Kamis, 11 November 2010

APOKALIPS (PART 2)


MIMPI BURUK BERLANJUT
Legitimasi dan Formalisasi Perdagangan Budak di Afrika oleh WTO



Tanggal 11 November 2006 , di Philadelpia, Amerika Serikat, di sebuah sekolah bisnis bernama Wharton Business School, diselenggarakan sebuah konferensi mengenai bisnis di Afrika. Seorang resentatif WTO (World Trade Organization), Hanniford Schmidt mempermaklumkan bahwa munculnya inisiatif WTO demi “pelayanan pekerja yang sepenuhnya privat” di berbagai daerah di Afrika telah menjadi perubahan terbesar bagi perdagangan bebas Afrika dengan Barat yang telah berjalan selama 500 tahun.

Inisiatif tersebut membutuhkan korporasi-korporasi dari Barat untuk membuka bisnisnya di beberapa tempat di Afrika serta memiliki dan menentukan sepenuhnya seluruh hak-hak atas pekerjanya masing-masing, termasuk juga memberikan layanan hidup penuh terhadap para pekerjanya tersebut. Schmidt menegaskan bagaimana layanan privat telah berhasil diterapkan di bidang transportasi, sumber catu daya, air, pengetahuan tradisional dan bahkan juga sampai ke gen manusia. Program “pelayanan yang sepenuhnya privat” dengan sendirinya akan dapat menaikkan kadar kesuksesan dalam me(re)privatisasi manusia.

“Pelayanan penuh dan tanpa hambatan apapun adalah solusi terbaik yang tersedia atas kemiskinan Afrika, dan juga hasil yang tak terelakkan dari teori pasar-bebas,” ujar Schmidt pada lebih dari 150 audiens yang hadir.
Audiens yang hadir, termasuk di dalamnya Prof. Charles Soludo (Pejabat tinggi Bank Sentral Nigeria), Dr. Laurie Ann Agama (Direktur Urusan Afrika di USTR, Office of the US Trade Resentative—Kantor Resentatif Dagang Amerika Serikat) dan juga beberapa petinggi lainnya. Dr. Agama memberi selamat pada Schmidt atas perspektif makroskopiknya, mengatakan bahwa sudut pandang USTR menyetujui sepenuhnya pendekatan umum dari WTO. Soludo juga mempermaklumkan proposal WTO sebagai sesuatu yang baik, walaupun ia tidak seantusias Dr. Agama.

Sebuah sistem di mana korporasi dapat sepenuhnya memiliki seluruh hidup pekerjanya adalah satu-satunya solusi pasar-bebas bagi kemiskinan yang terjadi di Afrika, demikian ujar Schmidt. “Selama ini, di pabrik-pabrik Afrika, satu-satunya kepedulian sebuah perusahaan pada para pekerjanya adalah pada jam-jam produktif dan dalam tahun-tahun produktifnya,” ujarnya. “Sesegera AIDS menyerang, semua akan dipecat. Menderita sakit, dipecat. Apabila engkau meningkatkan kewajiban pengusaha menjadi sebuah 24 jam selama 7 hari, kepedulian sepanjang hidup, maka engkau akan memiliki sepenuhnya sebuah situasi yang berbeda: sakit, diurus. Dengan setiap kehidupan dianggap berharga dari lahir hingga mati, bencana AIDS akan dengan segera teratasi melalui pengembangan pabrikasi obat-obatan sebagai sebuah penanaman saham yang menguntungkan dalam pelayanan atas manusia.”

Untuk membuktikan bahwa pelayanan atas manusia dapat bekerja, Schmidt mengutip sebuah proposal sebuah tim pemikir pasar-bebas, yang menyelamatkan ikan paus dengan cara menjual mereka. “Mereka yang tidak suka perburuan paus dapat membeli hak-hak paus tertentu atau sekelompok paus demi menyelamatkan paus-paus tersebut dari perburuan paus,” jelasnya. Dengan berjalan serupa, maka penduduk di negara Dunia Ketiga akan “mendorong” penduduk negara Dunia Pertama yang peduli untuk menolong mereka, demikian ujar Schmidt.

Seorang audiens konferensi bertanya apa yang menjamin seorang majikan sebagai pelayan saat pekerjanya telah terlalu tua untuk bekerja dan berproduksi. Schmidt merespon bahwa sebuah pasar bioteknologi yang besar dan baru akan dapat menjawab semua kekhawatiran tersebut. Ia juga lantas mengingatkan audiens bahwa itulah satu-satunya solusi yang tersisa di bawah teori pasar bebas.

Setelah pertanyaan tersebut, tak ada lagi pertanyaan yang diajukan oleh audiens atas proposal Schmidt.

Selama pembicaraannya, Schmidt menggaris bawahi tiga fase dalam 500 tahun sejarah perdagangan antara Afrika dengan Barat: perbudakan, kolonialisme dan pasar poskolonial. Ia menekankan, bahwa setiap kali perdagangan dilakukan di Afrika, selalu saja membawa manfaat bagi negeri Barat tetapi membawa bencana di Afrika, dengan kemiskinan yang melanda dan bahkan juga kematian jutaan penduduk Afrika. “Selama ini selalu ada alur berikut: Baik untuk bisnis, buruk bagi publik. Baik untuk bisnis, buruk untuk publik. Baik untuk bisnis, buruk untuk publik. Itu makanya mengapa kami dengan gembira menyatakan bahwa fase keempat bagi bisnis antara Afrika dengan Barat akan menjadi baik untuk bisnis dan baik untuk publik.”

