpo 200.000 kepada CV Dwi Derma
5. Dibayar premi asuransi Rp 180.000 untuk jangka waktu 6 bulan dengan cek no. FE 24027
6. Membeli obat dari PT. Indofarma global Medika dengan total faktur Rp. 6.000.000 syarat 2/10,n/45
8. Membeli obat dari PT. Sawah Besar Farma dengan total faktur Rp. 5.000.000 syarat 2/10,n45
10. Dilunasi pembelian kepada PT. Anugrah Argon Medika tanggal 1 Mei 2006 dengan cek No. FE 24029
12. Dibayar pembelian kepada CV Dwi Derma tanggal 2 Mei 2006 dengan cek NO. FE 24030
13. Telah dibayar beban advertensi dengan cek no. FE 24031 Rp 400.000
14. Dibeli obat dari PT. Anugrah Argon Medika dengan total faktur Rp 4.800.000 syarat 2/10, n/30
16. Dibeli dari CV Dwi Derma secara kredit perlengkapan toko Rp 350.000 dan Perlengkapan kantor Rp 150.000
18. Dibeli dari PT. Dos Ni Roha obat Rp. 3.200.000 syarat pembelian 2/10;n/30
19. Diterima kredit memo sebesar Rp. 300.000 dari PT. Anugrah Argon Medika untuk barang yang dikembalikan
21. Dibayar kepada PT Anugrah Argon Medika untuk pembayaran faktur tanggal 14 Mei 2006 dengn cek no,FE,24032
22. Dibeli obat dari PT. Sawah Besar farma dengan total faktur Rp 3.750.000 syarat 2/10;n/30
24. Dibeli tunai peralatan toko Rp 800.000 dengan cek no.FE24033
27. Dibayar kepada PT. Dos Ni Roha dengan cek no.FE 24034 untuk pelunasan faktur tanggal 18 Mei 2006
28. Dibayar gaji bulan Mei 2006 Rp 2.400.000 cek no. Fe 24035
29. Pemilik, Tn. Dimas mengambil uang Rp 750.000 cek no FE 24036
30. Dilunasi kepada PT. Sawah Besar Farma dengn cek no. FE 24037
Pertanyaan:
A. Buatlah: Jurnal pembelian, jurnal pembayaran kas, dan jurnal Pengembalian pembelian
B. Buatlah Buku Besar dengan memasukan saldo per 1 Mei 2006 sebagai berikut:
11. Kas Rp. 5.240.000
14 Asuransi dibayar dimuka 800.000
15 Perlengkapan toko 200.000
16 Perlengkapan Kantor 725.000
17 Peralatan toko 390.000
18 Perlatan Kantor 8.400.000
31 Modal, Dimas 100.000.000
32 Penarikan, Dimas
51 Pembelian
52 Potongan Pembelian
53 Retur Pembelian dan pengurangan harga
54 Beban Gaji
55 Beban Advertensi
56 Beban Sewa
C. Buatlah Buku Tambahan Utang Usaha:
- PT. Anugrah Argon Medika
- PT. Indofama Global Medika
- PT. Sawah Besar Farma
- CV Dwi Derma
- PT Dos Ni Roha


PERTEMUAN ENAM
ADMINISTRASI PENJUALAN DAN PENERIMAAN KAS

Contoh Transaksi:
Berikut ini adalah sebagian persitiwa transaksi yang terjadi bulan Juni tahun 2007 pada PT. Indofarma Global Medika sebuah perusahaan PBF (Pedagang Besar Farmasi) Ternama di Kota Bandung.

Juni 1 Menerbitkan 5.000 lembar saham dan diterima tunai Rp 13.500.000,-
5 Menjual obat kepada Apotik A faktur No. F.01 Rp. 9.750.000,- syarat 2/20; n/60
6 Meminjam sebesar Rp. 5.000.000 dari bank BCA dengan memberi wesel bayar (notes payable) 90 hari.
7. Menjual Obat kepada apotik B Rp 2.400.000 tunai, termasuk pajak penjualan Rp. 120.000,-
9 Menjual obat kepada apotik C faktur No. F.02 Rp. 3.600.000,- syarat 2/10; n/30
11 Telah diterima kembali sebagian obat dari apotik A sejumlah Rp 150.000,- karena tanggal kadulawarsa terlalu dekat dan dterbitkan nota kredit no. 26
15 Menjual obat kepada apotik D Rp 850.000,- syarat 2/20;n/50, No F.03
19 Menerima pembayaran dari apotik C
20 Menjual obat kepada apotik E Rp 1.200.000,- tunai termasuk pajak penjualan Rp 30.000,-.
21 Mengeluarkan 120 lembar saham untuk investor baru dan diterima tunai Rp 720.000,-
25 Menerima pembayaran dari apotik A
27 Menjual Obat kepada apotik C faktur No F.04 Syarat 2/10;n/30 Rp. 1.800.000,-
29 Menjual Obat kepada apotik F Rp 1.600.000 tunai termasuk pajak penjualan Rp. 80.000,-
30 Menjual obat kepada apotik D dengan faktur no F.05 syarat 2/10;n/60 Rp 1.520.000,-
30 Diterima kembali sebagian obat dari apotik C karena tidak sesuai pesanan dan diterbitkan nota kredit no 27 dengan nilai Rp 200.000,-

Diminta;
1. Buatlah jurnal khusus penjualan , jurnal khusus penerimaan kas dan jurnal khusus pengembalian penjualan serta jurnal umum/rek.serba serbi.
2. Buatlah buku besar atas transaksi-transaksi tersebut.
3. Buatlah buku tambahan untuk piutang yang timbul.







PERTEMUAN IX
DEFERAL DAN ACCRUAL

Defferal dan acrual adalah akun-akun yang terjadi akibat prestasi yang sudah diserahkan perusahaan kepada pihak ketiga tidak jatuh bersamaan waktunya dengan hasil yang diterima atau sebaliknya, prestasi yang sudah dinikmati perusahaan dari pihak ketiga tidak jatuh bersamaan dengan penyerahan pembayaran. Contoh: piutang yang masih harus diterima atau gaji yang masih harus dibayar.

Ada empat jenis akun defferal dan acrual, yaitu:
1. Beban dibayar di muka (Prepaid expense/Deffered Expense), akun ini terjadi karena prestasi sudah diserahkan tetapi hasilnya belum diterima oleh perusahaan. Pada saat terjadi transasksi, Akun ini harus dicatat sebagai aktiva pada neraca. Jika pada saat terjadi transaksi akun ini dicatat sebagai akun beban, maka pada akhir tahun akun ini harus direversing. Contoh akun ini: Sewa dibayar dimuka ( prepaid rent) atau asuransi dibayar dimuka (prepaid insurance)
2. Beban yang masih harus dibayar (accrued expense), akun ini terjadi karena prestasi pihak lain yang sudah dinikmati perusahaan tetapi belum dibayr oleh perusahaan, akun ini harus dicatat sebagai hutnag lancara pada Neraca. Akun ini memerlukan reversing pada saat terjadi pembayaran. Contoh: gaji yang masih haru dibayar atau hutang gaji
3. Pendpaatan diterima di muka (Deferred Income), akun ini terjadi karena adanya pembayran dari pihak lain kepada perusahaan sedangkan perusahaan belum menyerahkan prestasi apapun, akun ini harus dicatat sebagai hutang perusahaan pada neraca. Jika pada saat diterima penyerahan pemabayran uang muka dicatat oleh bagian akuntansi sebagai pendapatan, maka pada saat prestasi telah diberikan oelh perusahaan dan terjadi pembayaran penuh dari pihak ketiga, bagian akuntansi harus melakukan reversing.
4. Pendapatan yang masih ahrus diakui (Accrued Income), akun ini terjadi karena perusahaan telah memberikan prestasi kepada pihak lain namun belum menerima pembayaran, akun ini ciata di nerca sebagai aktivalancar.


Contoh Soal:
1. Pada tanggal 1 juni 2007 perusahaan membayar premi asuransi untuk satu tahun yang akan datang Rp 312.000
2. Pada tanggal 31 Desember 2007 dilakukan penyesuaian atas beban asuransi yang sebenarnya serta melakukan closing entries
3. pada tanggal 2 Januari 2008 perusahaan membayar biaya tambahan premi sebesar Rp. 182.000
4. Pada tanggal 31 Januari 2008 Dilakukan pencatatan beban asuransi yang terjadi selama bulan tersebut.
Diminta : Buatlah jurnal-jurnal yang diperlukan berikut buku besarnya atas akun-akun tersebut diatas, jika:
a. Kasus I (Tidak perlu reversing, karena beban dibayar dimuka diakui sebagai aktiva)
b. Kasus II (Perlu reversing, karena beban dibayar dimuka diakui sebagai beban)


Penyelesaian Kasus I:
Tanggal 1-06-2007:
Beban Asuransi Dibayar Di Muka Rp.312.000
Kas Rp.312.000
Tanggal 31-12-2007:

Adjusment:
Beban asuransi (26.000 x7bln) Rp.182.000
Beban Asuransi dibyar di Muka Rp. 182.000
Closing:
Ringkasan Hasil Rp.182.000
Beban asuransi Rp.182.000

Tanggal 2-01-2008:
Beban Asuransi di bayar dimuka Rp 182.000
Kas Rp.182.000

Tanggal 31-01-2008:
Beban Asuransi Rp. 26.000
Beban Asuransi dibayar di muka Rp 26.000

Buku Besar :

2007

Beban Asuransi Dibayar Dimuka Beban Asuransi









2008

Beban Asuransi Dibayar Dimuka Beban Asuransi








Penyelesaian Kasus II:
Tanggal 1-06-2007:
Beban Asuransi Rp.312.000
Kas Rp.312.000

Tanggal 31-12-2007:
Adjusment:
Beban asuransi dibyar di muka (Rp.312.000-182.000) Rp.130.000
Beban Asuransi Rp. 130.000
Closing:
Ringkasan Hasil Rp.182.000
Beban asuransi Rp.182.000

Tanggal 2-01-2008:
Beban Asuransi di bayar dimuka Rp 182.000
Kas Rp.182.000

Tanggal 31-01-2008:
Beban Asuransi Rp. 26.000
Beban Asuransi dibayar di muka Rp 26.000

Reversing sebagian karena baru jatuh tempo satu bulan (130.000 : 5 bulan)

Buku Besar :

2007

Beban Asuransi Dibayar Dimuka Beban Asuransi








2008

Beban Asuransi Dibayar Dimuka Beban Asuransi







Soal Latihan Kasus III: (Pendapatan diterima dimuka dicatat sebagai hutang, tidak perlu reversing):
1. Pada tanggal 1 Oktober 2007 Diterima pendapatan sewa yang dibayar dimuka sebesar Rp.720.000 dan dicatat sebagai hutang
2. Pada Akhir tahun dicatat pendapatan sewa yang sebenarnya dan dilakukan closing entries
Diminta: Buat Jurnal Defferal dan Accrual yang diperlukan dan buku besar

Soal Latihan Kasus IV: (Pendapatan diterima dimuka dicatat sebagai Pendapatan, perlu reversing):
1. Pada tanggal 1 Oktober 2007 Diterima pendapatan sewa yang dibayar dimuka sebesar Rp.720.000 dan dicatat sebagai pendapatan
2. Pada Akhir tahun dicatat pendapatan sewa yang sebenarnya dan dilakukan closing entries
3. Pada akhir janauri 2008 dilakukan reversing atas pendapatan sewa yang sebenarnya yang jatuh di bulan tersebt
Diminta: Buat Jurnal Defferal dan Accrual yang diperlukan dan buku besar

