Rabu, 10 November 2010

ANARKISME DAN PERLAWANANNYA TERHADAP NEO-LIBERALISME


A. Tentang Neo Liberalisme Sistem ekonomi neo liberalisme yang tengah becokol di Indonesia dan di berbagai Negara di dunia ternyata memunculkan hal mengerikan yang selalu ditutupi oleh selubung kemajuan palsu di berbagai bidang kehidupan. Neo-liberalisme melewati sejarah yang panjang sebelum sampai pada kemajuannya hari ini. Diawali dari kekalahan liberalisme, di mana kaum liberal menganggap bahwa pada awalnya, kapitalisme dianggap membawa kemajuan pesat bagi kesejahteraan masyarakat. Bagi mereka, masyarakat pra-kapitalis adalah masyarakat feodal yang penduduknya ditindas. Liberalisme dimaknai sebagai sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas mengambil keuntungan apapun, termasuk dalam kebebasan untuk ‘hancur’, bebas hidup tanpa tempat tinggal, bebas hidup tanpa pekerjaan.
[i] Walaupun sebenarnya,liberalisme awal sudah mengusung ekonomi pasar, di mana kebebasan itupun diatur oleh uang. Hal ini juga menggiring pada sebuah pemahaman bahwa segala intervensi dari pemerintah terhadap kehidupan individu adalah tidak relevan. Kemudian, karena pemaknaan tentang liberalisme yang seolah tanpa batasan jelas, semangat kebebasan yang diusung liberalisme menjadi bermakna berbeda, yang berarti : kebebasan akan adanya sejumlah orang yang akan menang dan sejumlah orang yang akan kalah. Kemenangan dan kekalahan ini terjadi karena persaingan. Sementara itu, wacana Negara kesejahteraan yang diusung John Maynard Keynes (seorang ekonom) juga menjadi wacana yang sedang diperbincangkan pada waktu itu. Semenjak terjadi depresi hebat pasca perang dunia II, Negara-negara industri maju mulai condong pada konsepsi Negara kesejahteraan. Di mana dalam konsepsi tersebut, peranan negara dalam bidang ekonomi tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal, khususnya untuk menggerakkan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja.
[ii] Nah inilah yang disebut sebagai momen kekalahan liberalisme, kekalahan individualisme, karena campur tangan Negara yang semakin besar pada individu. Namun kondisi berubah ketika terjadi krisis minyak dunia tahun 1973 dikarenakan perang Israel yang didukung Amerika untuk menginvasi negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah. Terjadilah embargo terhadap Amerika dan kenaikan harga minyak dunia. Hal ini membawa dampak yang sangat besar terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya yang mengalami kesulitan ekonomi dikarenakan masih adanya beban pemerintah terhadap penyediaan fasilitas layanan publik (ciri negara kesejahteraan). Momen ini menandai kebangkitan neo liberalisme, yang hakekatnya memakai logika kebebasan liberalisme awal, namun dalam bentuk yang sangat berbeda, barbar. Semangat awal liberalisme akan sebuah intervensi minimum dari pemerintah, juga kemudian menjadi karakteristik dari neo liberalisme, yang menuntut intervensi pemerintah terhadap usaha individu dalam level yang paling minimum. Alasan akan kebebasan dijadikan pembenaran atas proyek neo liberalisme yang ingin mengembalikan kepercayaan pada kekuatan pasar. Pemerintah kemudian tidak lagi mengatur segala urusan yang berhubungan dengan sektor ekonomi. Dalam usaha mengembalikan kepercayaan pada pasar, privatisasi adalah jalan mulus untuk melancarkan kompetisi maksimal antar pengusaha. Dan segala bentuk nasionalisasi aset Negara akan dihapuskan karena menghambat langkah pengusaha. Dalam sistem ekonomi seperti ini, segala kompetisi akan memunculkan komoditas-komoditas yang dikompetisikan. Segala hal yang bisa dijadikan komoditas, akan dijadikan komoditas. Dari sinilah kita menemukan keterkaitan antara sistem ekonomi neo liberalisme dengan privatisasi aset Negara yang menghidupi hajat hidup orang banyak, sepeti air, minyak dll—yang juga banyak terjadi di Indonesia. Dan dari sini pulalah, kita harus paham bahwa privatisasi (atau swastanisasi) merupakan sebuah perampasan (pengkomoditasan) atas hak-hak kita. Dalam sistem ekonomi neo liberalisme pula kita akan menemukan badan-badan ekonomi internasional (seperti IMF, WTO, World Bank) yang memegang peran penting dalam penyebaran neo liberalisme di seluruh dunia. Di Negara-negara berkembang, seperti di Indonesia, yang sering memiliki masalah disektor ekonomi (krisis moneter dll), badan-badan ini akan menyodorkan agenda neoliberalisme di balik topeng “bantuan ekonomi”. Di setiap Negara yang diberi pinjaman oleh badan-badan ini akan disodorkan sebuah prasyarat, yang disebut Konsensus Washington. Agenda pokok paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut dalam garis besarnya meliputi :
1. pelaksanan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam berbagai bentuknya
2. pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan
3. pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan
4. pelaksanaan privatisasi BUMN.