Pada kesimpulannya, menurut Schmidt, apa yang akan diterapkan di Afrika dalam proposal program pasar bebasnya adalah bahwa setiap korporasi yang menanamkan saham dan membuka praktek bisnisnya di Afrika harus menjamin seluruh hidup pekerjanya, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Sepintas memang program tersebut akan sangat menguntungkan bagi para pekerjanya, di mana para pekerja akan mendapat layanan penuh atas kontrak yang mereka tandatangani dengan perusahaan. Apabila mereka sakit, mereka akan dapat layanan penuh pengobatan, bukannya malah mendapat surat pemecatan. Tetapi di sisi lain, itu artinya bahwa seluruh hidup sang pekerja, 24 jam sehari, 7 hari seminggu adalah mutlak milik sang korporat. Dan korporasi bebas menentukan berapa jumlah jam kerja, seberapa produktif seorang pekerja, termasuk bagaimana cara dan pola hidup sang pekerja, dengan kata lain, sang pekerja tak akan memiliki apapun lagi selain kepatuhan mutlak pada sang korporat.

Pada era perbudakan, seorang budak dibeli oleh seorang pemilik budak dan menjadi miliknya secara mutlak, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Apabila si budak sakit, itu menjadi urusan sang majikan untuk mengurusnya hingga ia kembali sehat dan dapat bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan pada sang budak. Sang majikan harus bertanggung jawab atas tempat tinggal, makanan dan pakaian sang budak. Sang majikan yang menjadi penentu penuh bagaimana cara dan pola hidup sang budak, sesuai dengan hasil kerja yang dibutuhkan oleh sang majikan. Apabila sang budak menolak atau memberontak, maka ia dapat dengan mudah dibunuh atau digantikan dengan budak lain yang lebih patuh, karena seluruh hidup sang budak ditentukan oleh sang majikan.

Kini apa beda antara proposal yang diajukan oleh Schmidt dengan pola hidup era perbudakan?

Di era perbudakan, sang budak tak memiliki pilihan. Karena biasanya, desa-desa asal tempat tinggal mereka diserbu para pemburu budak dan semua penduduknya yang dianggap masih produktif dipaksa untuk dijual menjadi budak. Apabila menolak, itu artinya mati. Di era modern ini, di mana berbagai daerah dimiskinkan dan mereka yang tak memiliki uang untuk membeli komoditi tak lagi memiliki kesempatan untuk hidup (sebagai akibat dari komodifikasi segala hal, termasuk hal-hal yang paling urgen untuk bertahan hidup seperti air dan pangan), maka seseorang tak akan diberi kesempatan dan hak untuk hidup kecuali ia memiliki uang untuk ditukarkan dengan komoditi tersebut. Dan bagi seseorang yang tak memiliki uang, maka ia harus mampu dan bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan uang untuk membeli hak-hak dasar hidupnya; ia harus mau bekerja dan menerima apa dan bagaimanapun juga kontrak yang diajukan oleh perusahaan tempat ia melamar kerja. Karena tidak bekerja artinya tidak memiliki uang, dan itu artinya mati. Satu-satunya beda antara proposal Schmidt dengan era perbudakan adalah bahwa kini sang budak atau katakanlah sang pekerja, memiliki pilihan, walau bersifat semu.

Di hadapan lebih dari 150 audiensnya, Schmidt memang mengakui bahwa program pelayanan tersebut dalam berbagai sisi mirip dengan program perbudakan, tetapi ia menerangkan bahwa sebagaimana “konservatisme berhati lembut” di negara-negara industri telah terbukti berhasil melicinkan relasi antar pekerja dan majikan yang kasar, maka “perbudakan berhati lembut” akan dapat menjadi anugerah serupa dalam tujuan yang sama. Schmidt memang benar, bahwa dalam kasus yang sering terjadi di banyak negara industri maju, pemberian hak berserikat dan berorganisasi bagi para pekerja dengan kemudian membeli para elit organisasi agar mau bekerja sama dengan para majikan, terbukti telah mampu meredam gejolak pemberontakan para pekerja yang muak dengan kondisi hidup mereka. Hal ini sangat kontras sekaligus lebih manjur dibandingkan upaya peredaman kebangkitan pekerja dengan cara menghajar aksi pemogokan dengan mengandalkan represifitas polisi dan militer, misalnya. Sebagaimana kolonialisme yang keras terbukti malah kontraproduktif karena justru menimbulkan tentangan dan pembangkangan yang semakin keras, kini cara yang lebih lembut diperkenalkan: kolonialisme melalui pasar.

Engkau ingin menyelamatkan seseorang, maka belilah ia. Maka ia akan menjadi milikmu sepenuhnya dan dapat diperlakukan sebagaimana yang engkau kehendaki. Apabila orang lain tak menyukai bagaimana caramu memperlakukan orang tersebut, maka ia harus membelinya darimu untuk dijadikan miliknya dan diperlakukan dengan cara yang ia anggap pantas. Dan pada akhirnya, seseorang tersebut hanyalah sebuah benda yang dapat diperjual belikan dan tak memiliki kontrol atas hidupnya sendiri.

Tapi sesuai dengan pendapat Schmidt bahwa “Inilah semua arti perdagangan bebas, yaitu tentang kebebasan untuk membeli dan menjual apapun—termasuk manusia.”

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010