Rabu, 10 November 2010

APOKALIPS (PART 1)


ADMINISTRASI BUSH – ILUSI BARAT VERSUS ISLAM


Siapa yang lebih brutal, Saddam Hussain atau Islam Karimov? Berbagai korban yang berbeda akan saling melontarkan ketidaksetujuan dalam hal ini. Gerombolan Saddam menyetrum para musuh politiknya. Karimov, di sisi lain, menjarah banyak sekali minyak yang merupakan kemakmuran negerinya, walaupun tak memiliki alat penyetrum yang digunakan untuk menyiksa tahanan. Gerombolan Karimov ‘hanya’ merebus ‘ekstrimis teroris’ mereka—yang berupa para pelaku bisnis lokal yang menolak membayar sogokan—hingga matang.



Maka dengan demikian tak perlu dipertanyakan lagi siapa tiran yang lebih kejam. Saddam mencuri milyaran dari harta karun Irak, ia juga melancarkan ke berbagai penjuru penjarahan-penjarahan yang cukup untuk membangun baik infrastruktur maupun basis ekonomi yang membuat kekuatan Sunni yang berjumlah 40 persen dari seluruh populasi mampu berdiri tegak. Karimov, yang di tahun 1991 menjadi penguasa absolut di Uzbekistan pasca kolapsnya Uni Soviet adalah seorang yang rakus, yang mana moto personalnya mengutip dari promo lama David Bowie di MTV: “terlalu banyak pun tak akan pernah dianggap cukup”.

Uzbekistan, pemain besar dalam soal suplai energi di lautan Kaspia, adalah sebuah negeri yang secara teoritis akan dapat merealisasikan sebuah kisah tentang kemakmuran ekonomi. Ia adalah salah satu dari beberapa negeri produsen minyak mentah dan gas alam terbesar dunia. Sebagai sebuah republik dengan kota terbesarnya di Asia Tengah—Tashkent, yang di daerah tersebut merupakan satu-satunya kota yang memiliki bandara internasional dan juga sistem kereta bawah tanah—Uzbekistan memegang posisi strategis di tengah negera-negara tetangganya yang nama negerinya selalu berakhiran dengan ‘stan’, yang tak berkembang juga ekonominya hingga kini. Tetapi tidak seperti Irak-nya Saddam, setiap sen yang diraup oleh Uzbekistan atas penjualan kemakmuran negerinya, langsung masuk ke kantong pribadi Islam Karimov. Kekuasaannya berkembang melalui militsia (polisi militer) yang gemar menjarah; bukannya membayar mereka dengan harga yang pantas untuk menjaga loyalitas mereka, Karimov justru memberi kebebasan pada mereka untuk beraksi secara bebas: menjarah, merampok, memenjarakan dan bahkan membunuh semau mereka. Para militsia tersebut tidak hanya membiayai diri mereka sendiri melalui cara-cara di atas, tetapi kebebasan mereka dari segala bentuk hukum-lah yang menjamin loyalitas mereka. Setiap polisi di sana tahu pasti, bahwa tetangga-tetangga mereka akan dengan segera membunuh mereka apabila Karimov menghilang.
Uzbekistan memiliki populasi yang beragam baik secara etnik maupun politik, sebut saja misalnya kaum Uzbek, Tajik, Kazakh ataupun para yahudi Bukharan. Saat perempuan dengan rok mini menjadi pemandangan yang biasa di jalan-jalan pusat kota Khiva dan Samarkand yang sekular, daerah-daerah pedesaan seperti di lembah Ferghana menjadi markas bagi grup-grup muslim fanatik yang menjadi pendukung keras Taliban. Tetapi walau bagaimanapun juga warga Uzbekistan memiliki satu kesamaan. Tak peduli apakah engkau berbicara dengan pejuang gerilya dari Gerakan Islam Uzbekistan yang radikal, pekerja seks di bar Tashkent Sheraton atau sekedar seorang anak muda yang menenggak soda di jalanan, semua orang membenci Islam Karimov dan semua juga membenci para militsia, sebuah kekuatan yang paling meresahkan sehingga orang-orang justru menghindari kantor-kantor polisi saat mereka dirampok atau mengalami apapun yang lebih buruk.

