Senin, 15 November 2010

MISTIK PENASARAN ANTARA RASA CINTA VS RASA KEBENCIAN(LOVE,LIFESTYLE,SEKS,JILBABERS) PART 1(bersambung)


Tadinya ni postingan mau ane kirim satu2 lewat message di fesbuk ke sohib2 yg ane anggap guru,,tp ternyata pesan nya terlalu panjang,,terpaksa deh ane posting di catatan,,g enak jg sich,,takutnya disangka memojokkan atau apa gitu,,,



Pengen sharing sih ane jg,,coz ane jg bisa aja terjerumus, dsinilah peran temen yg penting bgt...ane jg jujur sbg cowok pasti lah tergiur ama yg namanya seks, apalagi yg namanya wanita berjilbab,ane bisa mumet dibuatnya,,, makanya itu,,ane pengen share ke sohib2 ane biar ane pribadi g terjerumus,,,,,tp apapun itu,,yah beginilah,



Berawal dr kecintaan dan kebencian ane terhadap wanita berjilbab dr sejak zaman smp dulu,,n akhirnya pas dah lulus sma techno semakin canggih,,ane mulai penasaran dengan rasa kecintaan ane terhadap jilbabers yg kadang mmbuat suatu hal yg ane g ngerti n rasa kebencian ane terhadap jilbabers pula yg ane g bisa jelasin,,,semakin penasarannya ane terhadap 2 hal tersebut, hal yg sangat berlawanan,,kecintaan dan kebencian



Hingga akhirnya,,entah darimana awal mulanya, ane lupa lagi,,yang pasti segala rasa penasaran ane terhadap 2 rasa yg ane alami tersebut membuat ane pengen ngegali lebih jauh dunia penasaran ane...



sekali lagi ane g menghakimi siapapun atau apapun,,ane pengen share aja,,jujur aja mungkin ane jg belum 100 % kuat iman ane,,masih ada rasa ingin dlm hati,,makanya itu,, ane pengen minta bantuan sohib2 biar kita sama2 dijauhin



di suatu forum di salah satu web online,,ane menyamar jd jilbaber jg,,,ni ada pengakuan di web forum yg ane jg penasaran ama forum itu,,plus ni ada tambahan para ahli n psikolog



nanti mungkin ane critain lagi yg ane dapet,,g sgini tentunya...ni cuma awalan aja,,,,



Sex Bebas Kalangan Akhwat Kampus



Ajaran agama menilai seks di luar nikah sebagai perbuatan berbuah dosa. Namun seiring perkembangan waktu, nilai-nilai tersebut seolah bergeser 180 derajat Sebagian dari mereka bahkan menganggap seks bebas itu sudah biasa.



Penampilan Sarah sangat menonjol sosoknya sebagai seorang muslimah. Tidak mungkin orang menganggap Sarah sebagai seorang mahasiswi yang gemar melakukan seks bebas karena kesantunan sikapnya serta jilbab senantiasa melekat pada dirinya. Namun, inilah pengakuan perempuan berusia 24 tahun asal Palembang. Semenjak kuliah semester dua di perguruan tinggi Islam di kawasan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, ia sering melakukan hubungan seks bebas. Sudah tak terhitung berapa kali is melakukan dengan pacarnya.





Aku sendiri sekarang tidak merasa berdosa melakukan seks bebas. Karena kebiasaan kali ya, tuturnya kepada syir'ah, setelah meminta agar identitas pribadinya tidak dibeberkan. Gadis berjilbab yang suka memakai celana jeans ketat ini sebenarnya berasal dari keluarga "fananatik" dalam beragama. Di kota Palembang tempat kelahirannya, semenjak usia dini hingga remaja, ia hidup dalam iklim religius yang sangat ketat. Orangtuanya memasukkan Sarah ke sekolah yang mengutamakan pendidikan Islam. Belum lagi, setiap sore, Sarah masih punya kewajiban ikut kegiatan keagamaan di madrasah





Tak kurang pendidikan agama yang didapatkan di masa remajanya. Lantas kenapa muslimah seperti Sarah yang dulu sangat mengecam perilaku dosa besar seperti seks luar nikah, justru kini menikmatinya tanpa beban ? Faktor apa yang membuat dirinya berani menabrak norma, hukum, dan etika agama?