Karena itulah, tidak heran kalau pasca krisis moneter 1997 di Indonesia, pemerintah mulai menghapus subsidi bagi rakyat, banyak terdapat privatisasi BUMN dan massifnya korporasi-korporasi multinational mulai berdatangan ke Indonesia. Semua itu bukanlah sebuah kemajuan bidang ekonomi, namun semua itu adalah bentuk penghisapan atas sumber daya alam dan manusia di Indonesia demi kepentingan korporasi global.

B. Oposan neo liberalisme dan prakteknya Seberapa tahu kamu atas apa yang kamu pecayai?? (Sebuah pembacaan sejarah yang tak tuntas) Berbicara tentang oposan dari sistem ekonomi neo liberalisme dan Negara sebagai satelitnya, kita akan menemukan banyak varian dari gerakan anti neo liberalisme. Salah satu yang paling massif adalah gerakan berbasis marxis-leninis. Gerakan berbasis marxis-leninis lebih merujuk pada praktek Lenin di Rusia 1917 dalam pembentukan pemerintahan diktator proletariat pertama di dunia. Mereka (para marxis leninis), karena mengacu pada praktek tersebut, menilai bahwa segala dampak dari neo-liberalisme seperti privatisasi, invasi modal asing dll harus diatasi dengan pembentukan Negara komunis. Di mana dalam negara tersebut akan diterapkan bentuk kapitalisme negara. Segala aset Negara akan dinasionalisasikan dan diurus oleh Negara. Teori ini pulalah yang memandu praktek mereka selama ini dan membangun pemahaman tersendiri dalam melihat fungsi negara. Namun kita tentu perlu memiliki pemahaman sejarah yang komprehensif sebelum kita mempercayai dan menjadikan satu momen sejarah sebagai referensi praktek. Dalam hal ini, kita akan juga berbicara tentang oposan lain dari neo liberalisme, yaitu gerakan anarkis. Gerakan anarkis memiliki gagasan yang berbeda dari gerakan berbasis marxis-leninis, terutama dalam memandang fungsi negara. Dalam sejarah penciptaan pemerintahan dictator proletariat di Rusia, gerakan anarkis mengambil peran besar. Kalau orang-orang marxis-leninis menganggap gerakan anarkis (yang terepresentasi dari pemberontakan Kronstadt) pada waktu itu harus ditumbangakn karena kontra revolusioner, sekarang mari kita kaji apa sebenarnya yang terjadi di Rusia pada waktu itu. Pasca kemenangan kelas pekerja, Oktober 1917, Bolzhevik menemukan momen kepemimpinannya. Segera setelah berkuasa, Bolshevik mulai memberlakukan hegemoni politik yang melawan kesadaran kelas pekerja: membubarkan komite-komite pabrik, soviet-soviet yang independent dan berbasiskan di tataran akar rumput saat mereka menolak dipimpin oleh partai Bolshevik. Pendelegasian kekuasaan terhadap sebuah partai, pengeliminasian komite-komite pabrik, pengalihan gradual kekuasaan soviet kepada apparatus Negara, pembubaran milisi-milisi otonom pekerja, tumbuhnya pendekatan militeristik atas berbagai masalah sebagai sebuah hasil dari ketegangan-ketegangan selama periode perang sipil, pembentukan komisi-komisi birokratis, semuanya adalah manifestasi paling signifikan dalam proses kemerosotan revolusi di Rusia.