Penyeesaian:
Kasus I:
Tanggal/ 1/10/2007 :
Kas Rp. 720.000
Pendapatan sewa diterima dimuka Rp. 720.000
Tanggal 31/12/2007:
Adjusting:
Pendapatan sewa diterima dimuka (720.000/12 x 3 bln) Rp. 180.000
Pendapatan sewa Rp. 180.000
Closing:
Pendapatan sewa Rp. 180.000
Ringkasan hasil Rp.180.000

Buku Besar tahun 2007:

Pendapatan sewa diterima di muka Pendapatan sewa







Penyelesaian:
Kasus II:

Tangga/ 1/10/2007 :
Kas Rp. 720.000
Pendapatan sewa Rp. 720.000
Tanggal 31/12/2007:


Adjusting:

Pendapatan sewa (720.000- (720.000/12 x 3 bln)) Rp. 540.000
Pendapatan sewa diterima dimuka Rp. 540.000
Closing:
Pendapatan sewa Rp. 180.000
Ringkasan hasil Rp.180.000

Tanggal 31/01/2008:
Pendapatan sewa (540.000/9 bln)) Rp. 60.000
Pendapatan sewa diterima dimuka Rp. 60.000


Buku Besar tahun 2007:

Pendapatan sewa diterima di muka Pendapatan sewa










Buku Besar tahun 2008:

Pendapatan sewa diterima di muka








Soal Latihan:
1. Pada tanggal 1 Maret 2001 Rumah Sakit Sejati membayar premi asuransi untuk gedung –gedung rumah sakit sebesar Rp. 18.000.000 untuk jangka waktu asuransi 2 tahun.
Diminta:
• Buatlah jurnal penyesuaian dan jurnal penutupan pada tanggl 31 desembe 2001 dan jurnal pembalik pada tanggal 31 Januari 2002, jika pada saat membayar asuransi dicatat sebagai beban asuransi
• Buatlah jurnal penyesuaian dan jurnal penutupan pada tanggl 31 desembe 200, jika pada saat membayar asuransi dicatat sebagai asuansi dibayar dimuka



PERTEMUAN X

KAS

Dana Kas Kecil:
Dana Kas Kecil adalah Kas yang dibentuk untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya sering terjadi namun dalam jumlah yang relatif kecil, misalnya pembelian prangko, photocopy, dll. Dana kas kecil biasanya dibentuk untuk jangka waktu tertentu misalnya satu minggu atau satu bulan. Dana ksa kecil diambil dari kas Besar.

Jurnal Pembentukan kas kecil (Petty cash):

Kas Kecil Rp. 2.500.000
Kas Rp. 2.500.000

Jurnal Pengisian ulang kas kecil:
Biaya Transportasi Rp. 500.000
Biaya pengiriman surat pos Rp. 400.000
Biaya Perlengkapan kantor Rp. 650.000
Biaya lain-lain Rp. 800.000
Kas Rp.2.350.000

Sistem Voucher:
Sistem voucher adalah prosedur untuk mengendalikan pengeluarn kas dimana dalam penerapannya sistem ini dilengkapi dengan dokumen berupa:
1. Voucher yang berfungsi untuk mencatat transaksi yang menimbulkan kewajiban perusahaan (hutang). Dokumen ini berbentuk otorisasi tertulis untuk mengeluarkan cek.
2. Voucher register berfungsi sebagai jurnal khusus, setiap voucher dicatat dengan mendebit perkiraan pembelian, beban iklan, beban perlengkapan atau perkiraan lainnya dan diimbangi dengan mengkredit perkiraan hutang voucher.
3. Kas register berfungsi sebagai pengganti jurnal pengeluaran kas, setiap cek yang telah dibayar dijurnal dengan mendebit akun hutang voucher dan mengkredit kas.
4. Voucher yang belum dibayar berfungsi sebagai buku pembantu hutang.

Bank Rekonsiliasi:
Bank rekonsiliasi artinya membuat suatu analisa hal-hal yang menimbulkan perbedaan antara catatan perusahaan mengenai simpanannya di bank dengan catatan yang ada di bank itu sendiri supaya pengakuannya menjadi sama.
Penyebab perbedaan pengakuan:
1. Bunga simpanan dan beban administrsai Bank.
2. Perusahan menerima bukti pengiriman uang dari langganan, sedang bank belum menerima (deposit in transit)
3. Bank menerima kiriman uang dari langganan perusahaan, sedang perusahaan belum menerima laporannya
4. Bank telah mengirimkan uang pada kreditur perusahaan, sedang perusahaan belum menerima laporannya.
5. Perusahaan telah mengeluakan cek pembayaran buat kreditur, sedang bank belum menerima cek tersebut (outstanding check)
6. Perusahaan menerima cek dari langganan yang ternyata cek kosong (non suffecience fund)
7. Terdapat kesalahan pencatatan di bank
8. Terdapat kesalahan pencatatan di perusahaan

Contoh kasus:
Rumah Sakit Harapan Jaya telah menerima perkiraan koran dari bank Duta per 31 Mei 1992 yang menunjukkan saldo sebesar Rp 4.480.000 sedangkan menurut catatan rumah sakit saldonya per 1 Mei 1992 berjumah sebesar Rp 8.800.000. Selama bulan Mei 1992 buku penerimaan uang menurut rumah sakit berjumlah Rp18.920.000 sedangkan jumlah cek yang keluar sebesar Rp 26.290.000. Perbedaan yang terjadi dalam melakukan rekonsiliasi yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Bank telah mengkredit jasa giro untuk bulan Mei 1992 sebesar Rp 29.000
b. Cek nomor B. 4328 sebesar Rp 808.000 dicatat dalam buku pengeluaran sebesar Rp 880.000. Selanjutnya satu lembar cek nomor B 4347 sebesar Rp 3.148.000 salah dibukukan sebesar Rp 2.284.000. kedua lembar cek ini dipakai untuk pembelian bahan medis.
c. Cek-cek yang beredar (outstanding cek) adalah:
Nomor 4326 Rp 500.000
Nomor 4332 Rp. 1.600.000
Nomor 4356 Rp. 4.800.000
Nomor 4369 Rp. 300.000
Rp 7.200.000
d. Terdapat setoran sejumlah Rp 3.700.000 yang mana jumlah ini belum tercatat dalam perkiraan bank
e. Bank telah mengkredit rekening rumah sakit Harapan jaya karena ada kiriman dari perusahaan asuransi untuk biaya pasien sebesar Rp 799.600, tetapi jumlah ini belum dilaporkan pada rumah sakit.
f. Bank telah membebankan biaya administrasi bulanan sbesar Rp 6.600 jumlah ini belum dicatat oleh rumah sakit.
g. Perusahaan telah menyetorkan satu lembar cek atas pembayaran pasien sebesar Rp 480.000. cek ini ditolak oleh bank karena dananya tidak mencukupi, akan hal ini perusahaan belum mengetahui.
Diminta:
1. Buatlah Bank rekonsiliasi per 31 mei 1992
2. Buatlah ayat jurnal penyesuaian yang dibutuhkan

Penyelesian:
Saldo menurut perusahaan tanggal 31 Mei 1992:
Saldo 1 Mei 1992 Rp 8.800.000
Penerimaan Rp 18.920.000+
Total kas Rp. 27.720.000
Pengeluaran Rp. 26.290.000-
Saldo Kas 31 Mei 1992 Rp. 1.430.000






Rumah Sakit Harapan Jaya
Bank Rekonsliasi
Per 31 Mei 1992

























Jurnal penyesuaian rekonsiliasi:
a. Mencatat penerimaan jasa giro
Kas Rp. 29.000
Pendapatan jasa giro Rp. 29.000
b. Mencatat penambahan kas akibat selisih lebih pembayaran hutang usaha
Kas Rp. 72.000
Hutang Usaha Rp. 72.000

Mencatat pengurangan kas akibat selisih kurang pembayaran hutang usaha
Hutang Usaha Rp. 864.000
Kas Rp. 864.000
c. Tidak dijurnal
d. Tidak dijurnal
e. Mencatat penambahan kas akibat penerimaan atas piutang yang dibayar
Kas Rp. 799.600
Piutang Usaha Rp. 799.600
f. Mencatat pembayaran beban administrasi bank
Biaya Lain-lain Rp. 6.600
Kas Rp. 6.600
g. Mencatat pengurangan kas akibat penolakan cek kosong oleh bank
Piutang Usaha Rp. 480.000
Kas Rp. 480.000
Soal Latihan:
Menurut catatan pembukuan rumah sakit Suci Indah saldo simpanannya di bank pada tanggal 31 Desember 1991 adalah sebesar Rp 44.880.000. tetapi menurut catatan dari rekening koran yang dikirimkan bank berjumlah sebesar Rp. 62.012.000
Hal-hal yang menimbulkan perbedaan antara lain:
a. Rumah sakit telah menerima bukti pengiriman pembayaran dari perusahaan asuransi atas biaya pasien Rp 7.500.000, tetapi jumlah itu belum tercatat di bank.
b. Perusahaan telah mengeluarkan cek kepada pemasok obat no C.0875 Rp. 3.000.000 tetapi sampai akhir periode belum diuangkan oleh pemasok tersebut.
c. Rumah sakit telah mengeluarkan cek untuk melunasi utangnya kepada pemasok sebesar Rp 1.500.000 tetapi salah dicatat sebesar Rp 5.100.000. cek tersebut telah diuangkan di bank.
d. Bank telah menerima pembayaran piutang pasien dari perusahaan asuransi Rp 20.250.000 dan membebankan biaya transfer sebesar Rp. 50.000 ke dalam rekeing rumah sakit. Mengenai hal ini belum diterima laporannya oleh rumah sakit.
e. Bank telah membuat kesalahan, karena cek yang dikeluarkan rumah sakit kepada pemasok sebesar Rp 2.000.000 ternyata dibukukan Rp 200.000 dalam catatan bank.
f. Rumah sakit menrima pelunasan piutang pasien dalam bentuk cek Rp 4.000.000, tetapi ketika disetorkan ke bank oleh petugas ternyata dana cek tersebut tidak mencukupi, sehingga bank menolak cek etrsebut.
g. Rumah sakit menerima jasa simpanan Rp 40.000 tetapi mengenai hal ini rumah sakit belum mengetahui.
h. Bank membebankan biaya adminsitrasi Rp 8.000 tetapi rumah sakit belum mengetahui akan hal ini.
Diminta:
1. Buatlah rekonsiliasi bank per 31 desember 1991
2. Buatlah ayat jurnal penyesuaian yang berkaitn engan rekonsiliasi tersebut.
























PERTEMUAN XI

PAYABLES DAN RECEIVABLES

Pada saat perusahaan mempunyai piutang usaha dan piutang tersebut sudah jatuh tempo, tetapi langganan/rekanan perusahaan tidak sanggup membayar, maka langganan/rekanan tersebut membuat surat kesanggupan membayar utang (promisory notes) yang menjadi dasar dibuatnya wesel bayar (notes payables) yang akan muncul dalam neraca rekanan sedangkan dalam neraca perusahaan kita akan muncul sebagai wesel tagih (notes receivable). Wesel tagih biasanya mengandung tingkat bunga tertentu yang akan dibayar oleh langganan, namun ada juga wesel tagih tanpa bunga.

Istilah-istilah yang mungkin muncul dalam pembahasan ini adalah:
Tanggal Jatuh Tempo (TJT), Bunga Jatuh Tempo (BJT), Nilai Jatuh Tempo (NJT), Jangka waktu Penjualan (JWP), Jangka waktu Diskonto (JWD), Diskonto.

TJT = Tanggal dimana dimana wesel tagih akan dibayar.