Sesuai pengakuannya, Sarah pertama kali melakukan hubungan seks dengan pacarnya yang juga kakak kelasnya. Dulu ia merasa harus menunggu menikah dulu untuk melakukan hubungan seks. Namun, karena pacarnya sering merayu ketika ngobrol di tempat kosnya, akhirnya sarah mau melakukan. Habis aku sayang banget sama dia, apalagi dia juga berjanji mau menikahiku, katanya.



Menariknya, kalau dulu Sarah melakukan hubungan seks karena terdorong hasrat seksualnya, kini seks bagi Sarah adalah cara praktis mencari penghasilan. Dia mengaku kalau dalam sehulan sering melakukan hubungan seks dua sampai tiga kali dengan orang yang membutuhkannya. Ia melakukan karena uangnya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sembari menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Aku belum kerja, sementara aku sudah tidak man membebani orangtua, ucapnya. Sarah memang tidak merasa perlu berapologi soal ekonomi sebagai faktor alasannya. Ini soal praktis aja kok, ujarnya terbuka, dengan tanpa mau menyebut berapa jumlah penghasilannya ketika dipesan orang.



Lain halnya Umi, mahasiswi berjilbab berkulit kuning vokalis group Nasyid di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).Umi menuturkan, hubungan sex pertama kali dilakukan saat ia masih duduk di bangku Madrasah Aliyah.Kejadian itu berawal dari seringnya ia menjadi panitia hari besar keagamaan, dengan pacar sekelasnya, ia melakukan hubungan sex di ruang kelas yang saat itu sepi.Menyesalkah Umi?"Lebih tepatnya takut", katanya ."Namanya juga baru pertama kali ML,taklut hamil.Tapi setelah ternyata nggak hamil, ya diulang-ulang lagi.."'katanya sedikit tersipu.Masih pengakuan Umi, ia sampai menjadi mahasiswi semester 3 saat ini, telah berhubungan sex dengan 3 laki-laki.Sarah ..ataupun Umi, mungkin mewakili dua sosok fenomenal mahasiswi yang sering jadi perbincangan di lingkungan kampus. Pertama, ada istilah pecun yang tidak jelas artinya, tapi sering digunakan sebagai bahasa gaul kaum mahasiswa ketika membincangkan mahasiswi yang gemar melakukan seks bebas gonta-ganti pasangan.





Yang kedua, sosok Sarah mungkin juga bisa diidentikan dengan ayam kampus, satu istilah yang sering ditujukan kepada mahasiswi yang bisa dikontrak dengan bayaran tertentu oleh laki-laki hidung belang. Ihwal kebebasan seks di kalangan mahasiswa bukanlah hal yang aneh. Tapi cukup mengagetkan jika ternyata pelakunya banyak dari kalangan pesantren, aktivis gerakan Islam kampus, yang notabene dikenal sebagai mahasiswa taat beragama. Kalau dicari akar penyebabnya, barangkali pergaulan bebas di lingkungan






mereka tinggal itulah yang menjadikan seks tidak lagi sebagai perilaku yang harus dijauhi. Kebebasan mahasiswa-mahasiswi di kota-kota besar memang membuat cara berpikir dan perilaku orang bisa berbuat di luar norma-norma tradisional. Banyak hal yang mempengaruhinya. Di antaranya karena jauh dari orangtua, lingkungan yang permisif, dan tentu banyak dipengaruhi media massa, kata Alia Swastika, pengamat kebudayaan dari Lembaga KUNCI, Yogyakarta.





Sebenarnya soal seks bebas, kata Alia, juga bagian dari gejala perlawanan terhadap norma yang sudah mapan. Di mana pun dan kapan pun, masyarakat apapun, terdapat gejala-gejala perlawanan terhadap norma yang sudah mapan, katanya.





Menurut KH Muhamin, pengasuh pesantren di Kotagede, Yogyakarta, iklim kebebasan di Yogyakarta memang sangat mendukung perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa. Tapi, bagaimana jika dilakukan oleh kalangan mahasiswa Islam? Kiai yang sering memberi bantuan menikahkan mahasiswa-mahasiswi secara sirri ini menilai, tidak ada jaminan bahwa orang yang berlatar belakang agama lebih taat dan bisa menghindari godaan itu. Jangankan mahasiswa yang kos. Santri saya yang terjaga ketat saja pernah ada yang `kebobolan',ungkapnya.