Sejumlah besar kekuatan jajaran kepolisian Uzbekistan yang semena-mena terlihat jelas saat bagaimana mereka berusaha merepresi para perusuh anti-pemerintah yang meneriakkan yel-yel “bebas!”, menuntut diadakannya pemilihan umum dan mengakhiri korupsi legal, di kota Andizhan, lembah Ferghana pada tanggal 13 Mei 2006. Walaupun Karimov mengklaim bahwa para polisi tersebut bertindak secara otonom, harian UK Independent melaporkan bahwa, “Ia memegang komando atas situasi yang terjadi di Andizhan dari ibukota Tashkent, dan nyaris dapat dipastikan bahwa ia jugalah yang secara pribadi memerintahkan penggunaan kekuatan yang mematikan.”

Harian tersebut juga menulis, “Kerumunan massa yang mulai masif, dihabisi dengan rentetan senjata mesin 7.26 mm yang dibawa oleh mobil lapis baja buatan Russia, BTR-80. Beberapa laras senapannya dapat memuntahkan 2000 putaran dalam sekali tembak sebelum perlu untuk diisi ulang. Sebuah helikopter militer juga digunakan dalam meredam protes sementara sepasukan lainnya menembaki para demonstran menggunakan senapan serbu Kalashnikov, yang menciptakan lapangan tembak di bawahnya, yang mana dari beroperasinya BTR-80 saja sudah nyaris tak ada tempat bagi para demosntran untuk dapat melarikan diri. Para serdadu tersebut juga sempat meyakinkan diri bahwa mereka telah bertugas dengan baik. Setelah semua penembakan berakhir, mereka mendatangi korban satu persatu dan melakukan ‘tembakan kontrol’ di belakang kepala setiap orang dan menyapu bersih jalanan tersebut untuk menembak mati siapapun yang berhasil selamat.”

Pertumpahan darah tersebut dilakukan oleh Karimov atas hasil pengamatannya pada presiden sebelumnya, Askar Akayev, yang memberi perintah untuk tidak menembaki demonstran sebagai sebuah kebijakan error yang fatal, yang mengarah pada kejatuhannya di Kyrgyzstan.

Karimov mengklaim 32 militsia Uzbek dan 137 penduduk sipil tewas dalam kejadian tersebut di atas, jumlah yang ditolak oleh sistem penghitungan yang dilakukan oleh koroner lokal. “Di akhir kejadian, ratusan mayat—termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak—tersebar di lokasi tersebut,” demikian laporan dari serikat wartawan. Grup-grup pendukung hak azasi mengatakan bahwa kematian tersebut berjumlah antara 500 hingga 1000.

Jajaran resmi administrasi Bush, sangat gencar saat mempromosikan pembebasan melalui pergantian rezim di Irak, Ukraina dan, ironisnya, saat kaum muslim menggulingkan presiden Kyrgyz yang terpilih melalui pemilu, sama sekali tidak disinggung tentang pembantain Uzbek. “Pasca 9/11,” papar Newsweek, “administrasi Bush memapankan sebuah kerjasama strategis dengan Karimov, mengucurkan dana sebesar 500 milyar dollar untuk pembangunan basis militer di selatan Uzbekistan untuk mempersiapkan operasi mereka di Afghanistan, dan membayar 60 milyar dollar atau lebih setiap tahunnya untuk pelatihan dan suplai militernya.”

Bush tentu sadar benar tentang adanya catatan mengerikan Karimov di tahun 2001. Tahun itu Human Right Watch mencatat bahwa Uzbekistan memiliki tahanan politik hingga mencapai 7000 orang. Menurut mereka, “Sipir secara sistematis memukuli para tahanan dengan tongkat kayu atau karet dan meningkatkan hukuman bagi mereka yang didakwa atas tuduhan religius dengan cara memberi mereka tambahan pukulan. Penyiksaan adalah hal biasa dilakukan pada terdakwa sebelum mereka disidangkan.” George W. Bush tidak peduli. Dalam kunjungannya ke Gedung Putih, Karimov bahkan diberi sebuah sambutan kenegaraan yang terbaik.