Cara menentukan Tanggal Jatuh Tempo
Misalnya diketahui tanggal pemilikan wesel tagih adalah tanggal 7/4/2007 dan jatuh tempo wesel 90 hari, tingkat bunga 16% dengan nilai nominal Rp 6.000.000,00, wesel tersebut didiskonto ke bank pada tanggal 7/5/2007 pada tingkat bunga 20%.
Tentukan:
Tanggal Jatuh Tempo (TJT), Bunga Jatuh Tempo (BJT), Nilai Jatuh Tempo (NJT), Jangka waktu Penjualan (JWP), Jangka waktu Diskonto (JWD), Diskonto, jurnal saat diskonto, jurnal saat jatuh tempo bagi bank/pembeliwesel, dan jurnal jatuh tempo buat perusahaan seandainya tidak melakukan diskonto!!

Jawab:
Cara menentukan Tanggal Jatuh Tempo

7/4/07 – 30/4/07 = 24 hari
1/5/07 – 31/5/07 = 31 hari
1/6/07 – 30/6/07 = 30 hari
85 hari
90 hari- 85 hari = 5 hari, berarti tanggal jatuh tempo adalah 5 hari setelah tanggal 30/6/07 yakni tangal 5/07/07.

Cara menentukan bunga jatuh tempo

BJT = 90 /360 x 16 % x 6.000.000 = 240.000

Cara menentukan nilai jatuh tempo

NJT = Pokok + bunga = 6.000.000 + 240.000 = 6.240.000




Cara menentukan jangka waktu Penjualan dan jangka waktu diskonto
Tanggal 7/4/07 – 30/4/07 = 24 hari
1/5/07 – 7/5/07 = 7 hari
JWP =31 hari
JWD = Umur wesel tagih – JWP = 90 -31 = 59 hari

Jangka waktu penjualan = jangka waktu pemilikan wesel tagih sampai dengan wesel tagih dijual/didiskonto.
Jangka waktu diskonto = jangka waktu wesel tagih setelah didiskonto sampai dengan wesel tagih tersebut jatuh tempo.

Jurnal Diskonto bagi perusahaan:
Kas Rp. 6.035.467
Pendapatan bunga Rp. 35.467
Wesel Tagih Rp. 6.000.000

Perhitungan:
Bunga yang harus dibayar perusahaan akibat diskonto = 59/360 x 20% x 6.240.000 = 204.533

Nilai nominal Rp. 6.000.000
BJT 240.000+
NJT 6.240.000
Bunga Diskonto 204.533-
Kas yang diterima 6.035.467
Nilai nominal 6.000.000
Pendapatan bunga 35.467

Jurnal penerimaan wesel jatuh tempo bagi bank/pembeli wesel tagih:
Kas Rp. 6.240.000
Pendapatan bunga Rp. 204.533
Wesel tagih Rp. 6.035.467

Jurnal jatuh tempo wesel tagih seandainya tidak didiskonto:
Kas Rp. 6.240.000
Pendapatan bunga 240.000
Wesel 6.000.000















Soal Latihan!!!
Berikut ini wesel tagih PT Indofarma Global Medika:
No. Nilai
Nominal
(Rp) Tingkat Bunga Tanggal Pemilikan Jaka waktu
(hari) Tanggal Diskonto Tingkat Bunga Diskonto
1 6.000.000 16% 7/4/91 90 7/5/91 20%
2 4.000.000 10/5/91 60
3 9.000.000 20% 12/6/91 120 10/9/91 18%
4 3.000.000 5/7/91 60 19/8/91 24%
5 4.800.000 18% 20/7/91 60


Diminta:
A. Dari setiap nomor wesel hitunglah tanggal jatuh temponya serta berapajumlah bunga yang harus diterima
B. Untuk wesel no 1,3, dan 4 hitunglah:
• Nilai Jatuh Tempo
• Jangka waktu Penjualan
• Bunga yang Harus Dibayar/diterima
C. Buatlah jurnal diskonto untuk perusahaan
D. Buatlah jurnal untuk wesel jatuh tempo yang tidak didiskonto




























PERTEMUAN XII

SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN I

I. MENGAPA PERLU PENCATATAN PERSEDIAAN?
Pencatatan persediaan diperlukan untuk menyajikan laba kotor dan laba bersih yang tepat dan bebas dari salah saji material yang dapat mempengaruhi opini laporan keuangan perusahaan dari auditor publik.
Contoh:
Yang benar Yang salah
Persediaan awal 2.800.000 2.800.000
Pesediaan akhir 400.000 240.000
Harga pokok barang yang terjual 2.400.000 2.560.000
Penjualan 4.000.000 4.000.000
Laba 1.600.000 1.440.000


II. DUA SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN
• Sistem persediaan Periodik/Physical inventory
• Sistem perpetual
III. CIRI SISTEM PERIODIK/PHYSICAL INVENTORY
1. Terdapat jurnal pembelian
Pembelian xxx
Kas xxx
2. Terdapat jurnal pencatatan persediaan
a. Mencatat persediaan awal
Ringkasan hasil xxx
Persediaan barang dagangan xxx
b. Mencatat persediaan akhir
Persediaan barang dagangan xxx
Ringkasan hasil xxx
3. Terdapat jurnal pencatatan harga pokok persediaan
Harga Pokok Penjualan xxx
Persediaan barang dagangan xxx

Perhitungan:
Persediaan awal xxx
Pembelian xxx+
Barang siap dijual xxx
Persediaan akhir xxx-
Harga pokok penjualan xxx

4. Terdapat jural penjualan
Kas xxx
Penjualan xxx





IV. CIRI SISTEM PERPETUAL/KONTINYU
1.Jurnal pembelian dicatat langsung pada akun persediaan
Persediaan barang dagangan (2000unit@Rp 60) 120.000
Kas 120.000
2.Jurnal untuk mencatat mutasi pertambahan/pengurangan persediaan:
Kas ( 1200unit@Rp.70) 84.000
Penjualan 84.000
Harga Pokok penjualan (1200unit@Rp.60) 72.000
Persediaan barang dagangan 72.000

3. Jurnal untuk mencatat persediaan awal
Persediaan barang dagangan xxx
Harga pokok penjualan xxx

V. TIGA METODE PENETAPAN HARGA POKOK PERSEDIAAN
1. FIFO (first in first out), pertama masuk pertama keluar, untuk barang yang mudah kadaluwarsa, misal : obat.
2. LIFO (Last in first out), terakhir masuk pertama keluar, untuk barang yang tahan lama, misal: kendaraan.
3. WAM (Weigth average method), metode rata-rata tertimbang.

Contoh:
Pembelian Harga
1 Januari 2007 200unit@Rp450 90.000
10 Maret 2007 300unit@Rp500 150.000
21 September 2007 400unit@Rp550 220.000
2 Desember 2007 100unit@Rp600 60.000
1000unit 520.000
Jika diketahui pada akhir tahun setelah dilakukan penghitungan secara fisik ternyata persediaan di gudang tinggal 300 unit dan harga penjualan Rp 500.000. tentukan laba baik dengan metode LIFO, FIFO, maupun WAM dan beri kesimpulan!!!
Jawab:
FIFO
Persediaan akhir : Tanggal 2 Des 07 100unit@Rp600 = 60.000
Tanggal 21 Sept 07 200unit@Rp550 = 110.00
170.000
Harga pokok penjualan = pembelian + persediaan awal – persediaan akhir
= (520.000 + 0) -170.000 = 350.000
Laba = Penjualan – harga pokok penjualan
= 500.000 -350.000 =150.000
LIFO
Persediaan akhir : Tanggal 1 Jan 07 200unit@Rp450 = 90.000
Tanggal 10 Mar 07 100unit@Rp500 = 50.000
140.000
Harga pokok penjualan = pembelian + persediaan awal – persediaan akhir
= (520.000 + 0) -140.000 = 380.000
Laba = Penjualan – harga pokok penjualan
= 500.000 -380.000 =120.000

WAM
Harga Pokok Persediaan per unit = Rp.520.000/1000unit=520/unit
Persediaan akhir = 300 unit @ Rp. 520 =Rp. 156.000
Hargapokok penjualan = 520.000-156.000 = 364.000
Laba = 500.000 -364.000 =146.000

Kesimpulan:
• Laba FiFO paling besar dibandingkan metode lainnya menunjukkan metode FIFO cocok untuk menarik investor beinvestasi di perusahaan
• Laba LIFO lebih bertujuan untuk menghemat pembayaran pajak
• Laba WAM berada di antara FIFO dan LIFO sehingga bersifat memediasi kepentingan atas investor dan penghematan pajak.

VI. CONTOH PENCATATAN SISTEM PERPETUAL DENGAN METODE HARGA POKOK FIFO
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo Harga Pokok per Unit
Jumlah Harga Pokok Jumlah Harga Pokok Jumlah Harga Pokok
1/1/07 200 40.000 200
4/2/07 140 28.000 60 12.000 200
10/3/07 160 33.600 60 12.000 200
160 33.600 210
22/4/07 80 16.200 140 29.400 210
18/5/07 40 8.400 100 21.000 210
30/8/07 200 46.000 100 21.000 210
200 46.000 230
7/10/07 80 16.800 20 4.200 210
200 46.000 230
11/11/07 160 35.000 60 13.800 230
13/12/07 200 44.000 60 13.800 230
200 44.000 220
30/12/07 60 13.800 200 44.000 220

PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT ST.ELIZABETH SEMARANG


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Instalasi Gizi adalah unit yang mengelola pelayanan gizi bagi pasien rawat inap, rawat jalan maupun keluarga pasien, dengan kegiatannya:
• pengadaan/penyediaan makanan
• pelayanan gizi ruang rawat inap
• penyuluhan, konsultasi dan rujukan gizi
• penelitian dan pengembangan gizi terapan










Dalam pengadaan / penyediaan makanan mulai dari perencanaan hingga bahan makanan datang dan berlanjut pada proses pengolahan dan distribusi diawasi oleh ahli gizi. Ahli gizi RS. St. Elisabeth juga siap melayani konsultasi, edukasi dan evaluasi gizi baik bagi pasien rawat inap, rawat jalan dan keluarga pasien yang membutuhkan.

Instalasi Gizi juga melayani catering, misal:
• Menu biasa untuk orang sehat, ibu hamil dan habis melahirkan
• Menu diit penyakit hati
• Menu diit penyakit jantung
• Makanan sonde
• dll.
Dengan motto ”SEDAP” (Selalu Enak Dirasa Ataupun Dipandang) maka Instalasi Gizi RS. St. Elisabeth Semarang memiliki misi memberikan pelayanan gizi yang berhasil guna dan berdaya guna.



B. RUMUSAN ISI MAKALAH
Rumusan isi makalah ini berisi tentang Pelayanan Gizi Rumah Sakit St. Elizabeth Semarang, dan beberapa pembahasan yang terkait dengan Pelayanan Gizi Rumah Sakit tersebut

C. MANFAAT DARI PEMBUATAN MAKALAH
Mahasiswa diharapkan mampu mengenali Pelayanan Gizi Rumah Sakit St. Elizabeth Semarang sehingga dapat mengenal lebih jauh tentang Pelayanan Gizi Rumah Sakit tersebut dan bisa dijadikan bahan referensi/acuan untuk pengetahuan Pelayanan Gizi Rumah Sakit tersebut.











BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyelenggaraan makanan di Rumah sakit St. Elizabeth
Dalam pengadaan / penyediaan makanan mulai dari perencanaan hingga bahan makanan datang dan berlanjut pada proses pengolahan dan distribusi di Rumah Sakit St. Elizabeth semuanya diawasi oleh ahli gizi. Ahli gizi RS. St. Elisabeth juga siap melayani konsultasi, edukasi dan evaluasi gizi baik bagi pasien rawat inap, rawat jalan dan keluarga pasien yang membutuhkan.