[i] Dengan alasan bahwa situasi pada waktu itu sangat urgent dan membutuhkan satu kesatuan gerak yang dipimpin oleh partai, biasanya orang-orang marxis leninis akan berkata bahwa tindakan-tindakan itu wajar dilakukan. Namun, melalui Kebijakan Ekonomi Baru yang ditetapkan partai Boslshevik, membawa dampak pada menguatnya birokrasi dan pada melemahnya organ-organ otonom yang merepresentasikan kediktatoran proletariat. Bahkan tentara merah (dari partai Bolshevik) mulai mengawasi kerja-kerja di pabrik, di mana kondisi ini tidak jauh beda dengan kondisi sebelum Revolusi. Akses pangan yang susah juga sempat membawa para pekerja pada kelaparan, karena kebutuhan pokok diurus oleh negara, maka tidak diperbolehkan ada pertukaran pribadi. Begitupun dengan hasil panen yang dirampas negara, membuat petani tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena situasi seperti inilah, para pekerja yang telah bersolidaritas dengan petani berpikir bahwa kediktatoran proletariat bukan lagi milik mereka, tapi adalah milik partai Bolshevik, ketika mereka bekerja harus diawasi oleh Cheka (komisi khusus yang syarat akan tindak kekerasan dalam melawan segala yang dianggap kontra revolusi), dan hasil kerja mereka diambil, soviet-soviet otonom mereka tak lagi berhak menentukan sendiri geraknya dll. Para pekerja dan petani yang hidup di kota kecil Kronstadt (selain itu juga di Petrograd, Moskow, Ukraina, dll) menyatukan kekuatan mereka untuk melakukan pemogokan kerja dan sebagainya, sebagai bentuk protes atas perlakukan rezim pada mereka. Jajaran pemerintahan partai kemudian segera melabeli Pemberontakan Kronstradt tersebut sebagai sebuah gerakan kontra revolusioner. Mulai diberlakukan jam malam, melarang pertemuan-pertemuan petani dan pekerja. Insurgen-insurgen Kronstadt kemudian membuat maklumat yang isinya antara lain:
kebebasan berpendapat dan press bagi para pekerja, para anarkis dan partai-partai sosialis kiri kebebasan beserikat bagi serikat-serikat pekerja dan asosiasi petani untuk menyetarakan semua ransum-ransum bagi mereka yang bekerja, dengan pengecualian bagi mereka yang melakukan kerja yang membahayakan kesehatan untuk memberikan control penuh bagi para petani atas tanah mereka sendiri, untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan, dan juga untuk memiliki peternakan, yang mana harus diurus dan diatur oleh mereka sendiri, tanpa mempekerjakan pekerja sewaan dan lain-lain (ada 15 poin keseluruhan dari maklumat ini) Apa yang dilakukan oleh partai Bolshevik dalam mengklaim pemberontakan Kronstadt sebagai kontra revolusi, adalah semata-mata karena pemberontakan Kronstadt mengancam eksistensi kekusaan partai. Sehingga partai membuat tuduhan untuk mengkambing hitamkan Kronstadt, dianggap sebagai pemberontakan yang disetir oleh tentara Putih (Tzar). Padahal jelas bahwa kepentingan tentara Putih dan kepentingan pemberontak-pemberontak Kronstadt sungguh jauh berbeda. Apabila memang pemberontakan Kronstadt disetir oleh Tzar, tentu akan ada tuntutan dalam maklumatnya yang menuntut pembubaran partai Bolshevik sebagai lawan politik Tzar. Namun para insurgen Kronstadt adalah mereka yang hanya ingin mendapatkan kembali hak mereka atas dewan-dewan otonom dan ingin mendapatkan kembali kekuasaan proletariat di tangan para pekerja sendiri, melalui soviet-soviet otonom, sebuah komune swakelola. Berbicara analisis kelas, memang tidak menutup kemungkinan kesadaran kelas pada waktu itu mengalami pergeseran akibat perang berkepanjangan, yang mempengaruhi karakter kelas Kronstadt. Namun kesadaran proletariat tidak bisa disalahkan, ketika partai (dalam hal ini adalah teoritisi-teoritisi revolusi) menyebut sebuah tindakan proletariat sebagai kontra-revolusi, hanya karena bertentangan dengan program revolusi ala Lenin, maka kemudian layak dipertanyakan, apakah proyek revolusi berada ditangan partai Bolshevik atau revolusi itu ada ditangan (dan ditentukan oleh) para proletariat itu sendiri? Ini bukan sekedar moralitas tentang seberapa banyak korban yang dibunuh oleh Bolshevik, walaupun hal itu juga tidak bisa diabaikan. Namun lebih jauh lagi, kondisi objektif yang terjadi adalah bahwa kelas pekerja pada waktu itu hanya menuntut apa yang memang mereka perjuangkan, mereka tidak menuntut untuk