Kini, semakin jelas bahwa Perang Melawan Terorisme yang dicanangkan oleh administrasi Bush bukanlah melawan kekuatan Islam ataupun juga ‘teroris’—mengingat bahwa pemerintahan Karimov adalah pemerintahan berbasis Islam, sekaligus pemerintahan berbasis teror. Sistem administrasi Bush mendukung agama siapapun juga termasuk apakah pemerintahannya berbasis teror atau tidak, selama hal tersebut tidak berbenturan dengan kepentingan bisnisnya, dan itu dapat terlihat jelas dalam kasus Karimov (yang uniknya, kasus Karimov ini nyaris tak pernah terdengar dan disuarakan oleh media-media di Indonesia).

Kini masih juga berpikir bahwa pendudukan Palestina, Afghanistan dan Irak adalah aksi yang berbasis pada konflik agama?

Masih berada di seputaran ilusi antara Barat versus Islam, bahkan kabar baik pun tetap saja merupakan kabar buruk.

Israel tak mampu meraih tujuannya saat berusaha menghancurkan Hisbullah setelah operasi militer dilancarkan di Libanon selama 34 hari. Militer Israel gagal memberikan pukulan mematikan, dan karena Hisbullah masih tetap berdiri tegak saat pada akhirnya PBB memerintahkan untuk diadakannya gencatan senjata pada 14 Agustus , maka dapat dikatakan bahwa Hisbullah meraih kemenangan. Imperialisme Zionis menderita kekalahan di tangan para muslim Syiah fanatik .

Di Indonesia sendiri, penentang keras atas invasi imperialisme Amerika di Afghanistan dan Irak atau pendudukan Israel terhadap Libanon dan Palestina (yang juga didukung oleh jajaran administrasi Amerika), hanyalah kelompok-kelompok muslim—mengingat kaum Kiri lokal dengan alasan tak jelas tak pernah mau terlibat dalam aksi-aksi seperti demikian (katakan, apakah kalian pernah melihat kelompok-kelompok Kiri lokal berdemonstrasi menentang invasi Israel atas Palestina, atau invasi Amerika atas Afghanistan dan Irak? Seandainya ada, itu pun hanya beberapa kelompok saja dari ratusan kelompok yang mengaku ‘Kiri’ atau kekiri-kirian yang tersebar di Indonesia). Masalah dari para penentangnya, akibat didominasi oleh kelompok-kelompok muslim yang selalu terilusi semua konflik sebagai perang antar agama, dengan demikian sebagian besar tak mau melihat dukungan terhadap para pejuang di sana melawan Amerika melampaui gambaran kekuatan Barat versus kekuatan Islam. Mereka menganggap bahwa para pejuang di sana yang bukan hanya melawan ideologi Barat dan hegemoni Amerika, melainkan melawan segala sesuatu yang non-Islam, sebagai tindakan yang baik-baik saja. Maaf, tapi lihat, apakah memang baik-baik saja saat di Afghanistan televisi dilarang, sensor keras dilakukan, perempuan dipaksa mengenakan cadar, hak mereka terhadap akses pendidikan dicabut bahkan juga sekedar untuk berjalan seorang diri ke luar rumah, atau bahkan juga membunuh mereka hanya karena soalan harga diri lelaki; yang memotong tangan mereka yang kelaparan dan terpaksa mencuri sepotong roti tapi membiarkan bebas seorang suami yang membunuh isterinya hanya karena sang isteri berani membantah perintahnya.

Mendukung para pejuang anti imperiaslime di negeri yang didominasi oleh kelompok Islam hanya karena atas nama persatuan sesama muslim adalah sesuatu yang konyol, semenjak semua yang diinginkan oleh para fanatik adalah membangun pemerintahan gaya Taliban dan memaksakan hukum syariah versi Saudi/Wahabbiyah di seluruh pelosok negeri. Mereka ingin memaksa setiap orang mengkuti aturan Islam a la mereka dengan melakukan sensor dan mengeliminasi media—termasuk menghabisi kelompok-kelompok muslim lain yang berbeda visi dalam memahami kitab suci Al Qur’an dengan mencap mereka sebagai “aliran sesat”. Bisa dikatakan, Taliban, rezim Saddam, adalah elemen reaksioner paling berbahaya di kalangan Islam—tapi sekaligus paling membius di kalangan muslim Indonesia.