Fenomena seorang muslimah seperti Sarah barangkali sudah sering terdengar di berbagai pembicaraan. Istilah ayam kampus telah sangat dikenal luas, terutama oleh para mahasiswa. Iklim kebebasan di Yogyakarta memang sangat tinggi. Soal seks bebas bukan isu tanpa bukti. Apalagi tinggal di tempat kos yang memberikan kebebasan. Suasana tempal kos seperti itu mendukung pergaulan antarmahasiswa ke arah perilaku yang menyimpang dari norma-norma agama.





Tak heran jika mahasiswa yang berlatar belakang santri pun larut dalam arus kebebasar seksual-tersebut. Ibu Sumarmi, seorang pengelola rumah kos di kawasan Kaliurang Yogyakarta. serlng mengetahui kalau ada tamu mahasiswa yang menginap di salah satu kamar seorang mahasiswi yang kos di samping rumahnya. Dulu kami pernah memberikan peringatan agar mahasiswi yang kos di sini tidak boleh menerima tamu mahasiswa, ya sekedar menasehati, apalagi mereka mahasiswi yang kesehariannya berjilabab.Eh..tapi mereka malah pada pindah, katanya.





Namun harus diakui, fenomena seorang mahasiswi muslimah yang kesehariannya berjilbab dan berjubah sekalipun, tak luput dari godaan-godaan duniawi khususnya masalah sex.Tengoklah Aulia, gadis manis berlesung pipit ini mengaku telah berulang kali melakukan hubungan sexual dengan dosen pembimbing skripsinya."Dosen saya yang mulai ngajak "gituan".Awalnya sih saya nolak,tapi skripsi saya nggak pernah kelar"'tuturnya kepada Syir'ah.Terus... bagaimana akhir dari skripsinya?"Alhamdulillah, beres, bahkan saya berhasil merampungkan S1-nya dengan IP 3,48



Lain dengan Sarah, Rizal (bukan nama sebenarnya) seorang alumnus pesantren di Jawa Timur kini kuliah di perguruan tinggi terkenal di kawasan timur Yogyakarta juga tidak lagi tabu melakukan hubungan seks di luar nikah. Kalau hanya untuk keperluan seks, lalu harus menunggu pernikahan, aku kira terlalu berat, katanya. Bagi Rizal, untuk membentuk suatu pernikahan banyak syarat yang harus dipenuhi. Nikah baginya bukanlah pelembagaan seks itu sendiri, tetapi lebih kepada pembentukan keluarga.





Menurut dia, seks kos adalah dorongan yang manusiawi, sementara pernikahan tidak bisa dilaksanakan segera, maka pilihan seks suka sama suka pada dasarnya tidak perlu dirisaukan. Konsepsi seks harus dengan melalui lembaga pernikahan, rasanya perlu ditafsir ulang, kata mahasiswa yang fasih mengutip ayat untuk memperkuat argumentasinya ini.Senada dengan Rizal, Aam (nama samaran), umur 29 tahun, alumnus dari perguruan tinggi yang sama dengan Rizal, mengaku sering melakukan hubungan seks untuk kesenangan semata. Alumnus salah satu pesantren terkemuka di Cirebon ini mengaku, seks adalah hasrat yang harus dipenuhi. Bagi saya, seks adalah obyek kesenangan yang ada pada saya dan mesti dipenuhi sepanjang saya belum mendapatkan alasan dan keyakinan yang lebih kuat untuk bisa menghentikannya, katanya.





Aam tidak tahu kenapa dirinya berani menentang norma-norma agama yang pernah dipelajarinya di pesantren. Yang jelas, is mengaku bosan dengan lingkungan pesantren yang serba ketat dalam menjaga pergaulan hidup. Saya tak menafikan sampai sekarang Sering terbersit adanya larangan agama, tapi begitu hasrat saya terus mendesak, saya mengabaikannya, ujarnya.





Kenapa tidak menikah? Aku belum merasa siap secara material, kata Aam. Ia memang tidak menolak perlunya menikah. Sebab, biar bagaimanapun dia hidup dalam komunitas sosial dengan aturan formal yang telah ada. Meskipun aturan itu hanya ada pada tingkat permukaan, ujarnya. Bagi Aam, lembaga perkawinan adalah bentuk pertanggungjawaban sosial di hadapan masyarakat dan barangkali anak-anak yang menjadi generasi penerus.