memiliki kenyamanan lebih daripada yang lain, seperti karakteristik borjuis-kecil. Kita juga bisa menilai konsistensi kelas pekerja dalam mempertahankan kediktatoran proletariat dalam dukungan-dukungan yang penuh diberikan oleh pekerja-pekerja di Petrograd kepada insurgen Kronstadt. Pemberontakan Kronstadt hanyalah bentuk respon dari kelas pekerja yang merasa dikhianati, apabila mereka tidak dikhianati dan mereka mendapatkan apa yang memang seharusnya mereka dapatkan, maka takkan ada pemberontakan Kronstadt. Dan apa yang diserukan oleh partai sebagai sebuah titah bagi massa proletariat, telah memberikan perbedaan yang gamblang tentang apa yang disebut “kediktatoran proletariat” dan “partai kelas proletariat”. Pemberontakan Kronstadt mencontohkan kepada kita bagaimana hebatnya tirani kekuasaan akan menghancurkan otonomi kelas pekerja. Sesungguhnya, sebuah kediktatoran proletariat adalah sebuah kondisi di mana kelas pekerja memegang otonomi penuh atas soviet-soviet mereka dalam bentuk swa kelola, bukannya sebuah kondisi dimana ada sebuah otoritas tunggal yang menentukan segala kebijakan. Lalu apabila ada pihak yang ingin mereduksi otonomi kelas pekerja menjadi sekedar bentuk kepatuhan pada partai, dalam hal ini Bolshevik, bukankah justru mereka adalah para agen-agen kontra revolusioner?? Pemerintahan Bolshevik di Rusia hanyalah sebuah bentuk lain dari kapitalisme. Dan inilah bentuk kapitalisme negara yang dibanggakan para marxis-leninis. Mungkin mereka akan menjawab bahwa, praktek Lenin dan partai Bolshevik nya tidak lepas dari kritik dan evaluasi. Namun ternyata kritik itu tak pernah melampaui sebuah kritik mendasar atas tirani kekuasaan dalam negara. Dalam prakteknya, para marxis-leninis masih akan berorientasi untuk mengulangi kegagalan pendahulunya, menciptakan sebuah negara Komunis satu partai, menciptakan kapitalisme negara di dalamnya. Sungguh sebuah ironi, Negara Komunis sendiri adalah sebuah frase yang kedua kata penyusunnya saling bertolak belakang, dalam tatanan Komunis sudah tak ada lagi negara. Dan ketika kita bermain-main dengan negara, menjadikan dia sebagai alat menuju masyarakat tanpa kelas, maka justru kelas pekerja yang akan diperalat oleh negara yang tetap akan dikelola oleh segelintir birokrat. Dalam tema perlawanannya terhadap neo liberalisme, terhadap kapitalisme, sungguh para marxis leninis tak pernah berpikir bahwa kapitalisme negara adalah bentuk lain dari kapitalisme, dengan tetap memiliki karakteristik penghisapan dan dominasi. Sehingga segala praktek yang terorientasi pada pembentukannya (kapitalisme negara) adalah praktek yang berlandaskan pada pembacaan sejarah yang tak tuntas. Pembacaan kondisi kontemporer Para insurgen Kronstadt, bisa dibilang memiliki kecenderungan anarkis, karena menolak dominasi kekuasaan dan sentralisme satu partai. Seperti disebutkan di atas bahwa varian lain dari oposisi neo liberalisme adalah gerakan anarkis, dan karakteristik yang membedakannya dengan marxis leninis adalah dalam hal memandang fungsi negara. Kebanyakan anarkis tidak menyepakati pemikiran marxis-leninis, tentang pengambil alihan kekuasaan negara untuk digantikan dengan kekuasaan partai komunis. Hal ini didasari oleh pandangan dasar anarkis dalam memandang sebuah tirani kekuasaan tersentralisir (dalam hal ini negara) yang tentu tidak akan mampu memerdekakan kelas pekerja. Negara adalah alat kelas. Dan kelas yang berkuasa, meskipun merepresentasikan kelas pekerja, memiliki tendensi yang sama untuk mendominasi kekuasaan. Otoritas kelas pekerja hanya akan muncul dalam bentuk desentralisasi kekuasaan melalui dewan-dewan rakyat yang otonom, yang dijalankan dengan prinsip swa-kelola. Dan untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas, bibit-bibit penciptaannya harus dimulai dari hari ini. Berangkat dari pandangan kaum anarkis ini, maka kita akan menemukan bentuk praktek yang berbeda dalam perlawanannya terhadap neo liberalisme. Bukan terorientasi untuk menciptakan negara komunis, seperti kaum marxis-leninis, namun untuk menciptakan kondisi di mana orang-orang mampu menerapkan kehidupan kolektif dalam kehidupan mereka, untuk menciptakan bibit masyarakat komunis mulai hari ini, dan bukan besok menunggu setelah revolusi. Dalam praktek anarkis