B. Pelayanan Gizi Ruang Rawat Inap

Bila akan dirawat:
• Pasien mendaftar ke bagian informasi/pendaftaran rawat inap dan menyerahkan surat pengantar / rujukan dari dokter (bila ada).
• Pasien memilih kelas perawatan dan mengisi formulir pendaftaran.
Ruang Perawatan Ruang rawat inap terdiri dari beberapa ruang perawatan dengan fungsi dan kelas yang berbeda-beda:
• Ruang Angela (ruang perawatan umum)
• Ruang Xaverius (ruang perawatan umum)
• Ruang Maria (ruang perawatan umum dan Sitostatika)
• Ruang Mardi Swasta (ruang perawatan umum)
• Ruang Anna (ruang perawatan kebidanan)
• Ruang Melani (ruang perawatan khusus wanita)
• Ruang Fransiskus (ruang perawatan umum dan HND)
• Ruang Lukas (ruang perawatan stroke)
• Ruang ICU (ruang perawatan intensif dewasa)
• Ruang PICU/NICU (ruang perawatan intensif anak)
• Ruang Theresia (ruang perawatan anak)
Kamar Isolasi dan HND hanya untuk perawatan sementara, sesuai indikasi medis atau pertimbangan khusus lain.dan Demi kesehatan, anak-anak dibawah umur 12 tahun dilarang berada / masuk ke kamar, terutama ruang perawatan anak. Kecuali kamar Pasien yang melahirkan.


C. Penyuluhan, Konsultasi dan Rujukan Gizi
Penyuluhan Kesehatan di Rumah Sakit St. Elizabeth Penyuluhan Kesehatan bertujuan mengembangkan pengertian yang benar dan sikap yang positif individu/pasien atau kelompok/keluarga pasien (receiver) agar yang bersangkutan menerapkan cara hidup sehat dalam hidupnya sehari-hari atas kesadaran dan kemauan sendiri. Kegiatan penyuluhan di dilakukan oleh perawat, petugas penyuluhan kesehatan masyarakat, sedangkan konsultasi gizi diberikan oleh petugas gizi masyarakat yang sudah berpengalaman dalam teknik-teknik penyampaian informasi dan komunikasi dua arah. Jumlah petugas diruang penyuluhan dan konsultasi gizi adalah 4 orang petugas yang terdiri dari 2 orang perawat, satu orang petugas penyuluhan kesehatan masyarakat dan satu orang ahli gizi. Penyuluhan kesehatan masyarakat di BBKPM Bandung bertujuan agar pasien dan keluarga memahami:
1. Perjalanan dan bahaya penyakit paru pada umumnya dan khususnya penyakit TBC
2. Cara penularan penyakit TBC, Tata cara minum obat dan akibat yang ditimbulkan bila pengobatan tidak teratur atau tidak tuntas.
3. Pengertian tentang Pengawas Minum Obat (PMO)
4. Pemakaian alat kontrasepsi selama pengobatan
5. Pengarahan khusus kepada pasien penderita keluhan mental, tuna rungu, stress dan lain-lain
6. Cara hidup sehat, sanitasi lingkungan dan perumahan, kesehatan perorangan (personal hygiene) dan faktor-faktor yang bisa menghambat proses kesembuhan pada pasien.
Yang menjadi sasaran penyuluhan adalah seluruh pasien yang berobat ke BBKPM Bandung (Umum, Peserta Askes/Askeskin)



Konsultasi Gizi di Rumah Sakit St. Elizabeth

Maksud pemberian konsultasi gizi pada pasien adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit, meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga tentang asupan gizi yang diperlukan untuk mempercepat penyembuhan penyakit yang diderita. Konsultasi Gizi juga dimaksudkan untuk meningkatkan status gizi penderita melalui bimbingan penyusunan menu makanan dan melakukan evaluasi terhadap peningkatan status gizi melalui pemantauan kenaikan berat badan.
Pelayanan penyuluhan dilakukan oleh tenaga ahli gizi. Prosedur standar penyuluhan gizi adalah:
1. Petugas mencatat identitas pasien pada buku pencatatan laporan harian, Kartu Menuju Sehat, Leaflet diet yang bersangkutan dan sistem informasi manajemen BBKPM.
2. Pasien harus memperlihatkan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai bahan kajian
3. kemudian dilakukan pengukuran anthropometri (penimbangan berat badan, tinggi badan atau panjang badan untuk bayi.
4. Selanjutnya petugas melakukan pengkajian status gizi berdasarkan standar Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk pasien dewasa dan standar WHO NCS untuk pasien anak
5. Melakukan pengkajian kebiasaan makan, pola makan dan asupan maka dalam sehari (anamnesa)
6. Berdasarkan data-data diatas petugas akan mengetahui status pasien dan memberikan penyuluhan gizi sesuai dengan penyakit yang di derita serta obat yang diminum.
7. Konsultasi gizi diberikan berdasarkan penyakit yang di derita kepada:
8. Pasien TB yang berstatus gizi buruk
9. Penderita gizi kurang defisiensi kalori, protein, anemia, dan penyakit paru-paru, dengan berat badan di bawah normal serta asma kronis, bronchitis kronis, dan emfisema.
10. Orang tua anak balita yang mengalami gizi kurang baik, KEP Berat, KEP Sedang, KEP Ringan
11. Pasien penderita Diabetes Mellitus
12. Pasien penyakit hati seperti hepatitis dan pasien penyakit paru yang disertai dengan kadar SGOT, SGPT dan bilirubin tinggi
13. Pasien yang menderita penyakit lambung dan gangguan pencernaan
14. Pasien penderita tekanan daran tinggi (hypertensi)
15. Pasien dengan kadar asam urat tinggi
16. Pasien penyakit paru yang disertai dengan kadar kolesterol dan lemak tinggi
17. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk pasien gizi buruk.
Untuk menunjang pekerjaan di lengkapi dengan Manequin (alat peraga organ tubuh), Food Model, Alat Timbang Badan dan Tinggi Badan (Microtoise) juga poster-poster dan Leaflet.









BAB III
Kesimpulan

Pelayanan gizi di Rumah Sakit St. Elizabeth meliputi :
• pengadaan/penyediaan makanan
• pelayanan gizi ruang rawat inap
• penyuluhan, konsultasi dan rujukan gizi
• penelitian dan pengembangan gizi terapan

SARAN

Penting suatu pelayanan gizi yang terencana di rumah sakit, sehingga Pelayanan Gizi di Rumah sakit haruslah berstandard , bermutu dan bersertifikasi, dan Pelayanan Gizi haruslah diselenggarakan secara terintegrasi dengan unit Pelayanan Kesehatan lain di Rumah Sakit agar dicapai Pelayanan Gizi yang optimal dan penyelenggaraan makanan yang bermutu tinggi

HEALTHY LIFESTYLE MANAGEMENT


CHAPTER I
INTRODUCTION


A. BACKGROUND
You hear a lot about living a healthy lifestyle, but what does that mean? In general, a healthy person doesn't smoke, is at a healthy weight, eats healthy and exercises. Sounds simple, doesn't it?
The trick to healthy living is making small changes...taking more steps, adding fruit to your cereal, having an extra glass of water...these are just a few ways you can start living healthy without drastic changes.
One of the biggest problems in the World today is lack of activity. We know it's good for us but avoid it like the plague either because we're used to being sedentary or afraid that exercise has to be vigorous to be worth our time. The truth is, movement is movement and the more you do, the healthier you'll be. Even moderate activities like chores, gardening and walking can make a difference.

B. PROBLEMS
how to make our lives more healthy?
how a healthy lifestyle?
what are the ways for a healthier lifestyle?

C. BENEFIT OF MAKING PAPER
From the making of this paper students should be able to understand how important the health and be able to understand how a healthy lifestyle


CHAPTER II
STUDY

2.1 Healthy Lifestyle Management
Eating has become a part of our lifestyle daily, but did you ask for what you eat? Easy answer is, because feeling hungry or tired and we shoved off to eat while being sad or happy. Have you ever calculated how much nutrition in the womb of food consumed?
In fact, healthy eating is a vital need for our bodies, because it needs energy everyday. Eating healthy is not just food, but also considers Feed food which gives an important role to keep fit and healthy. There are several ways that can be done to achieve this goal.
In fact, healthy and always looks healthy are the jobs that should be done everyday. There are several things you can do to always look in the best circumstances. Some people prefer a healthy way of life than a way to measure calorie content in foods, consume healthy food added manner sport regularly.

Because the problems that we experienced are not aware how many calories or nutrients that have entered the body through our food. It's a good start to create a list of what we eat and drink. Then use the data in the nutrition label of food to make calculations. By knowing how many calories or nutrition, you can easily determine how to burn these calories. This also helps balance your body weight.

Create a list of nutrients in each food that you will eat. You can create your own food recipes that match the level of nutrition you need.

You can develop a healthy eating option by checking the nutrition feed from day to day, it is also intended as a management body weight. In this modern era, there is a gadget that can help you calculate the actual calories in food. You can use this tool to make it easier for them.
2.2 Weight Loss Basics
Your weight is a balancing act, and calories are part of that equation. Fad diets may promise you that counting carbs or eating a mountain of grapefruit will make the pounds drop off. But when it comes to weight loss, it's calories that count. Weight loss comes down to burning more calories that you take in. You can do that by reducing extra calories from food and beverages and increasing calories burned through physical activity.
Once you understand that equation, you're ready to set your weight-loss goals and make a plan for reaching them. Remember, you don't have to do it alone. Talk to your doctor, family and friends for support. Also, plan smart: Anticipate how you'll handle situations that challenge your resolve and the inevitable minor setbacks.
If you have serious health problems because of your weight, your doctor may suggest weight-loss surgery or medications for you. In this case, you and your doctor will need to thoroughly discuss the potential benefits and the possible risks.
But don't forget the bottom line: The key to successful weight loss is a commitment to making permanent changes in your diet and exercise habits.

2.3 Fitness Basic
Starting a fitness program may be one of the best things you can do for your health. After all, physical activity can reduce your risk of chronic disease, improve your balance and coordination, help you lose weight — even boost your self-esteem. And the benefits are yours for the taking, regardless of age, sex or physical ability.
When you design your fitness program, consider your fitness goals. Think about your fitness likes and dislikes, and note your personal barriers to fitness. Then consider practical strategies for keeping your fitness program on track.
Starting a fitness program is an important decision, but it doesn't have to be an overwhelming one. By planning carefully and pacing yourself, you can make fitness a healthy habit that lasts a lifetime.

2.4 Nutrition Basic
Do you feel like you can't keep up with the latest nutrition news because it's always changing? While it's true that what is known about nutrition and diet is evolving, there are some nutrition basics you can keep in mind. By knowing these nutrition basics, you'll be better equipped to sort through the latest research and advice.
Mastering the nutrition basics comes down to understanding the concept of a food pyramid and the roles of fiber, fat, cholesterol, and calories in a healthy diet. Want to go beyond the nutrition basics? Talk to your doctor or a dietitian for personalized dietary advice that takes into account your health status, lifestyle, and food likes and dislikes.
• Eat more fruit. Add it to your cereal, your salads or even your dinners
• Sneak in more veggies. Add them wherever you can--a tomato on your sandwich, peppers on your pizza, or extra veggies in your pasta sauce. Keep pre-cut or canned/frozen veggies ready for quick snacks.
• Switch your salad dressing. If you eat full-fat dressing, switch to something lighter and you'll automatically eat less calories.
• Eat low-fat or fat-free dairy. Switching to skim milk or fat free yogurt is another simple way to eat less calories without having to change too much in your diet.
2.5 Stress Basic
Stress is a normal psychological and physical reaction to the demands of life. Your brain comes hard-wired with an alarm system for your protection. When your brain perceives a threat, your body releases a burst of hormones to fuel your fight-or-flight response. When the threat is gone, your body returns to normal. Unfortunately, the nonstop stress of modern life means that your alarm system rarely shuts off.
That's why stress management is so important. Stress management gives you the tools to reset your alarm system. Without stress management, your body is always on red alert. Over time, the level of stress leads to serious health problems. Don't wait until then to combat stress. Start learning stress management techniques now.