Lain dengan Sarah dan Rizal, Afifah (bukan nama asli), 26 tahun, punya pengalaman lain soal perilaku seksualnya. Mahasiswi keturunan Arab yang sampai sekarang masih rajin mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di sebuah masjid di kawasan Bekasi ini Sering melakukan hubungan seks dengan suami temannya. Afifah mengaku, is melakukan seks semenjak umur 21 tahun. Suami temanku itu dulu pernah pacaran sama aku waktu SMA. Kita pisah karena dia ingin cepat nikah, sementara usiaku waktu itu masih terlalu muda. Orangtuaku tidak mengizinkan, dan aku sendiri belum minat menikah. Sebenarnya kami saling suka. Karena itu, ketika dia menikah dengan cewek lain kami masih berhubungan baik, tuturnya kepada syir'ah.



Afifah mengaku, dulu sewaktu pacaran tidak pernah melakukan hubungan seks. Namun,ia justru melakukan setelah pisah sama pacarnya yang menikah dengan temannya sendiri.Kami melakukan itu karena aku sendiri masih merasa suka sama dia. Tiga tahun lebih kami melakukan hubungan seks tanpa sepengetahuan istrinya, katanya. Tapi, kini Afifah mengaku sudah tidak pernah melakukan sama mantan pacarnya karena sudah punya pacar lagi. Jadi aku melakukan sama pacarku sekarang, ucapnya.





Ditanya soal hubungannya dengan larangan agama, Afifah mengaku kalau sebenarnya hal itu perbuatan terlarang. Tapi bagaimana? Gue merasa perlu terus menyalurkan, jawabnya. Afifah tak menafikan kalau sampai saat ini dirinya punya perasaan yang bertentangan antara dosa dan kenikmatan. Namun yang jelas, seksualitas telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.



Lalu bagaimana dengan praktik ibadah keseharian jika dirinya masih merasa punya perasaan berdosa. Kebetulan keluargaku muslim yang cukup taat. Sembahyang pun sampai sekarang tidak pernah bobol, jelasnya. Mahasiswi bertubuh bongsor berhidung mancung ini juga menuturkan punya pengalaman yang unik. Bulan Puasa kemarin, aku berhubungan seks habis salat tarawih. Menginap di hotel bareng cowok gue. Subuh, habis makan sahur kami baru pulang, ujarnya sambil tertawa geli.Di kota Malang, syir'ah mendapat pengakuan seorang mahasiswi bernama Anindya. Baginya, seks di luar nikah bukanlah sesuatu hal yang sakral dan harus ditentang. Nikah di zaman sekarang ini susah. Tuntutan hidup keluarga sangat besar, kata mahasiswi yang pernah 3 tahun aktif di salah satu harakah (gerakan) Islam di sebuah PTS Kota Malang. Anindya menganggap kalau sekadar ingin melakukan seks harus menikah, maka itu tidaklah sesuatu yang realistis. Seks itu suatu tuntutan dasar manusia yang harus disalurkan, ujarnya.





Apakah Anindya tidak merasa berdosa dengan asumsi itu? Saya pikir sudah tidak rasional lagi konsepsi agama yang melarang itu.





