Rabu, 10 November 2010

Anti-Neoliberalisme


Ilusi Personalitas dalam Budaya Massa“… beli… beli… beli… Konsumsi… konsumsi kami, sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!!!”—Homicide, Barisan Nisan PEMASSIFAN komodifikasi hidup harian telah sampai pada taraf di mana hampir segala hal hanya dijadikan tontonan belaka. Dari mulai selera makan, fesyen, hiburan, imaji kebahagiaan, sampai pada kesempurnaan hidup telah ditentukan oleh semacam kreator budaya yang bersifat satu arah. Tak mengherankan bila sebuah potensi pembebasan yang pada awalnya dihidupi secara langsung kemudian hanya menjadi sekedar representasi atasnya. Dalam industri yang menuntut percepatan proses produksi dan konsumsi untuk akumulasi modal, kapitalisme mengklaim memberikan banyak pilihan bagi para konsumennya. Hubungan dagang yang terjadi diimajikan berjalan secara demokratis. Apa yang diproduksi dan dipasarkan oleh mereka seolah merupakan kebutuhan yang memang hakiki bagi para konsumennya. Padahal tentu saja ketimpangan pola akses terhadap produksi dan konsumsi, juga kepemilikan alat produksi, masih jelas terlihat. Selain itu, pengkomandoan yang mereka lakukan lewat iklan misalnya, telah merubah kebutuhan menjadi sedemikian kompleks bagi para konsumennya. Logika nilai guna atas suatu barang atau jasa telah tergusur menjadi logika mencari nilai lebih dari nilai tukar. Tak hanya dari proses produksi, tapi juga proses konsumsi. Hal lain yang tak bisa disangkal dari komodifikasi hidup adalah harus patuhnya hampir semua hal terhadap komando dari hukum komoditi kapitalisme. Segala sesuatu harus dibuat menguntungkan (bagi kreator produksi dan komoditi), tak peduli apapun efeknya. Segala yang dipasarkan boleh berwarna dan berbeda-beda, tapi mekanisme kekuasaan yang terjadi—tidak boleh tidak—harus serupa sehingga penentuan bentuk, gaya dan makna telah terlebih dahulu ditentukan oleh sang kreator. Demokrasi yang diusung kapitalisme tentu hanyalah sebuah mitos yang direproduksi terus-menerus. Theodor Adorno, seorang tokoh penting dalam diskursus kebudayaan, mengemukakan:… setiap orang harus bertingkah laku…sesuai dengan kondisi yang sebelumnya direncanakan dan ditentukan baginya, dan memilih kategori produk massa yang dibuat khusus sesuai dengan tipologi mereka. Para konsumer muncul sebagai statistik pada tabel-tabel organisasi riset, dan mereka dikelompok-kelompokkan berdasarkan pendapatan ke dalam daerah merah, hijau, dan biru.
[1]Ilusi Personalitas dan Kekuasaan dari Atas Maraknya ungkapan Be Yourself, yang diproduksi (sekaligus direproduksi) oleh berbagai merek dagang, membuat makna dari ungkapan ini menguap dan terjebak pada pengulangan-pengulangan serupa tanpa pengendapan. Setiap orang merasa merepresentasikan dirinya sendiri, setiap orang yang memakai ungkapan ini pada kaosnya—atau tasnya, atau pada media apapun—merasa otentik dan unik di antara masyarakat yang semakin berjalan ke arah yang kurang-lebih serupa. Orang-orang dicekoki ilusi bahwa mereka telah menjadi dirinya sendiri hanya dengan mengkonsumsi suatu produk. Orang-orang diiming-imingi kekuasaan dan kebebasan untuk memilih kategori produk, gaya dan gaya hidup lewat mitos “konsumen adalah raja”. Tapi, yang sebenarnya didapat dari proses konsumsi tak lebih hanyalah kebebasan dalam keterbatasan pilihan. Kekuasaan dalam kenihilan kuasa atas diri sendiri. Bukan hanya karena pilihan yang digulirkan telah dirancang dari atas, tapi terhadap makna-makna pun konsumen hanya menjadikannya sebagai bayangan diri, bukan diri itu sendiri. Konsumen boleh saja merasa menjadi dirinya sendiri dengan media yang terbubuhi ungkapan “Jadilah dirimu sendiri”, tapi ia tak pernah mampu untuk barang sedikit mendesain sendiri bentuk tulisannya, misalnya. Konsumen bisa saja merasa “MTV gue banget”, tapi ia tak mampu merancang apa yang benar-benar dirinya—ia hanya mampu menikmati; menikmati representasi atas dirinya sendiri. Tentu saja kapitalisme tak akan membiarkan setiap orang untuk bebas menjadi dirinya sendiri. Setiap orang dibolehkan menjadi dirinya sendiri hanya dalam batas yang telah ditentukan oleh sang kreator. Setelah aspek yang lebih luas dikuasai, kini waktunya bagi kekuasaan kapitalisme untuk menjamah wilayah yang lebih detil: personal. Setiap person, saat ini, adalah target eksploitasi bagi akumulasi modal dan perluasan lahan produksi sedemikian rupa sehingga pola produksi kapitalisme tetap berada di jalurnya dan tidak kolaps. Kemampuan kekuasaan kapitalisme untuk menerobos ruang personal dibarengi dengan penaklukan mereka atas realitas sosial, sehingga semakin banyak seseorang mengidentikkan diri dengan budaya dominan, semakin sedikit ia mengerti kehidupan dan hasratnya sendiri. Ketertundukan personal atas realitas ini membuat masing-masing person tercerabut dari akar kenyataannya, yang juga berarti tercerabut dari realitas sosial sekaligus membawa personal-masyarakat ke dalam dunia pasifitas yang dihidupi dengan logika pasar dan keterpisahan. Dengan demikian, semakin dekat mereka dengan dunia identitas ciptaan mereka, semakin mereka terasing dari kehidupannya yang sesungguhnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010