2.6 Quit Smoking Basic
Tobacco is a killer. If you smoke, you're more likely to develop disease and die earlier than if you don't smoke.
If you smoke, you probably worry about what it's doing to your health. You probably worry too about how hard it will be to quit smoking. Nicotine is highly addictive and to quit smoking — especially without help — can be very difficult. In fact, most people fail the first time they try to quit smoking. But just because you fail once — or more than once — doesn't mean you can't succeed or that you shouldn't try again.
Take that first step: Decide to quit smoking and set a stop date. And then take advantage of the multitude of resources available to help you successfully quit smoking.

2.7 Simple Ways to Move Your Body
You can start the process of weight loss now by adding a little more activity to your life. If you're not ready for a structured program, start small. Every little bit counts and it all adds up to burning more calories.
• Turn off the TV. Once a week, turn off the TV and do something a little more physical with your family. Play games, take a walk...almost anything will be more active than sitting on the couch.
• Walk more. Look for small ways to walk more. When you get the mail, take a walk around the block, take the dog for an extra outing each day or walk on your treadmill for 5 minutes before getting ready for work.
• Do some chores. Shoveling snow, working in the garden, raking leaves, sweeping the floor, these kinds of activities may not be 'vigorous' exercise, but they can keep you moving while getting your house in order.
• Pace while you talk. When you're on the phone, pace around or even do some cleaning while gabbing. This is a great way to stay moving while doing something you enjoy.
• Be aware. Make a list of all the physical activities you do on a typical day. If you find that the bulk of your time is spent sitting, make another list of all the ways you could move more--getting up each hour to stretch or walk, walk the stairs at work, etc.






















CHAPTER III
CONCLUSION


One of the biggest problems in the world today is lack of activity. We know that it's good for us but avoid it like the plague either because we're used to being sedentary or afraid that exercise has to be vigorous to be worth our time. The truth is, movement is movement and the more you do, the healthier you'll be. Even moderate activities like chores, gardening and walking can make a difference.
Just adding a little movement to your life can:
• Reduce the risk of heart disease, stroke and diabetes
• Improve joint stability
• Increase and improve range of movement
• Help maintain flexibility as you age
• Maintain bone mass
• Prevent osteoporosis and fractures
• Improve mood and reduce symptoms of anxiety and depression
• Enhance self esteem
• Improve memory in elderly people
• Reduce stress
So, even if you opt for small changes and a more modest weight loss, you can see the benefits are still pretty good. One study has found that just a 10% weight reduction helped obese patients reduce blood pressure, cholesterol and increase longevity.

Rabu, 20 Oktober 2010

PERANAN FREE SEX DALAM PENULARAN HIV AIDS(disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah epidemiologi kesehatan)


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Penyakit HIV/AIDS tumbuh dan berkembang lewat jalur ini ( free sex), karena memang penyebaran virus ini paling efektif melalui kontak fisik (hubungan kelamin).Meskipun ada penyebab lainnya tetapai lewat free sex lah yang paling efektif dalam penyebaran virus penyakit tersebut.
Sampai akhir tahun 1996 saja, WHO memperkirakan orang yang terinfeksi HIV/AIDS mencapai 30 juta orang dan mereka yang meninggal sebanyak 6,4 juta orang. WHO mencatat penderita terbanyak ditemukan di Amerika Serikat, yaitu 581.429 orang, disusul Brazil sebanyak 103.262 orang, Tanzania 82.174 orang, Thailand 59.782 orang, dan Prancis 45.395 orang.
Di Afrika yang diperkirakan 1000 anak anak terinfeksi HIV/AIDS setiap hari nya, setelah dilakukan penelitian ternyata kebanyakan orangtua mereka adalah penganut free sex.
Di Asia tidak ada Negara selain Thailand yang tercatat sebagai kasus yang banyaknya melebihi sepuluh ribu kasus. Setelah itu disusul india sebanyak 3000, Myanmar sebanyak 1.882 kasus, dan jepang sebanyak 1.557 penderita.
Di Eropa terutama di Perancis, tercatat jumlah penderita paling banyak yaitu 45.395 orang, melewati Spanyol yaitu 45.132 orang, kemudian disusul Italia yaitu 38.148 orang, Jerman sebanyak 16.138 orang, dan Inggris tercatat sebanyak 14.082. Di Negara yang membebaskan free sex memang tercatat banyak angka yang menunjukan penderita HIV/AIDS.
Brasil juga menyimpan penderita AIDS paling banyak, 103.262 penderita, dibandingkan Negara Amerika latin lainnya, seperti meksiko 29,962 penderita dan Argentina 10.461 penderita. Kanada secara resmi melaporkan ada 14.436 penderita AIDS clan Australia melaporkan 7.033 kasus.
Sedangkan di Negara kita, dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya, bahkan hingga September 2009 saja telah menembus angka 18.442 kasus di 300 kabupaten atau kota dan 32 provinsi di Indonesia [data dari P2PL].
Rate kasus Aids secara nasional sampai dengan 30 September adalah per 8,15 per 100 ribu penduduk (dengan berdasarkan data BPS penduduk Indonesia sebesar 227.132.350 jiwa) dengan ODHA yang meninggal tercatat 20,1 persen.
Kasus Aids tertinggi terdapat di provinsi Papua (17,9 kali angka nasional), Bali (5,3 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,8 kali angka nasional), Kep. Riau (3,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,2 kali angka nasional), Maluku (1,8 kali angka nasional), Papua Barat (1,3 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,4 kali angka nasional), Riau (1,0 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) DI Yogyarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) [data dari BPS dan P2PL].


B. RUMUSAN ISI MAKALAH
Rumusan isi makalah ini mengungkapkan tentang peranan free sex dalam penyebaran penyakit HIV/AIDS, teori dasar tentang hubungan antara keduanya, fakta, hasil penelitian, dan metode penelitian yang dilakukan,dari desain penelitiannya sampai defenisi operasional nya.



C. MANFAAT DARI PEMBUATAN MAKALAH
Manfaat dari pembuatan makalah ini sebagai bahan referensi mengenai hubungan, pengaruh dan peranan yang di timbulkan dari adanya free sex terhadap penyakit HIV/AIDS. Yang dimana kita bisa mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini hingga cara arau upaya pencegahan sehingga bisa melakukan tindakan sedini mungkin untuk menghambat atau memutus rantai penularan dan pencegahan penyakit tersebut..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Free Sex
Sex bebas atau yang sering dikenal dengan istilah Free sex, adalah hubungan sexual yang dilakukan pra nikah atau bergonta ganti pasangan. Sex bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku.
Faktor factor yang menyebabkan Sex bebas karena adanya pertentangan dari lawan jenis, adanya tekanan dari keluarga dan teman bagi anak remaja. Dari tahun ke tahun pelaku Sex bebas terus meningkat, telah dilakukan penelitian di kecamatan hamparan perak pada remaja, dan hasilnya dari hanya 5% pada tahun 1980 an pada tahun 2000 an meningkat menjadi 20%, ini perkembangan yang cukup besar yang terjadi di hanya tingkat kecamatan, belum tingkat nasional. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang gambaran Seks bebas itu sendiri, telah dilakukan pula penelitian yang menggunakan kuesioner yang diajukan responden dengan jumlah sampel 98 reesponden di daerah tersebut, dan hasilnya yang terlibat pergaulan bebas 80,9% sedangkan sisanya mengetahui tentang informasi Seks bebas.


B. Pengertian HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia virus ini terus bertambah banyak hingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak sanggup lagi melawan virus yang masuk.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut. Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan kekebalannya oleh karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Akibatnya penyakit-penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi bahaya bagi tubuh. “slowly but deadly“, pelan tapi mematikan itulah julukan yang saya berikan untuk virus penyakit yang satu ini. HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan bagi manusia, bahkan hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasi penyakit yang menyerang sistem kekebalan manusia itu. Pengobatan hanya akan membantu Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) untuk hidup lebih lama tetapi penyakit AIDS sendiri belum dapat disembuhkan tetapi dapat ditekan jumlah HIV dengan obat antiretroviral (ARV).
Para peneliti dari Northwestern University bahwa wabah AIDS berawal dari Afrika bagian barat tengah sekitar tahun 1930, beberapa dasawarsa lebih awal ketimbang dugaan sebelumnya. Teori baru ini telah mencetuskan pengamatan sejarah pada peristiwa yang belum dikaitkan dengan penyebaran HIV, seperti pembangunan rel kereta api di Afrika di awal abad ke-20. Lantas apa hubungannya dengan HIV?..
Sebuah simulasi komputer yang rumit mengenai evoiusi HIV telah memperkirakan bahwa 1930 adalah tahun awal. Ketika itu pemerintahan kolonial Prancis di Afrika bagian barat melakukan kerja paksa untuk mem¬bangun rel kereta api. Karena para pekerja itu kekurangan makanan, diduga mereka berburu binatang liar di hutan dan tertular HIV dari primata yang mereka makan.
Rel kereta api Kongo-Samudera juga ditempatkan dekat kasus HIV pertama, di kota Kinshasa. Peristiwa sejarah lainnya, pengembangan kebun binatang dan penangkapan simpanse yang menggigit, mungkin juga menjadi faktor dalam penyebaran HIV (Chicago Tribune, 31 Januari 2000). Sementara itu, menurut sumber lain, penyakit maut tersebut didiagnosa pertama kali pads tahun 1980.
AIDS sendiri adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yakni penyakit rontoknya kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), yaitu virus HTLV-III (Human T-Cell Lymphotropic Virus-111, ditemukan tahun 1980), yang menyerang sel darah putih lymphocyte T-4. Setelah sel T-4 ini digempur HTLV-III, organisms racun (toxoplasma) berkembang, menyusup ke dalam tubuh lewat peredaran darah, lantas memproduksi bisul bernanah di otak, paru-paru, jantung, hati, dan limpa. Selanjutnya, proses ini mengakibatkan matinya jaringan sel, kista, dan berbagai kerusakan sel-sel otak.
Dengan rontoknya sistem kekebalan tubuh, maka berbagai penyakit yang menyerbu tubuh penderita, pasti bakal susah untuk disembuhkan. Flu ringan sekalipun bisa menjadi penyakit mematikan buat para penderita AIDS. penyakit “ecek-ecek” itu makin lama makin menggerogoti tubuh penderita clan ujung¬-ujungnya bisa berakhir dengan kematian. Jadi, bila ada yang menderita flu terus-terusan (nggak sembuh-sembuh) disertai munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh, badan makin kurus kering, lidah berjamur, gemetaran, diare terus-terusan, demam, ber¬keringat di waktu malam, kelelahan di sekujur tubuh, sulit menelan dan bicara, napas tersengal-sengal, hati¬-hati, itu gejala AIDS. Tapi itu akan dialami setelah 5 sampai 10 tahun setelah positif terserang HIV. Jadi yang sekarang kelihatan sehat-sehat saja, belum tentu tidak terserang AIDS.
Perbedaan HIV dan AIDS
Orang yang baru terpapar HIV belum tentu menderita AIDS. Hanya saja lama kelamaan sistem kekebalan tubuhnya makin lama semakin lemah, sehingga semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Pada tahapan itulah penderita disebut sudah terkena AIDS.
Cara Penularan HIV
• Melalui cairan vagina atau sperma
• Seks yang sering bergonta ganti pasangan
• Penyimpangan seksual seperti: seks pra nikah, pelacuran dan homoseksual
• Penggunaan jarum suntik bersama dari orang yang sudah terinfeksi HIV
• Transfusi darah yang terkontaminasi dengan virus HIV
• Dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya

Orang yang terinfeksi HIV biasanya dapat hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit. Mereka mungkin tampak sehat dan merasa sehat tetapi dapat menularkan virus pada orang lain.