Konsepsi seks harus melalui pernikahan itu sudah tidak relevan untuk saat sekarang, kata cewek yang sering melakukan seks dengar cowok-cowok yang dikenalnya lewat chatting diinternet. Anindya yang lahir dari keluarga muslim Kota Malang ini mengaku, doktrin agama yang melarang seks melalui pesan-pesan agama, hanyalah macan kertas. Orang tuaku memang melarang hubungan bebas dengan laki laki, tapi kita punya rasionalisasi tersendiri di zaman ini, katanya. Seks gonta-ganti pasangan, bagi dia, tidak perlu-ekstrem, harus memilih keyakinan gerakan Islam atau memilih cintaku pada pacar. Karena sudah dekat hubungan pacarnya, segala p dilarang asal dilakukan atas dasar suka sama suka, dan bisa menghindari dampak buruknya, seperti terken penyakit AIDS. Kalau misalnya hamil, maka lelaki juga harus bertanggung jawab, ujarnya sembari menyampirkan kain jilbab putih ke pundaknya.Fenomena lain yang cukup unik adalah kisah seks bebas yang dilakukan oleh NENI (bukan nama asli)26 tahun. Neni adalah seorang aktivis ' harakah islamiah yang punya proyek besar menegakkan khilafah islamiyah. Di bawah payung organisasi yang sangat tertutup dan militan ini, Neni di mata rekan-rekan organisasinya termasuk salah seorang penggerak aktivitas di lingkungan kampus terkenal di Bandung. Namun, sejak Neni ketahuan berhubungan seks dengan pacarnya, organisasi terpaksa memecatnya. Neni' mengaku, pada usianya yang ke-24, sempat terlintas pemikiran untuk menentukan pilihan menikah dengan lelaki. Tapi sayang, organisasinya terlalu ketat mengatur urusan pribadi. Biasanya sih, laki-laki atau perempuan sering dijodohkan oleh atasan untuk menikah dengan sesama aktivis di organisasi kami, katanya. Menurut penuturannya kepada syir'ah, Organisasi punya kepentingan mengikat para kaderiya dari berbagai hal, keluarga, ekonomi, soal pekerjaan.





Menurut analisa psikolog Dr.Hajah Manzuroh, kecenderungan sex bebas tidak terbatas dilakukan oleh mahasiswi yang rendah intelegensianya.Fenomena menunjukkan, mahasiswi yang ber IP tinggi seperti Aulia pun bisa larut dalam kehidupan sex.Bahkan mahasiswi yang sehari-harinya berjilbab dan berpakaian jubah.,ternyata juga banyak yang menikmati pola tersebut.Coba tengok sosok mahasiswi Umi, dari segi fisik ia lebih mirip gadis Indo Pakistan yang vokalis salah satu group Nasyid Universitas.....Busananyapun selalu rapi, berjilbab lebar dan berjubah.Bisa dipastikan, 90% orang tak akan menyangka bahwa ia menjalani pola hidup freesex.Lain lagi kisah Neni berikut ini.Untuk soal organisasi, Neni mungkin tergolong kader yang paling tertib. Tapi untuk soal menikah dia merasa punya hak untuk memilih.:Tibalah saatnya, suatu ketika rasa sayangnya dengan Iawan jenis tertambat dengan seorang Iaki-laki. Biar pun kami kenal baru satu tahun, tapi saya dan dia merasa sreg untuk menikah, tuturnya.





Namun, pada saat yang hampir bersamaan, atasan di organisasinya bermaksud menjodohkan dengan salah satu kadernya. Lebih dari itu, problem Neni bertambah, ketika diam-diam orangtuanya juga ingin menjodohkan dengan seorang laki-laki. Neni pusing tujuh keliling menghadapi soal itu. Pilihannyaersoalan pun selalu dibicarakan bersama. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan harus menikah secepatnya agar tidak didahului organisasi maupun orang tuanya.





Disinilah neni bersama pacarnya mengaku sebagai suami istri yang "sah" semenjak mereka menginap bersama di salah satu hotel dikawasan Dago, Bandung. "Di hotel itu kami berikrar sumpah dan menikah secara berduaan dengan "saksi" Tuhan saja. Neni dan pacarnya menganggap itu sah karena berbagai persoalan organisasi dan orang tua telah menciptakan keadaan darurat.





"Bagaimana lagi, kalau kita menikah harus dengan izin orang tua , mereka jelas tidak setuju, apalagi dengan atasan di organisasi, kami hanya mendapat caci maki," kenangnya pada peristiwa dua tahun yang lalu itu.Semenjak berikrar menikah itu pula dengan pula dengan Tuhan sebagaisaksi, Neni dan suaminya sering melakukan hubungan seks setiap kali ada kesempatan sampai sekarang.Fenomena seks bebas di kalangan mahasiswa yang latar belakang keagamaannya cukup kuat ternyata menjadi daya tarik tersendiri pada masa sekarang. Di balik kegalauan orangtua dan agamawan, perilaku itu kian hari kian menjalar ke mana-mana. Faktor globalisasi, terutama ketika media massa melalui teknologi informasi menyebar ke seluruh ruang pribadi kehidupan, telah banyak memberikan kebebasan bagi penyaluran hasrat seksual, kata Yasraf Amir Pilliang.