Memang, bertentangan dengan opini umum di kalangan kaum Kiri Indonesia yang menyama ratakan perilaku para muslim fanatik tersebut dengan fasisme, adalah juga sebuah error konyol. Sistem yang diinginkan untuk diaplikasikan oleh para muslim fanatik tersebut bukanlah sekedar Stalinisme (atau fasisme) yang mengenakan jubah Muhammad. Fasisme memanfaatkan kontrol negara demi kepentingan bisnis, Stalinisme memaksa setiap bisnis untuk beroperasi demi kepentingan negara, sementara para muslim fanatik tidak tertarik dalam mengontrol jalur ekonomi selama produk-produknya tidak bertentangan dengan syariah (minuman keras dan media yang mengumbar tubuh perempuan, misalnya). Bagaimana corak produksi dilakukan, apakah sebuah proses produksi dikontrol oleh seorang majikan dengan mengeksploitasi para pekerja atau apakah seluruh kontrol produksi ada di tangan pekerjanya sendiri, itu bukan sesuatu yang penting. Gejala fasisme dapat dilihat bukan pada mereka, melainkan justru pada gerakan-gerakan yang berusaha memperkuat nasionalisme Indonesia atau mereka yang bermimpi ingin mengembalikan kekuasaan a la Sukarno. Sementara gejala Stalinisme dapat dengan mudah dilihat pada rata-rata program pemerintahan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok Kiri lokal. Tapi itu adalah masalah-masalah lain yang tak akan dibahas di sini, karena juga membutuhkan sebuah artikel khusus sendiri. Pada intinya, gerakan kaum muslim fanatik bukanlah gerakan fasisme ataupun Stalinisme berjubah Muhammad.

Itu alasan-alasan mengapa kemenangan kaum muslim fanatik yang sedianya adalah kabar baik, tetap saja merupakan sebuah kabar buruk.

Kini kita telah sampai pada titik tersulitnya. Memang tak ada alasan untuk tidak bekerja keras menentang pendudukan Israel atas negeri Palestina yang didominasi muslim, mendukung penarikan mundur pasukan multinasional di Irak, melawan berbagai kebijakan luar negeri Amerika yang juga ditolak keras oleh para muslim radikal ataupun bahkan membangun aksi penolakan Bush saat ia berniat berkunjung ke Bogor, walaupun itu artinya bahwa ada celah kemenangan yang akan dapat dimanfaatkan oleh para muslim fanatik tersebut untuk mendapat angin dalam upaya mereka menggolkan sistemnya di Indonesia dan juga di setiap penjuru dunia. Invasi Amerika memang telah busuk dari awalnya, yang dilakukan atas pembenaran kasus 9/11 melawan terorisme, untuk menutupi strategi bisnis dalam penguasaan ladang minyak Timur Tengah dan Asia Tengah. Program ekonomi Amerika yang dikembangkan oleh Bush juga telah sedari awalnya memuakkan, bahkan sebelum Bush berkuasa. Indonesia sendiri juga telah dikuasai nyaris sepenuhnya oleh berbagai sistem politik-ekonomi luar negeri dari administrasi Bush, dan demi kehidupan yang lebih baik, sudah seharusnya kita menghambil sikap. Tetapi melawan imperialisme tersebut jelas tidak lantas berarti juga mendukung faksi-faksi horror yang mempopulerkan perang suci fase baru dengan cara menghancurkan apapun yang non-Islam, tapi juga tidak dengan mengambil posisi a la kaum Kiri lokal, yang menolak melakukan aksi protes saat kejadian seperti demikian muncul hanya karena mereka tahu akan adanya alasan-alasan di atas dan berkata bahwa hal tersebut, “bukan isu mereka” atau “tidak berkaitan dengan hidup mereka sehari-hari”.

Seperti telah dikatakan tadi, ini titik tersulit yang harus dihadapi di Indonesia. Ngomong-ngomong, kita juga tidak mungkin memilih untuk tak peduli dan menolak mengambil sikap, semenjak setiap tindak apatisme artinya adalah mendukung siapapun yang paling dominan. Diam, artinya membenarkan yang dominan. Atau mengutip kalimat Howard Zinn, “Kita tak dapat bersikap netral di atas sebuah kereta yang sedang bergerak.”

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Sundanese Attack Free Blogspot Templates Designed by sYah_ ID RAP for smashing my Life | | Free Wordpress Templates. Cell Numbers Phone Tracking, Lyrics Song Chords © 2010