Perjalanan Infeksi HIV/AIDS
Pada saat seseorang terkena infeksi virus AIDS maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus masuk kedalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela. Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat HIV. Pada tahap HIV+ ini maka keadaan fisik ybs tidak mempunyai kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja seperti biasa. Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini ybs sudah aktif menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah.
Sejak masuknya virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan menggerogoti sel darah putih (yang berperan dalam sistim kekebalan tubuh) dan setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi seperti misalnya infeksi jamur, virus-virus lain, kanker dsb. Penderita akan meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut.
Di negara industri, seorang dewasa yang terinfeksi HIV akan menjadi AIDS dalam kurun waktu 12 tahun, sedangkan di negara berkembang kurun waktunya lebih pendek yaitu 7 tahun.
Setelah menjadi AIDS, survival rate di negara industri telah bisa diperpanjang menjadi 3 tahun, sedangkan di negara berkembang masih kurang dari 1 tahun. Survival rate ini berhubungan erat dengan penggunaan obat antiretroviral, pengobatan terhadap infeksi oportunistik dan kwalitas pelayanan yang lebih baik.
Pola infeksi secara global, sekitar 90% kasus HIV/AIDS ada Di Negara berkembang.


C. Hubungan dan Peranan Free sex dalam Penularan HIV/AIDS

Berdasarkan beberapa penelitian, AIDS paling efektif menyebar lewat hubungan seks. Baik antara laki-laki dan wanita, maupun yang abnormal, homoseksual dan lesbian. Celakanya, saat ini seks bebas sedang menjadi primadona. Kebebasan bergaul telah menjadi pintu gerbang penyebaran AIDS. Dan korban AIDS dari kalangan pelaku seks bebas ini memang paling banyak, Mereka sangat rentan alias berisiko tinggi terkena penyakit ganas ini. termasuk pelaku seks menyimpang, yakni para homoseks dan lesbian (studia edisi 022/Tahun I tentang gay dan lesbian).
Di “jalur” ini, penyebaran AIDS juga cukup efektif, Di beberapa penjara di Amerika, Sering dibuat repot dengan ulah para napi yang melakukan hubungan seks abnormal ini. Bahkan, fakta menunjukkan AIDS mudah menyebar di kalangan para napi yang homoseks.
Bicara seks bebas, memang bukan monopoli anak sekarang aja. Sejak dulu, yang namanya seks bebas, baik yang dilegalisasi melalui “bisnis” pelacuran maupun liar sudah marak. Bersamaan dengan itu, muncul pula penyakit menular seksual (PMS), yang ngqak kalah garang dari AIDS–seperti sifilis, gonorhoe, vietnam rose–dan bahkan para pelakunya orang-orang ngetop di zamannya. seperti gerombolan Columbus, Julius Caesar dan Cleopatra VII, Raja Charles V, Charles V, Raja Henry VIII, lalu Edward VI, Peter Agung, Katarina Agung, hingga Benito Mussolini, Napoleon Bonaparte, dan Adolf Hitler adalah tokoh-tokoh dunia yang terkenal sebagai penderita penyakit kotor sifilis dan gonorhoe. Itu dulu, sekarang, bisa ditunjuk hidung rombongan “selebritis” Hollywood macam Brad Davis, Rock Hudson, Fredy Mercury, Tony Richardson, dan Ian Charleson, Brur, mereka menemui ajal dihantam AIDS...
Pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan free sex dengan HIV/AIDS. Dia mengemukakan pada tahun 1999, dalam beberapa bulan terakhir, sampai dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanya–selaku spesialis penyakit dalam–biasanya 1¬2 orang dalam satu bulan. Dia juga menambahkan bahwa dalam tiga minggu pertama bulan November 1999, menemukan 13 kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan sembilan di antaranya orang orang yang “menyembah” free sex.
Dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya, bahkan hingga September 2009 saja telah menembus angka 18.442 kasus di 300 kabupaten atau kota dan 32 provinsi di Indonesia [data dari P2PL].
Rate kasus Aids secara nasional sampai dengan 30 September adalah per 8,15 per 100 ribu penduduk (dengan berdasarkan data BPS penduduk Indonesia sebesar 227.132.350 jiwa) dengan ODHA yang meninggal tercatat 20,1 persen.
Kasus Aids tertinggi terdapat di provinsi Papua (17,9 kali angka nasional), Bali (5,3 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,8 kali angka nasional), Kep. Riau (3,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,2 kali angka nasional), Maluku (1,8 kali angka nasional), Papua Barat (1,3 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,4 kali angka nasional), Riau (1,0 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) DI Yogyarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Utara (1,0 kali angka nasional) [data dari BPS dan P2PL].
Maka, dari data data tersebut kita dapat menarik beberapa alasan mengapa penyebaran HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi, yaitu :
• Meluasnya pelacuran
• Peningkatan hubungan seks pra nikah (sebelum menikah) dan ekstra marital (di luar nikah seperti melalui pelacuran)
• Prevalensi penyakit menular seksual yang tinggi
• Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
Dan dapat disimpulkan bahwa fre sex mempunyai peran sangat berpengaruh dalam penyebaran HIV/AIDS, meskipun ada sebab lain seperti penggunaan jarum suntik yang tidak steril, tranfusi darah dari orang yang telah terkena HIV/AIDS, dari ibu hamil yang mengenai janinnya, dll, tetapi jika kita lihat angka angka kasus, data data dan penelitian yang telah ada dan dijelaskan diatas, Free sex sangat berberan dalam kaitannya dengan persebaran HIV/AIDS.










BAB III
METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan diperlukan suatu strategi yang akan berperan sebagai pedoman atau penuntun penelitian pada seluruh proses penelitian, dan karena penelitian ini bersifat pengujian hubungan antara Free sex dan HIV/AIDS, maka kami menggunakan Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian ini membandingkan kelompok kasus dan kelompok control berdasarkan status paparannya. Pemilihan subjek berdasarkan status penyakitnya, apakah mereka menderita (group kasus) atau tidak (group control) untuk kemudian dilakukan amatan apakah subjek mempunyai riwayat terpapar atau tidak
B. Populasi dan Sampel
I. Populasi
Kasus
Kelompok dengan kondisi,Semua pengidap HIV/AIDS yang telah tercatat di kota Jakarta, terpajan dan tidak terpajan 100 orang
Kontrol
Kelompok tanpa kondisi, terpajan dan tidak trpajan 100 orang
II. Sampel
Dasar pendidikan orang orang yang akan menjadi sampel ada yang tidak sekolah, tidak lulus SD, SMP, SMU, akademi, Perguruan Tinggi. Jenis kelamin Laki laki dan Perempuan.Bekerja, pengangguran, siswa, dan mahasiswa. Status menikah dan belum menikah.
III. Teknik Sampling
Teknik Sampling yang dipilih yaitu Simple Random Sampling, karena cara ini bersifat random (Probability Sampling), sehingga setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel. Setiap bagian populasi yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya tetapi menyediakan populasi parameter, mempunyai kesempatan menjadi sampel yang representative.
Untuk mencapai sampling ini, setiap elemen diseleksi secara random (acak). Membuat frame kecil, nama ditulis di secarik kertas, di letakkan dikotak, diaduk dan diambil secara acak acak, karena ingin mengambil 60 sampel dari 200 populasi yang tersedia, maka secara acak akan diambil 60 sampel melalui pengambila nomor yang telah ditulis.

C. Variabel Penelitian
Yaitu karasteristik yang dimiliki oleh subjek yang berbeda dengan yang dimiliki kelompok tersebut, disini variabl termasuk (dependent variable) atau variable yang nilainya ditentukan oleh variable lain, yaitu HIV/AIDS yang nilainya nanti ditentukan oleh Free sex
D. Defenisi Operasional
Karena perlunya mendapatkan data yang akurat diperlukan desain dan pengumpulan data yang tepat. Pengumpulan data disini dilakukan dengan cara wawancara langsung person dengan person, pengumpulan data berhadapan langsung dengan sumber informasi, data diperoleh langsung dari sumber utamanya, dengan wawancara yang terstruktur, dengan pertanyaan pertanyaan yang telah disiapkan sebelum dilangsungkannya wawancara.




E. Tempat dan Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada:
Tempat :Balai Pengobatan kota,jalan moh hatta no 192
Condet Jakarta
Hari/tanggal :21 Januari 2010
Waktu :09.00 sd selesai

Selasa, 19 Oktober 2010

MATERI RUMAH SAKIT


RUMAH SAKIT


KONSEP RS  - Jaman Arab Kuno dan sejarah Islam
- Budha di India
- Israel
(dr. yg ada bertindak sebagai pendeta dan
Pemahaman kekuatan magis ).

Evolusi Konsep
RS Modern  berdasarkanKeimanan, Kemanusian, sosial Tahun 325

Kejayaan Kerajaan  Kaidah RS Modern
Asoka di India - prinsip Sanitasi
273 – 233 SM - Pembedahan Seksio Sesaria
- Penempatan 1 orang dokter untuk
10 desa

ROMA  - Berkembang khusus dikalangan
militer
- Rumah sakit Kristen

ARAB  - Masa Nabi Muhamad Sistem
( Bagdad, Kairo perumahsakitan yg modern dibentuk
Damaskus) dgn baik.
Abad ke 6 - telah dibangun RS Jiwa
- Data klinik dicatat dan dikumpulkan
utk pendidikan kedokteran

Tahun 1929  Kongres RS Internasional yg pertama




Hospital  kata Latin HOSTEL ( tempat bagi para
Pengungsi yg sakit , menderita dan miskin
 Kata latin HOSPITIUM ( tempat /ruangan
utk menerima tamu ) / Willan 1990
 kata Perancis kuno dan medieval English yg
didefinisikan sbb :
- Tempat utk istirahat dan hiburan
- Institusi sosial utk mereka gmembutuhkan akomodasi, lemah dan sakit
- Institusi sosial utk pendidikan dan kaum muda
- Institusi utk merawat yg sakit dan cedera

Definisi Rumah Sakit

1. RS adalah suatu organisasi yg melalui tenaga medis profesional terorganisir serta sarana kedokteran yg permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran ,asuhan keperawatan, yg berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yg diderita oleh pasien ( American Hospital Association ; 1974 ).

2. RS adalah salah satu sistem kesehatan yg paling kompleks dan
Paling efektif di dunia ( Rowland & Rowland 1984 )

3. RS adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima
Pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik utk mahasiswa kedokeran , perawat, dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya ( Wolper dan Pena 1987 ).

4. RS adalah intitusi pelayanan kesehatan yg menyelenggarakan
Pelaynan kesehatan perorangan secara paripurna yg menyediakan pelayanan rawat ianp, rawat jalan dan gawat darurat ( UU No. ...tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. )

Milton Roemer dan Friedman menyatakan bahwa RS
setidaknya punya 5 ( lima ) fungsi sbb :

1. Harus ada pelayanan rawat Inap , dgn fasilitas dignostik dan
Terapeutiknya , termasuk pelayanan keperawatan, gizi, farmasi, laboratorium, Radiologi dsb.
2. Harus memeliki peleyanan rawat jalan
3. RS juga mempunyai tugas utk melakukan pendidikan &
Latihan
4. Harus melakukan penelitian
5. RS punya tanggung jawab utk program pencegahan penyakit
dan penyuluhan kesehatan bagi populasi disekitarnya.