selama ini, kebanyakan dari mereka mencoba untuk membangun infrastruktur kolektif yang matang, untuk kemudian mematangkan juga jaringan-jaringan yang lebih luas (nasional dan internasional), agar komunikasi antar sesamanya tidak terputus. Praktek anarkis semacam ini adalah bentuk desentralisasi yang mencoba mendobrak mitos bahwa sebuah organisasi revolusioner takkan mampu melakukan tindakan-tindakannya yang signifikan dan terorganisir tanpa adanya pimpinan organisasi terpusat. Bicara tentang kesatuan gerak seperti yang para marxis-leninis banyak gunjingkan, jaringan anarkis ini memiliki kesatuan gerak dan justru lebih fleksibel dalam pengaturan rumah tangga masing-masing kolektif dalam jaringan. Kesatuan gerak bukanlah tentang satu instruksi pasti yang harus diikuti oleh organ-organ bawahan sebuah organisasi, tapi kesatuan gerak adalah sebuah pemahaman dan penyikapan yang sadar tentang sesuatu hal oleh kolektif-kolektif dalam jaringan, dan berangkat dari analisis yang berkembang di kolektif-koletif anarkis tersebut (perlu diingat bahwa prinsip-prinsip anarkis adalah fleksibel dan tidak dogmatis). Fleksibilitas disini bukan dimaknai sebagai sesuatu hal yang tanpa kontrol, tak terarah dlsb, namun fleksibel di sini berarti bahwa anarkis juga melihat bahwa ke-khususan di setiap kolektif yang dibentuk di lokalitas tertentu memiliki perbedaan yang tidak bisa digeneralisir secara sederhana. Seperti para marxis-leninis kebanyakan berkata bahwa tentu ada satu keumuman yang harus disepakati oleh semua organ bawahan. Para anarkis memahami itu, namun seringkali bentuk kesepakatan yang muncul bukanlah kesepakatan untuk sekedar berkata “ya” pada instruksi pimpinan pusat, namun kesepakatan yang lahir di tingkat paling kecil kolektif, yang diinisiasikan oleh orang-orang yang terlibat di kolektif terkecil tersebut (memandang kekhususan-kekhususan sebagai sesuatu yang sangat dipertimbangkan). Anarkis menolak hirarki dalam tatanan masyarakat, karenanya dalam penataan jaringannya, ia pun tak ingin menciptakan hirarki. Ketika dikatakan bahwa birokrasi dalam struktur organisasi terpusat adalah untuk memudahkan kerja-kerja, lantas bagaimana jika justru birokrasi-birokrasi itu menciptakan birokrat-birokrat kecil yang terspesialisasikan pada kerja-kerja ekslusif tertentu? Dalam organisasi anarkis, tidak akan ada sentralisme demokrasi, seperti banyak organ marxis-leninis terapkan. Tentu saja “sentralisme demokrasi” sendiri adalah juga sebuah frase yang menyandingkan dua hal yang bertolak belakang, dalam demokrasi takkan ada sentralisme, begitu pula sebaliknya. Jaringan-jaringan anarkis menghargai perbedaan antara kolektif-kolektif anarkis di dalamnya, tentu saja pebedaan-perbedaan itu bukanlah perbedaan yang prinsipiil. Dalam hal-hal yang sebenarnya tak perlu diatur dan dipersulit, maka tak perlu dibuat aturan rumit tentang hal itu. Misalkan tentang standart iuran kolektif, tentang efisiensi dan efektifitas pertemuan kolektif dll. Penghargaan terhadap perbedaan ini adalah sebuah relevansi dari pemikiran anarkis yang menolak homogenisasi dalam segala hal, seperti impian para marxis-leninis yang memimpikan manusia-manusia homogen, berpemikiran sama, berpartai sama, berideologi sama, menulis dengan standart yang sama, seni yang diberi batasan seni revolusioner dan tidak revolusioner dll. Dalam membangun basis perlawanan, anarkis tidak berangkat dari analisis kelas kaku ala marxis-leninis. Bahwa sistem neo-liberalisme ini juga menciptakan kompleksitas masyarakat yang tidak bisa dijabarkan hanya melalui analisis kelas yang sederhana. Bicara potensi perlawanan, setiap orang memiliki potensi pelawanan, dan bicara tentang potensi perlawanan yang paling besar, hari ini tidak bisa dinilai hanya dari kontradiksi ekonomi yang paling besar saja. Di mana kontradiksi ekonomi juga telah semakin komplek. Ide menarik yang diajukan oleh Marxis Otonomis (memiliki kecenderungan anarkis) adalah bahwa sistem kapitalisme hari ini telah men-subordinasi seluruh kehidupan pada kerja. “Pabrik” di mana kelas pekerja bekerja adalah dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan, sebuah “pabrik sosial”. Sehingga kelas pekerja harus dimakani ulang, dengan juga menyertakan mereka yang bukan merupakan pekerja pabrik.