Mungkin kita semua masih ingat peristiwa di sebuah toilet masjid besar di wilayah Yogya...yang selalu ramai saat datangnya bulan Ramadhan.Saat itu tertangkap basah sepasang muda-mudi keduanya mahasiswa/i Perguruan Tinggi ternama tengah bercumbu.Menarik untuk dicermati, karena mahasiswi yang bersangkutan adalah seorang mahasiswi berjilbab aktivis kampus.Nella, sang mahasiswi tersebut bersandar di tembok sedangkankan si cowok mencumbuinya sambil berdiri, sambil tangan si lelaki menyingkap rok dan meraba-raba selangkangan si cewek. Mereka tidak sampai berbuat yang lebih jauh / berhubungan kelamin.Pengamat kebudayaan ini dengan agak pesimistis mengomentari runtuhnya ajaran agama sebagai benteng muda-mudi dalam menghadapi perilaku seks bebas. Sekuat-kuatnya iman seseorang, kalau hidup dalam situasi yang sekarang ini, iman pun akan mudah rontok, katanya.





Bagaimana cara mereka agar tidak hamil?Menurut pengakuan Siti, mahasiswi berjilbab gaul yang tengah luliah di Fakultas Kedokteran semester 5,mengaku, "Saat ini dunia kan sudah maju.Bahkan sejak SMA kita sudah diajari sistem reproduksi, jadi saya tahu kapan usia subur.Dan tentu saja jangan lupa yang seperti ini", sambil tersenyum ia merogoh tasnya dan menunjukkan sebuah alat kontrasepsi 'kondom'.Ketika ditanya bagaimana rutinitasnya yang notabene seorang aktivis yang rutin mengikuti majelis taklim,dengan agak berbisik ia menjawab,"Ya, sebenarnya ia merasa berdosa,tapi hasrat itu sulit dibendung".Memang wajar,Siti hidup di abad 21.Apalagi,ia kuliah di Fakultas Kedokteran yang berat dan padat materi perkuliahannya.Secara mental, ia butuh penyaluran hasrat sexualnya.Ya, pilihannya jatuh pada sex bebas. Fenomena inilah yang barangkali diungkap dalam beberapa group/web site yang mereka sebut Pesona Jilbab, sebuah komunitas bagi laki-laki yang 'gemar' dengan gadis-gadis berjilbab. Saat ini banyak beredar foto-foto, group bahkan web site yang mengumbar nafsu birahi bagi mahasiswa-mahasiswa yang gemar dengan gadis berjilbab. Tengok misalnya fotoi seorang artis berjilbab yang dulu terkenal sebagai artis film bom sex Inneke Koesherawati.Sekarang ia berjilbab bahkan menyjandang gelar Hajjah, busananyapun selalu tertutup. Namun foto-foto bugilnya masih banyak diakses di internet.



Persoalan yang tampak dan pengakuan mereka bahwa perilaku seks di luar nikah banyak disebabkan oleh persoalan birokrasi pernikahan: Memang pernikahan dalam tataran esensinya sangat mudah dilakukan. Soal biaya pun bisa diminimalisasi semurah mungkin. Tapi, dalam kenyataannya, soal nikah, terutama berkaitan dengan persoalan membentuk institusi keluarga bukanlah hal yang mudah.





Perlukah merekonstruksi konsep pernikahan yang lain sebagai upaya membuka jeratan seks bebas? Atau biarkan saja kenyataan itu berlangsung karena alasan norma kebebasan sudah menjadi bagian yang mendasar dari keseharian hidup masyarakat kita





Kami berpandangan, biarkan saja fenomena sex bebas di kalangan akhwat ini berlangsung sebagai sebuah proses pendewasaan diri. Melarang mereka menjalani sex bebas adalah melanggar hak asasi manusia (HAM). Mereka kini tak perlu menyewa hotel untuk melakukan sex bebas. BUkankah tempat kos adalah tempat yang aman? Bahkan seorang aktivis Nella Choiria (21 tahun) lebih suka menjalani percintaan dengan boyfriend nya di box warnet. Mahasiswi berjilbab ini bisa berjam-jam berada di box warnet bersama pacarnya. Warnet yang terletak di dekat kampusnya memang sangat bagus dan memunginkan untuk melakukan hubungan sex bebas

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010