KARAKTERISTIK ( SIFAT ) RUMAH SAKIT

1. Sebagian besar tenaga kerja  tenaga profesional
2. Tugas kelompok profesional lebih besar dibandingkan tugas kelompok manajerial
3. Beban kerja tidak bisa diatur
4. Jumlah pekerjaan dan sifat pekerjaan diunit kerja beragam
5. Hampir semua kegiatan bersifat urgent/penting
6. Pelayanan RS sifatnya sangat individualistis, setiap pasen harus dipandang sebagai individu yg utuh, aspek fisisk, mental, sosialkultural dan aspek spiritual harus mendapat perhatian penuh. Pelayanan tidak bisa diberikan secara kodian
7. Tugas memberikan pelayanan bersifat pribadi, pelayanan harus cepat dan tepat, kesalahan tidak bisa ditolerir
8. Pelayanan berjalan terus menerus 24jam / erhari akibatnya :
- Keharusan penyediaan tenaga yg selalu siap setiap waktu
- Keharusan adanya peralatan yg selalu siap ( listrik tdk boleh
padam
- Pengawasan yg terus menerus
- Harus selalu tersedia dana operasional setiap saat
- Pelayanan bersifat emergency harus segera dilakukan
PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT


KETENTUAN UMUM

1.Rumah Sakit Umum
RS yg memberikan pelayanan kesehatan yg bersifat dasar,
spesialistik dan suspesialistik.

2. Rumah Sakit Umum Pemerintah
RS umum milik Pemerintah baik Pusat, Daerah, Departemen
Pertahanan dan keamanan maupun Badan Usaha Milik
Negara.

3. Rumah Sakit Pendidikan
RS Umum Pemerintah kelas A dan Kelas B yg di
pergunakan sebagai tempat pendidikan tenaga medis oleh
Fakultas kedokteran

4. Klasifikasi RS Umum
Pengelompokan RS umum berdasarkan perbedaan tingka
tan menurut kemampuan pelayanan kesehatan yg dapat
disediakan.

5. Pelayanan Medis Spesialistis Dasar
Pelayanan Medis Spesialistis penyakit dalam, kebidanan &
Kandungan, Bedah dan kesehatan Anak.

6. Pelayanan Medis Spesialistis Luas
Pelayanan spesialistik dasar ditambah dgn pelayanan
Spesialistik Telinga hidung dan tenggorokan, Mata , Saraf,
Jiwa , Kulit & Kelamin Jantung, Paru , Radiologi, Anestesi,
Patologi Klinis, Patologi Anatomi, Rehabilitasi Medis dan
pelayanan speseialistik lain sesuai dgn kebutuhan.

7. Pelayayan Medis Subspesialistis Luas
Pelayanan subspesialistis disetiap spesialistis yang ada


M I S I , KEDUDUKAN , TUGAS , FUNGSI , KLASIFIKASI


1. RS Umum mempunyai misi memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2. Misi khusus RS Umum adalah aspirasi yg ditetapkan dan
ingin dicapai oleh pemilik rumah sakit.

3. Kedudukan RS umum ditentukan pada waktu penetapan
Organisasi dan tatakerja dari masing masing rumah sakit yg bersangkutan sesuai dgn peraturan perundang undangan yg berlaku.

4. RS Umum mempunyai tugas melaksanakan upaya
kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dgn
mengetumakan upaya penyembuhan dan pemulihan yg
dilaksanakan secara serasi dan terpadu dgn upaya
peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya
rujukan.

5. Untuk menyelenggarakan tugasnya Rumah Sakit Umum
Mempunyai fungsi :
a. menyelenggarakan pelayanan medis
b. menyelenggarakan pel. penunjang medis dan non medis
c. menyelenggarakan pel. Dan asuhan keperawatan
d. menyelenggarakan pelayanan rujukan
e. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
f. menyelenggrakan penelitian dan pengembangan
g. menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan

6. RS Umum Pemerintah Pusat dan Daerah diklasifikasikan
menjadi Rumah sakit umum kelas A ,B, C dan D

7. RS Umum sebagaimana pd butir 6 didasarkan pd unsur pelayanan, ketenagaan, fisik dan peralatan

8. RS Umum kelas A adalah RSU yg mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat ) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang medik, 12 (dua belas ) spesialis lain dan 13 (tiga belas ) subspesialis.

9. RS Umum kelas B adalah RSU yg mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4(empat)
spesialis dasar, 4 (empat ) spesialis penunjang medik, 8
(delapan ) spesialis lain dan 2 (dua ) sub spesialistis dasar

10. RS Umum kelas C adalah RSU yg mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik paling seikit 4( empat )
spesialis dasar dan 4 ( empat ) spesialis penunjang medik.

11. RS Umum kelas D adalah RSU yg mempunyai fasilitas dan
Kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 ( dua ) spsesialis dasar.









SUSUNAN ORGANISASI

I. Susunan Organisasi RS Umum kelas A terdiri dari :

1. Direktur yg dibantu oleh sebanyak banyaknya 4 wakil
direktur
2. Wadir Pelayanan Medis
3. Wadir Penunjang Medis
4. Wadir Pendidikan dan Penelitian
5. Wadir Umum & Keuangan
6. Komite Medis dan Staf Medis Fungsional (SMF )
7. Dewan Penyantun
8. Satuan Pengawasan Intern

II. Susunan Organisasi RS Umum kelas B terdiri dari :

1. Direktur yg dibantu oleh sebanyak banyaknya 3 wakil
direktur
2. Wadir Pelayanan Medis & Perawatan
3. Wadir Penunjang Medis dan Pendidikan
4. Wadir Wadir Umum & Keuangan
5. Komite Medis dan Staf Medis Fungsional (SMF )
6. Dewan Penyantun
7. Satuan Pengawasan Intern

III. Susunan Organisasi RSU Kelas C terdiri dari :

1. Direktur
2. Seksi Keperawatan
3. Seksi pelayanan
4. Sub Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis
5. Sub Bagian Keuangan dan Penyusunan Program
6. Instalasi
7. Komite Mesis dan Staf Medis Fungsional
8. Dewan Penyantun
9. Satuan Pengawas Intern

IV. Susunan Organisasi RSU Kelas D terdiri dari :

1. Direktur
2. Seksi pelayanan
3. Sub Bagian Kesekretariatan dan Rekam Medis
4. Sub Bagian Keuangan dan Penyusunan Program
5. Instalasi
6. Komite Mesis dan Staf Medis Fungsional


D I R E K T UR

Mempunyai tugas memimpin, menyusun kebijaksanaan
Pelaksanaan membina pelaksanaan, mengkoordinasikan dan
mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dgn
peraturan perundang undangan yg berlaku.



I N S T A L A S I

1. Instalasi merupakan penyelenggaraan pelayanan medis ,
penunjang medis , kegiatan penelitian, pengembangan,
pendidikan pelatihan dan pemeliharaan sarana rumah sakit
2. Instalasi dipimpin oleh seorang kepala dalam jabatan
nonstruktural
3 Jenis Instalasi disesuaikan dgn kelas dan kemampuan rumah
Sakit serta kebutuhan masyarakat.
4.Perubahan jumlah dan jenis Instalasi ditetapkan oleh
direktur sesuai dgn peraturan perundang undangan yg
berlaku.


KOMITE MEDIS

1.Komite Medis adalah kelompok tenaga medis yg Ke anggotaan
nya dipilih dari angota Staf Medis Fungsional
2.Komite Medis berada dibawah dan bertanggungjawab kepada
direktur.
3, Komite Medis mempunyai tugas membantu direktur menyusun
standar pelayanan dan memantau pelaksanaanya serta
melaksanakan pembinaan etika profesi, mengatur kewenangan
profesi anggota SMF serta mengembangkan program pelayanan
pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
4, Pembentukan Komite Medis RS milik Departemen Kesehatan
dite tapkan dgn keputusan Direktur Jendral Pelayayan Medis
atas usul direktur utk masa kerja 3 tahun.







STAF MEDIS FUNGSIONAL ( SMF )

1,SMF adalah kelompok dokter yg bekerja di Instalasi dalam
Jabatan fungsional.
2,SMF mempunyai tugas melaksanakan diagnosisi pengobatan,
pencegagahan akibat penyakit, peningkatan dan pemulihan
kesehatan, penyuluhan kesehatan, pendidikan dan pelatihan serta
penelitian dan pengembangan.
3,Dlam melaksanakan tugas SMF dikelompokan sesuai dgn
keahliannya
4, Kelompok dipimpin oleh seorang ketua yg dipilih oleh anggota
kelom pok utk masa bakti tertentu.
5,Utk RS kelas A dan B Pendidikan Ketua kelompok diangkat
Oleh Direktur Jendral Pelayanan Medik Dep.Kes.
6, Utk RS kelas B non pendidikan, C dan D diangkat oleh
Direktur



DEWAN PENYANTUN

1. Dewan Penyantun adalah kelompok pengarah/penasehat yg keanggotaan terdiri dari unsur Pemilik RS, unsur Pemerintah dan Tokoh masyarakat
2. Dewan Penyantun mengarahkan Direktur dalam melaksanakan Misi RS dengan memperhatikan kebijaksanaan yg ditetapkan oleh Pemerintah
3. Dewan Penyantun ditetapkan oleh Pemilik RS utk masa kerja 3 tahun

SATUAN PENGAWAS INTERN ( SPI )

1. SPI adalah kelompok fungsional yg bertugas melaksanakan pengawasan terhadap pengelolaan sumberdaya Rumah Sakit.
2. SPI dapat dibentuk pada Rumah Sakit kelas A, B dan RS Swadana
3. Spi ditetapkan oleh Direktur

KONSEP PERILAKU(ILMU KESEHATAN MASYARAKAT)


Konsep Perilaku

Sebelum kita membicarakan tentang perilaku kesehatan, terlebih dahulu akan dibuat batasan tentang perilaku itu sendiri. Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.

Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung.

Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia.

Hereditas atau faktor keturunan adalah adalah konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan adalah suatu kondisi atau merupakan lahan untuk perkembangan perilaku tersebut. Suatu mekanisme pertemuan antara kedua faktor tersebut dalam rangka terbentuknya perilaku disebut proses belajar (learning process).

Skinner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon) dan respons. Ia membedakan adanya 2 respons, yakni :

a. Respondent Respons atau Reflexive Respons

Adalah respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan-perangsangan semacam ini disebut eliciting stimuli karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap, misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat akan menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Pada umumnya perangsangan-perangsangan yang demikian itu mendahului respons yang ditimbulkan.

Respondent respons (respondent behaviour) ini mencakup juga emosi respons atau emotional behaviour. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakkan organisme yang bersangkutan, misalnya menangis karena sedih atau sakit, muka merah (tekanan darah meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang mengenakkan pun dapat menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa, berjingkat-jingkat karena senang dan sebagainya.

b. Operant Respons atau Instrumental Respons

Adalah respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme.

Oleh sebab itu, perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku yang telah dilakukan. Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan suatu perbuatan kemudian memperoleh hadiah maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain responnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.

Didalam kehidupan sehari-hari, respons jenis pertama (responden respons atau respondent behaviour) sangat terbatas keberadaannya pada manusia. Hal ini disebabkan karena hubungan yang pasti antara stimulus dan respons, kemungkinan untuk memodifikasinya adalah sangat kecil.

Sebaliknya operant respons atau instrumental behaviour merupakan bagian terbesar dari perilaku manusia dan kemungkinan untuk memodifikasi sangat besar bahkan dapat dikatakan tidak terbatas. Fokus teori Skinner ini adalah pada respons atau jenis perilaku yang kedua ini.