[i] Contohnya adalah pada sebagian besar kita yang diharuskan untuk bekerja rutin, kita akan menemui sebagian besar dari hidup kita (selain tidur) didominasi oleh kewajiban untuk bekerja secara langsung pada kapital. Dan juga waktu luang (di luar waktu kerja) digunakan untuk mempersiapkan kita untuk bekerja lagi. Ibu rumah tangga (yang tidak digolongkan sebagai kelas pekerja) juga sebenarnya mencurahkan sebagian besar tenaganya untuk kerja-kerja rumah tangga, yang bukan hanya membentuk dan memproduksi kehidupan domestik, tapi juga melibatkan kerja untuk merawat dan membesarkan anak yang kemudian akan menjadi pekerja, menyediakan jasa pelayanan seksual untuk suami yang juga merupakan sebuah penyegaran untuk kembali bekerja esok.
[ii] Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan pelajar dan mahasiswa juga dapat dikategorikan ke dalam proletariat semenjak tujuan utama mereka belajar di sekolah adalah demi mempersiapkan calon-calon pekerja masa depan yang berperan penting dalam proses produksi.
[iii]. Jadi kelas pekerja yang dianggap sebagai kelas pembawa perubahan bukan lagi didefinisikan sebagai buruh-buruh industri (buruh kerah biru), namun juga mereka yang kehidupannya tereduksi pada kerja dan tersubordinasi pada kapital. Para marxis-leninis berkata bahwa buruh-buruh industri lebih memiliki hubungan erat dengan ekonomi maju, memiliki solidaritas yang besar, memiliki militansi yang tinggi, karena itulah maka buruh (industri) diangkat menjadi soko guru perubahan. Namun bagaimana kita melihat pekerja-pekerja kerah putih, pekerja jasa dll yang sangat militan yang turun ke jalan. Mulai dari karyawan Bank Danamon (28 September 2005), yang sebagian besar berasal dari level kepala cabang dan wakilnya, menggelar menolak PHK yang dilakukan pihak Danamon. (Tempo Interaktif, 28 Sept 2005), atau karyawan PT. Telkom yang yang mengkhawatirkan nasib mereka kalau terjadi jual beli asset PT. Telkom Divre IV Jateng-DIY pada PT. Indosat. (Bernas), atau juga karyawan PT. Pertamina yang menolak PHK sepihak dari PT. Pertamina. (Ecoline Situmorang, SH., Janses E. Sihaloho, SH, 3 April 2006). Begitu pula yang terjadi pada karyawan PT. Garuda Indonesia, “At PT GI, as the result of dispute between management and workers, the management finally laid off 233 of their workers.” (Indonesian Labour Update, January 2004). Ada juga berita dari karyawan PT. Chevron Texaco “Mass laid off also threat employees of PT Chevron Texaco. This oil company had considered reducing 30% of its employees by the end of 2003”. (Indonesian Labour Update, January 2004). Masih ada contoh lain seperti protes karyawan PT. Dirgantara Indonesia, “……the company kept going with its plan to lay off 6.000 of 12.000 workers, and to sell some of the stock to foreign investor.” (Indonesian Labour Update, January 2004). Para karyawan PT Dirgantara Indonesia tergabung dalam Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan (SP-FKK) PT DI, juga berangkat ke Jakarta untuk menagih janji pemerintah dalam menyelesaikan seluruh pembayaran hak PHK dan pensiunan mantan karyawan sesuai dengan kesepakatan, serta mendesak pemerintah agar segera mencairkan dana pensiun eks karyawan PT DI tahap pertama sebesar Rp 40 miliar. (IMC Jakarta, 25 Desember 2006). Dan masih banyak rentetan aksi yang diinisiasikan oleh buruh-buruh kerah putih. Dan bagaimana dengan solidaritas buruh sendiri hari ini? Apa benar masih besar di mana sekarang terdapat fenomena baru seperti outsoucing tenaga kerja yang bisa mematahkan solidaritas antar buruh?