1.1 Prosedur Pembentukan Perilaku

Seperti telah disebutkan diatas, sebagian besar perilaku manusia adalah operant respons. Untuk itu untuk membentuk jenis respons atau perilaku ini perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut operant conditioning.

Prosedur pembentukan perilaku dalam operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut :
a. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer
berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi perilaku yang akan dibentuk.
b. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang
membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen
tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya
perilaku yang dimaksud.
c. Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-
tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing
komponen tersebut.
d. Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang
telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahnya
diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau perilaku (tindakan)
tersebut cenderung akan sering dilakukan. Kalau perilaku ini sudah terbentuk
kemudian dilakukan komponen (perilaku) yang kedua, diberi hadiah (komponen
pertama tidak memerlukan hadiah lagi), demikian berulang-ulang sampai
komponen kedua terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga,
keempat, dan selanjutnya sampai seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.

Sebagai ilustrasi, misalnya dikehendaki agar anak mempunyai kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur. Untuk berperilaku seperti ini maka anak tersebut harus :
a. Pergi ke kamar mandi sebelum tidur.
b. Mengambil sikat dan odol.
c. Mengambil air dan berkumur.
d. Melaksanakan gosok gigi.
e. Menyimpan sikat gigi dan odol.
f. Pergi ke kamar tidur.

Kalau dapat diidentifikasi hadiah-hadiah (tidak berupa uang) bagi masing-masing komponen perilaku tersebut (komponen a-e) maka akan dapat dilakukan pembentukan kebiasaan tersebut. Contoh tersebut di atas adalah suatu penyederhanaan prosedur pembentukan perilaku melalui operant conditioning.

Didalam kenyataannya prosedur ini banyak dan bervariasi sekali dan lebih kompleks dari contoh tersebut diatas. Teori Skinner ini sangat besar pengaruhnya terutama di Amerika Serikat. Konsep-konsep behaviour control, behaviour theraphy dan behaviour modification yang dewasa ini berkembang adalah bersumber pada teori ini.

1.2 Bentuk Perilaku

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons ini berbentuk 2 macam, yakni :

a. Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana.

Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behaviour).

b. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut overt behaviour.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung dan disebut covert behaviour. Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respons seseorang terhadap stimulus (practice) adalah merupakan overt behaviour.

2. Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan.

Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok, yakni respons dan stimulus atau perangsangan.

Respons atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan disini terdiri 4 unsur pokok, yakni sakit & penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan.

Dengan demikian secara lebih terinci perilaku kesehatan itu mencakup :

a. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap dan mempersepsi penyakit atau rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit atau sakit tersebut.

Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit, yakni :

- Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behaviour). Misalnya makan makanan yang bergizi, olah raga, dan sebagainya.

- Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behaviour) adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya tidur memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi, dan sebagainya. Termasuk perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

- Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behaviour), yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan, misalnya usaha-usaha mengobati sendiri penyakitnya atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern (puskesmas, mantri, dokter praktek, dan sebagainya), maupun ke fasilitas kesehatan tradisional (dukun, sinshe, dan sebagainya).

- Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behaviour) yaitu perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya melakukan diet, mematuhi anjuran-anjuran dokter dalam rangka pemulihan kesehatannya).

b. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatannya, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas, petugas dan obat-obatan.

c. Perilaku terhadap makanan (nutrition behaviour) yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi), pengelolaan makanan, dan sebagainya sehubungan kebutuhan tubuh kita.

d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behaviour) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri.

Perilaku ini antara lain mencakup :
- Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk didalamnya komponen,
manfaat, dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan.
- Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut segi-segi
higiene, pemeliharaan teknik, dan penggunaannya.
- Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair.
Termasuk didalamnya sistem pembuangan sampah dan air limbah yang sehat
serta dampak pembuangan limbah yang tidak baik.
- Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi,
pencahayaan, lantai, dan sebagainya.
- Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor) dan
sebagainya.

Menurut Ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu aksi atau reaksi organisme terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu.

Robert Kwick (1974) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap adalah hanya suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu objek, dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi objek tersebut. Sikap hanyalah sebagian dari perilaku manusia.

Didalam suatu pembentukan dan atau perubahan, perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, proses belajar, lingkungan, dan sebagainya.

Susunan saraf pusat memegang peranan penting dalam perilaku manusia karena merupakan sebuah bentuk perpindahan dari rangsangan yang masuk menjadi perbuatan atau tindakan. Perpindahan ini dilakukan oleh susunan saraf pusat dengan unit-unit dasarnya yang disebut neuron.

Neuron memindahkan energi-energi didalam impuls-impuls saraf. Impuls-impuls saraf indera pendengaran, penglihatan, pembauan, pengecapan dan perabaan disalurkan dari tempat terjadinya rangsangan melalui impuls-impuls saraf ke susunan saraf pusat.

Perubahan-perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda meskipun mengamati objek yang sama. Motivasi yang diartikan sebagai suatu dorongan untuk bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan, juga dapat terwujud dalam bentuk perilaku.

Perilaku juga dapat timbul karena emosi. Aspek psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani, yang pada hakekatnya merupakan faktor keturunan (bawaan). Manusia dalam mencapai kedewasaan semua aspek tersebut diatas akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan.

Belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan. Belajar adalah suatu perubahan perilaku yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku itu dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi 2, yakni faktor intern dan ekstern.

Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa perilaku merupakan konsepsi yang tidak sederhana, sesuatu yang kompleks, yakni suatu pengorganisasian proses-proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untuk melakukan responsi menurut cara tertentu terhadap suatu objek.

Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health related behavior) sebagai berikut :

a. Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya.

b. Perilaku sakit (illness behavior) yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seorang individu yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Termasuk disini kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut.

c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan / kesakitannya sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain terutama kepada anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya.

Saparinah Sadli (1982) menggambarkan individu dengan lingkungan sosial yang saling mempengaruhi didalam suatu diagram.

Keterangan :
a. Perilaku kesehatan individu; sikap dan kebiasaan individu yang erat kaitannya
dengan lingkungan.
b. Lingkungan keluarga; kebiasaan-kebiasaan tiap anggota keluarga mengenai
kesehatan.
c. Lingkungan terbatas; tradisi, adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat
sehubungan dengan kesehatan.
d. Lingkungan umum; kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang kesehatan,
undang-undang kesehatan, program-program kesehatan, dan sebagainya.

Setiap individu sejak lahir terkait didalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Dalam keterkaitannya dengan kelompok ini membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Oleh karena pada setiap kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan atau norma-norma sosial tertentu maka perilaku tiap individu anggota kelompok berlangsung didalam suatu jaringan normatif. Demikian pula perilaku individu tersebut terhadap masalah-masalah kesehatan.

Kosa dan Robertson mengatakan bahwa perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi oleh kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan dan kurang berdasarkan pada pengetahuan biologi. Memang kenyataannya demikian, tiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mengambil tindakan penyembuhan atau pencegahan yang berbeda meskipun gangguan kesehatannya sama.

Pada umumnya tindakan yang diambil berdasarkan penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain terhadap gangguan tersebut. Penilaian semacam ini menunjukkan bahwa gangguan yang dirasakan individu menstimulasikan dimulainya suatu proses sosial psikologis. Proses semacam ini menggambarkan berbagai tindakan yang dilakukan si penderita mengenai gangguan yang dialami dan merupakan bagian integral interaksi sosial pada umumnya.

Proses ini mengikuti suatu keteraturan tertentu yang dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian, yakni :

a. Adanya suatu penilaian dari orang yang bersangkutan terhadap suatu gangguan atau ancaman kesehatan. Dalam hal ini persepsi individu yang bersangkutan atau orang lain (anggota keluarga) terhadap gangguan tersebut akan berperan. Selanjutnya gangguan dikomunikasikan kepada orang lain (anggota keluarga) dan mereka yang diberi informasi tersebut menilai dengan kriteria subjektif.

b. Timbulnya kecemasan karena adanya persepsi terhadap gangguan tersebut. Disadari bahwa setiap gangguan kesehatan akan menimbulkan kecemasan baik bagi yang bersangkutan maupun bagi anggota keluarga lainnya. Bahkan gangguan tersebut dikaitkan dengan ancaman adanya kematian. Dari ancaman-ancaman ini akan menimbulkan bermacam-macam bentuk perilaku.

c. Penerapan pengatahuan orang yang bersangkutan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masalah kesehatan, khususnya mengenai gangguan yang dialaminya. Oleh karena gangguan kesehatan terjadi secara teratur didalam suatu kelompok tertentu maka setiap orang didalam kelompok tersebut dapat menghimpun pengetahuan tentang berbagai macam gangguan kesehatan yang mungkin terjadi.

Dari sini sekaligus orang menghimpun berbagai cara mengatasi gangguan kesehatan itu, baik secara tradisional maupun modern. Berbagai cara penerapan pengetahuan baik dalam menghimpun berbagai macam gangguan maupun cara-cara mengatasinya tersebut merupakan pencerminan dari berbagai bentuk perilaku.

d. Dilakukannya tindakan manipulatif untuk meniadakan atau menghilangkan kecemasan atau gangguan tersebut. Didalam hal ini baik orang awam maupun tenaga kesehatan melakukan manipulasi tertentu dalam arti melakukan sesuatu untuk mengaatasi gangguan kesehatan. Dari sini lahirlah pranata-pranata kesehatan baik tradisional maupun modern.

4 PRINSIP PELAYANAN DOKTER KELUARGA


1. Pengertian Pelayanan Dokter Keluarga :

* Pelayanan rawat jalan tingkat pertama (RJTP) bagi peserta Askes yang dilaksanakan pada dokter keluarga (dokter umum dan dokter gigi) yang menjadi provider PT Askes (Persero)

2. Jenis Pelayanan Dokter Keluarga :

* Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan
* Pemeriksaan dan Pengobatan oleh dokter
* Tindakan medis kecil (ringan)
* Pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana
* Pemeriksaan ibu hamil, nifas dan ibu menyusui, bayi dan anak balita
* Upaya penyembuhan terhadap efek samping kontrasepsi
* Pemberian obat pelayanan dasar dan pelayanan obat penyakit kronis atas indikasi medis
* Pemberian surat rujukan ke Rumah Sakit/Dokter Spesialis untuk kasus yang tidak dapat ditangani Dokter Keluarga

3. Prosedur Pelayanan Dokter Keluarga :

* Peserta bisa mendapatkan pelayanan Dokter Keluarga dengan menunjukkan Kartu Askes atau identitas lain dalam keadaan darurat
* Peserta mendapatkan pelayanan rawat jalan tingkat pertama di Dokter Keluarga dan peserta menandatangani bukti pelayanan
* Peserta bisa mendapatkan surat rujukan ke RS/Dokter Spesialis jika diperlukan pemeriksaan atau tindakan lebih lanjut yang tidak dapat ditangani oleh Dokter Keluarga
* Peserta dengan penyakit kronis bisa mendapatkan pelayanan termasuk resep obat kronis di Dokter Keluarga dengan membawa surat rujukan balik dari RS/Dokter Keluarga

4. Pelayanan Obat Dokter Keluarga :

* Pelayanan obat biasa atau obat kronis dapat diperoleh berdasarkan resep Dokter Keluarga
* Pelayanan Obat Biasa : resep obat dapat diambil di Apotek provider atau dapat diberikan langsung oleh Dokter Keluarga apabila dalam wilayah tersebut tidak ada Apotek atau lokasi Apotek jauh dari Dokter Keluarga, Jumlah obat yang diberikan maksimal untuk 7 (tujuh) hari
* Pelayanan Obat Kronis : diambil dengan menunjukkan surat rujukan balik dari RS/Dokter Spesialis kepada Dokter Keluarga, Jumlah obat yang diberikan maksimal untuk 30 (tiga puluh) hari
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010