[iv] Di sini kita bisa melihat bagaimana evolusi sistem manajemen dan produksi kapitalis merupakan adaptasi-adaptasi untuk mengimbangi resistensi kelas pekerja. Dan karena kapitalisme juga terus berdialektika, maka analisis-analisis masyarakat dan metode perlawanan terhadap kapitalisme juga tidak bisa memakai analisis dan metode lama. Alienasi kerja, seperti Marx juga pernah berkata mengenainya, bisa terjadi pada mereka yang tak memiliki kuasa penuh atas hidupnya. Hidupnya bergantung pada orang lain. Dalam hal ini tidak hanya para buruh kerah biru saja yang mengalami alienasi atas kerja-kerja mereka, namun juga para buruh kerah putih, petani, mahasiswa, ibu rumah tangga, penganggur, dll. Buruh kerah biru tidak bisa dianggap paling teralienasi oleh kerjanya, karena buruh kerah putih juga mengalami hal yang sama. Seringkali mereka (buruh kerah putih) mengalami tekanan psikologis yang bisa lebih hebat dibandingkan buruh kerah biru. Karena mereka termasuk pekerja yang lebih mengandalkan otak, mereka terbebani dengan, misalnya, deadline laporan, pembuatan proposal, pengarsipan, dll. Hal ini membuat para buruh kerah putih juga beresiko tinggi terhadap stres. Tugas yang semakin menumpuk, membebani pikiran, tidak memiliki waktu untuk sekedar jalan-jalan sore karena menyelesaikan tugasnya— membuat mereka tidak lagi bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya, relasi dengan keluarganya terbengkalai dll. Bukannya tidak mungkin, mereka akan menuntut pengurangan jam kerja dibandingkan kenaikan upah. Memang benar bahwa, upah yang mereka dapatkan lebih banyak bila dibandingkan buruh kerah biru, namun hal ini bukan berarti mereka akan nyaman dengan kondisi kerjanya. Pada suatu titik tertentu, bisa saja mereka berpikir bahwa upah yang mereka dapatkan tak setimpal dengan kerja yang mereka lakukan, sebuah kerja yang beresiko tinggi pada hilangnya kebahagiaan diri dan keluarga, kebebasan bergerak, beresiko pada kebosanan yang hebat. Hal ini menandakan bahwa, teori lama yang berkata bahwa buruh kerah birulah yang paling militan— sudah usang. Buruh industri dikatakan memiliki kesadaran tinggi dalam beroganisasi, memiliki pandangan yang jauh, disiplin, revolusioner, tidak mementingkan diri sendiri, kolektif, lebih tegas dan konsekuen dalam sikapnya.
[v] Teori yang terlalu men-generalisir ini masih saja menjadi landasan berpikir kaum Marxis-Leninis dalam memandang potensi kaum buruh industri. Namun, hari ini karakteristik itu tidak hanya dimiliki kaum buruh industri saja. Petani, juga memiliki potensi resistensi yang tidak bisa dinomor duakan. Bicara soal keterlibatan dalam proses produksi (yang juga dilakukan oleh buruh), para kaum tani, baik itu tani menengah, kecil, dan buruh tani juga terlibat dalam proses produksi, komoditi agraria. Kontradiksi petani dengan kapital juga secara langsung dapat diamati, mulai mahalnya pupuk, distribusi tanah yang tak pernah merata, harga jual hasil panen yang murah dll. Solidaritas tinggi bukan sesuatu yang hanya akan terbangun dari mode produksi pabrik, yang mengharuskan buruh untuk dapat menyelesaikan satu item produk harus bekerjasama dengan spesialis-spesialis kerja yang lain. Lagipula, buruh-buruh yang mulai dibedakan dengan perbedaan seragam saja, telah mampu membuat buruh-buruh merasa bahwa mereka berbeda dengan yang lain. Di Indonesia, jumlah petani yang jauh lebih besar daripada jumlah buruh, tentu membawa konsekuensi bagi kita untuk memandang kuantitas ini sebagai satu sumber kekuatan. Kaum miskin kota, gelandangan, penganggur, juga memiliki kontradiksi yang besar secara langsung dengan sistem ekonomi neo-liberal. Mereka adalah orang yang paling merasa tersisih dari sistem ekonomi ini. Mereka mungkin berpikir bahwa buruh-buruh pabrik itu tentu lebih beruntung daripada mereka yang tak bekerja, susah makan dll. Dalam otak mereka akan sangat mungkin untuk berpikir tentang pengambil alihan pabrik-pabrik, dalam rangka merebut akses ekonomi. Bagi anarkis, analisis kelas yang kaku justru akan mempersempit potensi-potensi perlawanan yang bisa tumbuh pada siapa saja, di mana saja. Yang menjadi cita-cita para anarkis adalah untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas, tanpa menjadikan negara sebagai alat untuk menujunya. Hal ini dirintis dengan pengorganisiran berbagai sektor untuk menciptakan kekuatan-kekuatan yang otonom dan revolusioner. Seperti praktek Zapatista yang menginspirasi para anarkis untuk berpikir bahwa portensi perlawanan yang besar mungkin terjadi bahkan pada masyarakat adat sekalipun. Praktek Zapatista membangun kekuatan bersenjatanya, menggalang solidaritas internasional, melakukan kampanye-kampanye yang menyerukan perlawanan global untuk melawan kekuatan kapital. Zapatista adalah sebuah referensi praktek bahwa kekuatan otonom yang revolusioner sangat mungkin tercipta dan bertahan sampai hari ini. Tanpa melalui pengambilalihan kekuasaan negara, tanpa menciptakan negara komunis, Zapatista telah mampu mempertahankan eksistensinya meski tumbuh di dalam negara yang masih eksis di mana kekuatan borjuis masih sangat besar. Kebanyakan dari diskusi-diskusi yang ditemui (oleh penulis), para marxis leninis mencurigai bahwa anarkis tidak lagi mempercayai prinsip Materislisme-Dialektika ala Marx, atau tidak lagi sepakat dengan kajian Ekonomi Politik Marxis. Namun sungguh dalam kenyataannya ternyata yang tidak pernah paham soal Materialisme dan Dialektika adalah mereka sendiri yang melabeli diri sebagai para marxis-leninis. Mengenai Dialektika, masyarakat hari ini dan sistem yang mengaturnyapun mengalami dialektika, bukan lagi yang harus digaung-gaungkan adalah tentang teori-teori baku yang tak pernah di-dialektika-kan oleh orang-orangnya sendiri. Bahkan dengan bangganya mereka melabeli diri sebagai seorang marxis-leninis, padahal mereka lebih condong pada praktek Lenin daripada memperdalam pemahaman tentang pemikiran Marx yang tidak sesederhana itu. Dan pilihan gerakan anarkis adalah untuk mendobrak semua dogma-dogma ortodok itu. Untuk membuat sebuah gerakan revolusioner yang memungkinkan orang-orang menjadi lebih bebas dalam menentukan hidup mereka. Untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas, merupakan sebuah proyek panjang kita semua. Pengorganisiran-pengorganisiran yang dilakukan sangat mungkin melalui keterlibatan kita dalam realisasi tuntutan-tuntutan normatif proletariat, namun itu bukanlah obsesi/tujuan final. Kerjasama sangatlah mungkin dengan berbagai pihak, namun sebuah konsepsi mendasar dari gerakan ini takkan mampu dikompromikan.
C. Rekomendasi bacaan
1. Anarki: Sebuah Panduan Grafis (Clifford Harper), untuk mengetahui sejarah ide anarkisme, sejarah masyarakat anarkis yang pernah terbentuk dan sejarah gerakan-gerakan anarkis yang pernah ada (Tidak Diterbitakan; bisa didapatkan dengan mengontak: affinitas@riseup.net)
2. Membongkar Mitos Revolusioner Bolshevik: Memahami Pemberontakan Kronstadt (Bag.I)
3. Marxis Otonomis (Pamflet Affinitas; bisa didapatkan dengan mengontak: affinitas@riseup.net)
4. Buletin Menuju Mayday 2007 (bisa didapatkan dengan mengontak: affinitas@riseup.net)
5. Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, Sean M. Sheehan, penerbit Marjin Kiri
6. Bagaimana Lenin Menggiring pada Munculnya Stalin (bisa didapatkan dengan mengontak: affinitas@riseup.net)
[i] Anonim, “Neo-Liberalisme”, www.wikipedia.com
[ii] ibid
[iii] Slamet, Pamudji. “Membongkar Mitos Revolusioner Bolshevik: Memahami Pemberontakan Kronstadt (Bag.I)”
[iv] Anonim, “Marxis Otonomis”, Kolektif Affinitas
[v] ibid[vi] Anonim, “Redefinisi Proletariat”, m1-2007.blogdrive.com
[vii] Herawati, Rina, “Outsourcing: Mengapa Harus Diwaspadai?”
[1] Anonim, “Jalan Revolusi”

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010